
JAGOSATU.COM -Desa Wisata Budo siap Go Internasional.
Mereka akan tampil di Belanda.
Kok bisa? Desa Budo terletak di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Tak ada yang kenal desa ini.
Kumuh dan tertinggal.
Hanyalah desa nelayan yang tak memiliki prospek berarti.
Baca Juga: USAID Kucurkan Dana 50 Juta Dolar AS untuk Mewujudkan Akses Air Bersih bagi Masyarakat Indonesia
Dari 125 desa di Minut, mungkin Budo paling terkebelakang.
Tapi, itu dulu.
Budo lalu bangkit.
Itu dimulai pada 2017.
Hany Lourens Singa, Hukum Tua Desa Budo saat itu mulai mengubah wajah desanya.
Ia sudah bertekad akan menyulap Budo sebagai desa wisata.
Ia menggunakan dana desa.
Baca Juga: Taeyeon Terharu dengan Bukti Cinta Pisang dari Penggemar Indonesia
Perlahan tapi pasti ia berbenah.
Ia memanfaatkan kinerja Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Lalu membuat perencanaan pembangunan infrastruktur desa dan tentu saja membangun Sumber Daya Manusia (SDM).
Hany sadar ia tak akan berhasil jika hanya mengandalkan internal desa semata.
Itulah sebabnya, ia membuka kerjasama dengan berbagai lembaga pendidikan, baik itu negeri maupun swasta.
Tekadnya hanya satu, mempercepat transformasi desa.
Melalui perjuangan panjang nan melelahkan, ternyata membuahkan hasil.
Padahal banyak sekali tantangan yang harus dilalui.
Secara perlahan namun pasti Desa Budo berkembang.
Tidak saja berkembang dari sisi infrastruktur, tapi juga kualitas SDM.
Dan tentu kemudian menjelma menjadi desa wisata.
Hany Lourens Singa mengaku semua usaha itu akan sia-sia tanpa dukungan penuh masyarakat.
Karena warganya memang hendak berubah, maka segala niat dan rencanya bisa diwujudkan.
Warga Desa Budo sudah bertekad, desanya harus menjadi Desa Wisata.
Salah satu potensi yang digali Hany Lourens Singa adalah asrinya hutan mangrove di kawasan itu.
Apalagi desanya memang berada di lokasi yang strategis, berhadapan langsung dengan 3 spot selam, dekat dengan Bunaken dan Manado Tua.
‘’Memang lokasi ini kami pilih, karena sejak dulu sudah ada ada tambatan perahu warga.
Selain itu banyak orang yang suka datang menyelam di sini. Maka kawasan ini jadi prioritas dibangun,” beber Hany Rabu (19/7).
Perjuangan dan pengorbanan mereka tidaklah sia-sia.
Sejak 2021, mulai banyak wisatawan lokal melirik Budo.
Awalnya lima orang datang dan kemudian mereka pulang memberi kesaksian kepada orang-orang luar.
Sejak itu, Budi viral. Kini kebanjiran pengunjung.
Masyarakat sadar, bahwa Minut adalah salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.
Ini pula salah satu yang memicu semangat warganya untuk memanfaatkan status tersebut.
Meski fokus DPSP adalah Likupang, Budo tak mau diam.
Hasilnya kini mulai dirasakan warga.
Akibat kunjungan wislok dan wisman yang makin hari terus bertambah, secara otomatis pula perekonomian masyarakat meningkat.
Warung-warung kecil, kios makanan dan minuman dan parkiran kian menggeliat.
Secara otomatis pula Desa Budo yang kian berkembang menitikberatkan pada pengembangan lokasi desa wisata, UMKM hingga homestay.
Sebab, selain kemudahan mencari makanan, wisman dan wislok juga butuh cenderamata dan tentu saja tempat tinggal selama berkunjung ke desa itu.
Perkembangan Desa Budo ini memantik perhatian Pemkbat Minut.
Budo lalu diikutkan pertama kalinya pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Eh, tak disangka masuk 400 besar menyingkirkan sekira 1000 desa lainnya se Indonesia.
Di ajang ini Desa Budo menunjukkan taringnya. Setelah dilakukan evaluasi, pada 2022, Budo bersinar di ADWI menjadi pemenang Kategori Digital Transformasi.
Meng-Indonesialah Desa Budo.
Lalu disematkan menjadi Desa Wisata Budo.
Sejak itu, Desa ini terus menarik kalangan pencong lokal.
Mula-mula baru sekitar Sulut.
Lalu berkembang sampai penjuru Indonesia.
Kini malah namanya menggeliat di pentas dunia.
Efek kemajuan Desa Wisata Budo pun merembet pada sosok Hany Laurens Singa.
Ia banjir undangan untuk mengunjungi daerah lain untuk membuat perban dingan dan diundang pada berbagai forum tingkat nasional maupun internasional.
Ia diminta berbicara tentang Desa Budo.
Berkat itulah kemudian Desa Budoi terendus Belanda. Kini siap-siap Go International.
Mereka kini sedang berjuang agar bisa menghadiri event internasional, Discovering The Magnificence of Indonesia Expo di Amsterdam, Belanda pada 24-26 November 2023 mendatang.
Budo wajib bangga ikut pameran akbar itu.
Dari seluruh Indonesia, dialah satu-satunya Desa di Sulut yang diundang, bersama 20 desa lainnya di tanah air.
Hanya saja masih tetap ada kendala.
Karena akan keluar negeri, maka dibutuhkan dana besar.
saat ini warganya sedang berjuang untuk mengumpul dana guna membiayai perjalanan ke Belanda dan ongkos ikut pameran di Negeri Kincir Angin.
Kendati tidak menyebut angka, dana yang dibutuhkan lumayan besar.
‘’Biayanya memang di mata kami itu angka yang besar.
Itulah sebabnya kami sedang berjuang agar bisa ke Belanda.
Sayang jika Desa Wisata Budo tidak hadir di situ.
Apalagi program ini tidak tiap tahun dilaksanakan.
Peluang kita besar dan yang dibawa tidak hanya nama desa, tapi juga kabupaten, Provinsi dan tentu saja Indonesia,” tutur Hany.
Selain sedang menggerakan warganya untuk terus berpacu mencari pendanaan ikut pameran di Belanda, Hany tak memungkiri sangat berharap ada pihak yang Ikhlas membantu niat Desanya hadir di ajang internasional di Amsterdam. ‘’Semoga ada yang mau mengulurkan tangan.
Entah itu dari pihak pemerintah, swasta maupun peroranga.
Kami harus hadir di Belanda November nanti.
Bagaimanapun caranya.
Ini peluang yang tak boleh dilepas.
Jika kita bisa ikut pameran di Belanda.
maka ke depannya, akan mudah bagi kita menjual potensi wsiata Budo.
Semoga ada sponsor yang berbaik hati,’’ harap Hany.(mpd)

