Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

IHSG Anjlok Tertekan Sentimen Negatif Domestik

Pratama Karamoy • Kamis, 4 Juni 2026 | 15:14 WIB
MAKIN TERPURUK: IHSG ditutup anjlok 254,36 poin atau 4,11 persen menjadi 5.941 kemarin (3/6). Pelemahan dipicu merosotnya seluruh sektor saham, di antaranya sektor material dasar anjlok 9,05 persen, sektor energi melemah 5,61 persen, dan sektor infrastruktur terkoreksi 5,05 persen. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
MAKIN TERPURUK: IHSG ditutup anjlok 254,36 poin atau 4,11 persen menjadi 5.941 kemarin (3/6). Pelemahan dipicu merosotnya seluruh sektor saham, di antaranya sektor material dasar anjlok 9,05 persen, sektor energi melemah 5,61 persen, dan sektor infrastruktur terkoreksi 5,05 persen. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

 

JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengalami tekanan berat pada perdagangan kemarin (3/6). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941. Koreksi tajam tersebut dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong investor memilih keluar dari aset berisiko. Praktisi pasar modal Hans Kwee menjelaskan, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor sebelumnya berharap perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menghasilkan kemajuan yang dapat meredakan ketegangan di kawasan sekaligus menjamin kelancaran distribusi energi global. "Ketidakjelasan tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi. Kondisi itu memicu kekhawatiran inflasi global akan bertahan lebih lama sehingga bank-bank sentral utama dunia berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih panjang," paparnya.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan sektor eksternal nasional di tengah tekanan global yang meningkat. Selain itu, investor masih menunggu hasil tinjauan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P). Pasar khawatir S&P mengikuti langkah lembaga pemeringkat lainnya yang sebelumnya merevisi outlook Indonesia menjadi lebih rendah.

Sentimen negatif juga datang dari pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang akan mengelola skema ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis. Menurut Hans, sebagian investor masih menunggu kejelasan teknis implementasi kebijakan tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas ekspor nasional. "Pelaku pasar masih menunggu detail pelaksanaannya. Ketidakpastian seperti ini membuat investor cenderung menahan diri," ujarnya.

Baca Juga: AS Ancam Tarif Tambahan 10 Persen untuk Produk RI, Hasil Investigasi Praktik Kerja Paksa

Asing Cermati Konsistensi Kebijakan

Ia menambahkan, investor asing saat ini juga mencermati konsistensi kebijakan pemerintah, tata kelola program-program strategis nasional, termasuk Danantara, serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal dan defisit anggaran. Menurut Hans, komunikasi kebijakan yang belum sepenuhnya seragam turut meningkatkan volatilitas pasar. "Pasar membutuhkan kepastian. Ketika muncul pernyataan yang berbeda-beda dari para pejabat, investor menjadi sulit membaca arah kebijakan pemerintah," jelasnya.

Tekanan psikologis pasar juga bertambah setelah muncul kabar pergantian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) serta isu penegakan hukum yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, Hans menilai koreksi tajam IHSG lebih banyak dipengaruhi faktor sentimen jangka pendek dibanding kan perubahan fundamental ekonomi nasional. Ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif solid dengan pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5 persen, inflasi yang terkendali sesuai target Bank Indonesia, serta posisi fiskal yang masih terjaga.

Ke depan, Hans tetap optimis terhadap prospek pasar saham Indonesia. IHSG berpeluang kembali menguat apabila ketegangan geopolitik mereda dan kepastian kebijakan pemerintah semakin jelas. "Untuk jangka menengah dan panjang, prospeknya masih positif. Yang dibutuhkan pasar saat ini adalah kepastian dan kejelasan arah kebijakan," pungkasnya. (mim/dio)

Editor : Pratama Karamoy
#Ekonomi & Bisnis #IHSG