JAGOSATU.COM - Perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir kini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi padi. Kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi menuntut langkah mitigasi yang adaptif, terukur, dan berbasis data agar risiko gagal panen dapat ditekan secara maksimal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan ancaman nyata terhadap produktivitas pertanian. Ketidakpastian musim tanam, meningkatnya frekuensi banjir, hingga potensi kekeringan di luar pola normal dinilai dapat mengganggu ketahanan pangan jika tidak diantisipasi secara serius.
“Kita harus melakukan mitigasi risiko agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan,” ujar Mentan Amran dalam keterangannya.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan bahwa perubahan iklim ekstrem meningkatkan risiko gagal panen akibat fluktuasi suhu, perubahan pola curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ancaman nyata bagi pertanian Indonesia dan membutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Arahan Menteri Pertanian, kata Idha, menempatkan peningkatan kompetensi petani dan penyuluh sebagai kunci utama menghadapi tantangan iklim.
“Diperlukan penguatan kapasitas SDM pertanian yang adaptif terhadap iklim sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 dengan tema Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi, Sabtu (24/1/2026). Forum ini menjadi wadah strategis untuk meningkatkan literasi iklim serta memperkuat kapasitas petani, penyuluh, dan generasi muda pertanian dalam merespons risiko cuaca ekstrem.
Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa, penyuluh pertanian, serta petani dari berbagai daerah. Melalui forum ini, peserta diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikan strategi tanam cerdas berbasis iklim di lapangan guna meminimalkan dampak hujan ekstrem dan potensi banjir terhadap produksi pangan.
Untuk memperkaya perspektif, forum menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Di antaranya Prof. Dr. Antonius Suparno dari Fakultas Pertanian Universitas Papua, pengamat meteorologi dan geofisika Fadri Prasetya, serta Sekretaris Brigade Pangan Sejahtera 1 Feri Irawan.
Prof. Antonius menekankan pentingnya penguasaan ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam strategi tanam. Menurutnya, pemanfaatan data cuaca dan prediksi iklim menjadi kunci utama dalam mengantisipasi risiko perubahan iklim di sektor pertanian.
“Dengan memahami prediksi cuaca, petani dapat melakukan antisipasi dini. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena nyata yang sudah terjadi,” jelasnya.
Sementara itu, Fadri Prasetya menjelaskan bahwa mitigasi perubahan iklim harus dilakukan secara terpadu. Upaya tersebut mencakup pembangunan infrastruktur pengendali banjir, normalisasi sungai, penerapan sistem peringatan dini, hingga pendekatan adaptasi berbasis alam.
“Perubahan iklim adalah threat multiplier. Kesiapsiagaan dan perubahan perilaku terhadap alam menjadi investasi penting bagi keberlanjutan pertanian,” paparnya.
Berbagi pengalaman lapangan, Feri Irawan menekankan pentingnya percepatan pengolahan lahan dan ketepatan waktu tanam sebagai strategi utama menjaga produktivitas padi di tengah cuaca ekstrem. Ia menyebut dukungan pemerintah melalui penyediaan alat dan mesin pertanian serta keterlibatan swasta telah mempercepat proses olah lahan, sehingga petani tidak kehilangan momentum masa tanam yang krusial.
Menutup kegiatan, Kepala Pusat Pendidikan Muhammad Amin menegaskan bahwa tema forum sangat relevan dengan kondisi curah hujan tinggi di berbagai wilayah. Ia menilai strategi adaptif menjadi kunci keberlanjutan program swasembada pangan nasional.
“Swasembada pangan harus berkelanjutan dan didukung strategi adaptif. Banjir dan iklim ekstrem tidak boleh menghentikan produksi. Jika satu lokasi terkendala, potensi lahan lain harus dioptimalkan,” ujarnya.
Editor : Toar Rotulung