Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tanah Gerak Rusak Ratusan Rumah di Tegal dan Semarang

P
Tim relawan BPBD Kabupaten Tegal mengangkat lemari milik warga dari rumah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kemarin (10/2).
Tim relawan BPBD Kabupaten Tegal mengangkat lemari milik warga dari rumah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kemarin (10/2).

KOTA SEMARANG – Di Kabupaten Tegal dan Kota Semarang, Jawa Tengah, dinding rumah terbelah, lantai menganga, dan satu per satu keluarga memilih mengemas barang seperlunya untuk berjaga jika sewaktu-waktu harus pergi. Semua dipicu apa yang disebut sebagai tanah gerak. Di Kampung Sekip Sapta Marga III RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli Kota Semarang, Jawa Tengah, retakan pada dinding itu memanjang nyaris tanpa suara. Warga harus berkali-kali menatap langit setiap awan tak menentu, seolah hujan menjadi penanda kemungkinan retakan kembali bergerak. Dwi Widarto, yang tinggal bersama ibu dan adiknya di rumah yang kini tak lagi bisa dipakai bermalam, harus bolak-balik dari Mranggen Kota Semarang, tempat keluarganya mengungsi sementara, sekadar untuk menengok kondisi bangunan.


Advertisement

"Awalnya terasa sejak malam Natal tahun lalu, belum apa-apa. Januari mulai kelihatan retakannya melebar tiap hari. Hujan terus tambah parah, kayunya lepas, pakunya copot, asbesnya miring," tutur pria 35 tahun itu. Pantauan Radar Semarang Grup Jawa Pos kemarin (10/2) pagi, garis retakan di rumah Dwi membentang kurang lebih 30 meter dari titik awal. Di beberapa titik, ubin terangkat dan pintu tak lagi bisa ditutup rapat.

Jalan kampung yang biasanya menjadi jalur lalu lalang warga kini sebagian ditutup. Informasi yang dihimpun Radar Semarang Grup Jawa Pos, hujan yang turun berhari-hari pada awal Februari menjadi pemicu utama.

Pergerakan tanah pertama kali terpantau sekitar 7-8 Februari 2025. Dalam hitungan hari, jumlah rumah terdampak bertambah. Semula sepuluh, lalu meningkat menjadi 15 unit setelah retakan kembali melebar pada malam berikutnya. Dua rumah dilaporkan roboh, sementara lainnya mengalami kerusakan serius.

Advertisement

 

 

Derit di Malam Hari

Dwi yang menempati lokasi sejak 2011 itu mengaku kerap mendengar bunyi kayu berderit di malam hari. Suara kecil yang justru membuat ibunya tak lagi berani tidur di rumah. Ia memperkirakan pergeseran tanah di sekitar rumahnya sudah mencapai dua meter. Tiang sisi kanan terangkat, sementara sisi kiri ambles.

Advertisement

Dari seluruh perabot, hanya televisi yang sempat dibawa. Selebihnya dibiarkan tertinggal bersama rumah yang kini lebih sering ia kunjungi daripada dihuni.

Cerita serupa datang dari Supriyati, 52, warga yang telah tinggal lebih dari tiga dekade di kampung tersebut. Baginya, tanah bergerak bukan hal baru, tetapi kali ini terasa berbeda. "Kalau dulu pernah, tapi sekali saja dan tidak separah ini. Sekarang tiap hujan pasti jalan pelan-pelan. Sedikit-sedikit tapi terus," ujarnya.

 

Percepat Relokasi

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) mempercepat langkah relokasi ribuan warga terdampak bencana tanah gerak di Desa Padasari Kabupaten Tegal. Sejumlah calon lahan relokasi kini tengah dikaji secara geologi.

"Kami sedang melakukan asesmen geologi terhadap empat lokasi, terdiri dari tiga calon lahan relokasi dan satu lokasi pondok pesantren eksisting milik Perhutani yang direncanakan menjadi tempat relokasi," ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah Agus Sugiharto seperti dikutip dari situs resmi Pemprov Jateng kemarin.

Kajian tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi bencana pada Jumat (7/2) pekan lalu. Selain itu, asesmen juga menindaklanjuti permohonan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Tegal. Di kesempatan terpisah, mengenai penyebab tanah gerak di Tegal, Agus menyebut, terjadi karena fenomena creeping atau rayapan tanah. Menurutnya, kesimpulan tersebut didapatkan dari hasil investigasi dan kajian di lapangan. "Jadi, lapisan tanahnya itu jenisnya clay atau lempung, kemudian kena air merayap. Pelan-pelan geraknya," kata Agus seperti dikutip dari Antara. (fgr/idr/ttg/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang sudah melanda Indonesia. Di banyak daerah, hujan sudah beberapa pekan belum mengguyur. Pemerintah memberikan perhatian ke sektor pertanian supaya tetap bisa produksi. Caranya dengan menyiapkan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer