JAGOSATU.COM – Para petani di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, tidak hanya berurusan dengan alat pertanian seperti biasanya, tetapi juga ahli dalam permainan golf.
Desa Pancasari memiliki ciri khas unik, di mana petani-petani setempat telah memadukan kesehariannya dengan olahraga golf.
Terletak di sekitar area yang dikenal dengan nama Bali Handara, lapangan golf yang cukup terkenal ini menjadi tempat favorit bagi para petani untuk bermain dan bahkan mengadakan turnamen golf, seperti yang baru saja berlangsung pada Senin (7/8).
Lapangan hijau Bali Handara yang berlokasi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, terlihat hidup dengan aktivitasnya.
Para caddy tampak sibuk mengoperasikan buggy atau mobil golf, mengantar dan menjemput para pegolf yang tengah bermain.
Para pemain, dengan semangat dan persiapan yang matang, tampak memadukan peralatan dan pakaian dengan sangat baik, menunjukkan kemahiran dalam mengayun stik golf dan memukul bola, tak kalah dengan atlet golf profesional.
Namun yang menarik, pukulan hebat tersebut berasal dari seorang petani.
Ternyata, para pemain yang bermain di lapangan golf sejak pagi hari adalah para petani dari Desa Pancasari. Mereka mengambil bagian dalam turnamen Happy Golf, sebuah ajang yang diikuti oleh para petani dan buruh di sekitar desa.
Sebagian besar dari penduduk kami, sekitar 90 persen, adalah petani. Meskipun pekerjaannya bercocok tanam, seperti bercocok tanam bunga, sayur-sayuran, stroberi, dan peternakan, kata Wayan Komiarsa, Kepala Desa Pancasari.
Walau mereka memiliki profesi sebagai petani, keterampilan mereka dalam bermain golf tidak bisa diremehkan. Bagi mereka, bermain golf bukanlah hal yang mustahil.
Walaupun olahraga ini dianggap mahal, dari segi peralatan, biaya lapangan, dan biaya pelatihannya, tapi sekarang citra petani sudah berubah. Mereka telah bertransformasi menjadi petani modern yang juga bisa terlibat dalam olahraga elit, tambahnya.
Para petani ini membuktikan bahwa menjadi seorang petani tidak menghalangi mereka untuk mengejar hobi dan bakat lain.
Dengan memegang stik golf, mereka tampil dengan percaya diri di lapangan golf seperti pemain berpengalaman.
Salah satu petani, Komang Sunada, 52 tahun, berkata, Saya sudah bermain golf sejak usia 18 tahun.
Ia juga seorang petani stroberi di Dusun Lalanglinggah, Desa Pancasari. Setiap harinya, ia menghabiskan waktu di kebun strawberry dan kemudian bermain golf di lapangan Bali Handara mulai pukul 13.00 hingga sore hari.
Kami bermain bersama komunitas Happy Golf. Anggotanya mayoritas petani dan buruh di Desa Pancasari, jelasnya.
Sunada mengungkapkan bahwa meskipun peralatannya masih standar, namun ia sangat menikmati permainannya.
Meskipun olahraga golf dianggap mahal, komunitas petani Pancasari tetap memilih untuk mengejar hobi ini.
Baca Juga: Dorongan Insentif PPN Mendorong Lonjakan Penjualan Mobil Listrik
Peralatan berpengaruh pada permainan. Semakin mahal alatnya, semakin baik permainannya. Tapi saya petani, jadi belum bisa membeli yang lebih mahal. Mungkin suatu hari jika hasil panen baik, saya bisa membeli yang lebih baik, ujarnya.
Sunada bukanlah pemain baru dalam dunia golf. Sejak usia muda hingga kini, ia masih tetap aktif bermain golf, bahkan pernah bermain di beberapa lapangan golf lain di Bali.
Turnamen golf ini juga melibatkan anak-anak dalam kategori junior, menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan bakat dan mencari bibit-bibit atlet golf potensial di kalangan petani.
Ketua Panitia Turnamen Happy Golf, Ketut Leon, mengungkapkan, Kami berharap melalui turnamen ini, akan muncul bibit-bibit atlet golf yang bisa berprestasi di tingkat nasional hingga internasional, sehingga membawa nama baik bagi desa Pancasari dan Bali.(jpg)
Editor : Aryanti Sasamu