JAGOSATU.COM - Tindakan kriminalitas telah menjadi masalah yang serius di seluruh dunia, terutama pembunuhan yang dianggap sebagai tingkat kejahatan tertinggi. Di Indonesia, kasus mutilasi Sleman mengejutkan publik dan masih dalam penyelidikan.
Tingkat kriminalitas, terutama pembunuhan, menjadi perhatian serius karena dapat mengancam keamanan negara. Data dari World Population Review (WPR) mengungkap sepuluh negara dengan tingkat kejahatan tertinggi, termasuk kasus pembunuhan.
Venezuela mendominasi daftar dengan indeks kejahatan sebesar 83,76 persen, diikuti oleh Papua Nugini (80,79 persen), Afrika Selatan (76,86 persen), Afganistan (76,31 persen), Honduras (74,54 persen), Trinidad dan Tobago (71,63 persen), Guyana (68,74 persen), El Savador (67,79 persen), Brasil (67,49 persen), dan Jamaika (67,42 persen).
Amerika Serikat menempati posisi pertama dalam kategori pembunuhan berantai tertinggi berdasarkan data kasus pembunuhan di seluruh dunia selama 2023.
Kasus pembunuhan di berbagai negara sering kali mengerikan dan sadis, di mana beberapa pelaku bahkan melibatkan kanibalisme setelah membunuh korbannya.
Berikut pembunuhan paling sadis yang pernah terjadi di dunia selama 2023, dirangkum dari berbagai sumber:
Penembakan Brutal Amerika Serikat
Sejak awal 2023 tercatat Amerika Serikat (AS) menjadi negara dengan tingkat kejahatan dalam pembunuhan paling tinggi dan mengerikan. Terhitung sejak 2014 hingga 2023 terjadi kasus penembakan massal secara brutal yang melonjak dengan tajam.
Sebelumnya warga California pada Senin, 23 Januari 2023 dikejutkan dengan seorang pria bersenjata yang menembaki dua tempat pembibitan tanaman di Half Moon Bay, dari kejadian itu menewaskan setidaknya tujuh orang dan satu orang terluka.
Di tempat lain yang berjarak sekitar 65 km dari tempat kejadian pertama, terjadi penembakan kembali di SPBU Oakland mengakibatkan tujuh orang terluka dan menewaskan satu orang.
Dari kasus penembakan yang sering terjadi di AS, umumnya terjadi di tempat umum seperti sekolah, bar, atau mall. Penyebabnya diketahui jika negara ini memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan senjata.
Menurut Adam Lankford seorang professor Ilmu Kriminal di Unversitas Alabama dalam penelitiannya mengatakan motif penembakan dan pembunuhan di AS diakibatkan karena legalnya dalam memiliki senjata api.
Selain itu menurut beberapa studi kebanyakan pelaku penembakan di AS mengalami gangguan kejiwaan. Namun dengan fenomena penembakan dengan cara disengaja ini juga dianggap sebagai tindakan menjiplak karena bebasnya akses untuk memiliki senjata secara pribadi.
Pembunuhan Abby Choi
Kasus pembunuhan kali ini terbilang sadis dan cukup menghebohkan publik Hong Kong. Diketahui seorang model dan sosialita yang berusia 28 tahun bernama Abby Choi ditemukan terbunuh pada 24 Februari 2023.
Sebelumnya Abby Choi dinyatakan menghilang selama tiga hari, hingga dirinya ditemukan di desa Tai Po dengan keadaan sudah tidak bernyawa. Lebih parahnya ketika jasad Abby Choi ditemukan dengan tubuh tanpa kepala, dan beberapa bagian tubuhnya disembunyikan di dalam lemari es. Mengerikannya lagi jika diketahui bagian kepala Abby Choi ditemukan di dalam panci sup dan telah dimasak.
Motif pembunuhan Abby choi disinyalir karena permasalahan finansial, dan dari kasus tersebut telah ditetapkan lima tersangka. Dalang dari pembunuhan tersebut tidak lain adalah mantan suami, mertua, ipar laki-laki dan diduga juga simpanan mantan ayah mertuanya.
Kasus Mutilasi Sleman Mahasiswa UMY
Tidak hanya warga Sleman yang heboh karena dikejutkan dengan kejadian pembunuhan terhadap korban seorang Mahasiswa Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY), namun se-Indonesia raya juga turut pilu dalam mengikuti kasus tersebut.
Bagaimana tidak, sejak kasus tersebut mencuat pada 12 Juli 2023 lalu, hingga kini masih terus dilakukan pendalaman. Diketahui sebelumnya ditemukan potongan tubuh manusia di Turi, Sleman, Jogjakarta, beberapa hari kemudian ditemukan lagi potongan tubuh lain seperti kepala dan tangan di Merdikorejo.
Dari hasil investigasi telah ditetapkan dua pelaku yakni Waliyin (29) dan RD (38) yang merupakan rekan korban yang dikenal melalui sosial media. Dari keterangan keduanya diketahui jika korban bernama Redho Tri Agustian (20) seorang mahasiswa UMY dibunuh dan dimutilasi dengan dalih sebagai bentuk menghilangkan jejak. Lebih sadisnya lagi anggota tubuh korban juga direbus pelaku dan diduga jasadnya dimakan.
Motif pembunuhan hingga kini masih belum terungkap, hanya saja sedikit telah menemukan titik terang. Semenjak dugaan awal korban dan dua pelaku tergabung dalam sebuah komunitas tidak wajar.
Dari kasus tersebut kini dua pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dikenai hukuman dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.
Editor : Toar Rotulung