JAGOSATU.COM - Pemerintah telah memulai distribusi bantuan pangan beras tahap kedua pada hari Senin (11/9).
Bantuan berupa 10 kilogram beras ini akan diberikan kepada 21,353 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selama tiga bulan ke depan sebagai bagian dari upaya untuk mengendalikan inflasi pangan.
Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk intervensi yang diperlukan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beras.
Selain itu, bantuan pangan ini juga bertujuan untuk membantu mengendalikan inflasi di berbagai daerah, sesuai dengan arahan dari Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya, tahap pertama bantuan pangan beras telah disalurkan antara April dan Juli 2023, dengan target 21,353 juta KPM di 38 Provinsi.
Total beras yang telah didistribusikan mencapai 640 ribu ton, hasil dari kerja sama yang erat antara berbagai pihak, termasuk kementerian/lembaga, BUMN, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, lembaga kemasyarakatan, serta Satgas Pangan Polri.
Arief menekankan pentingnya program bantuan beras yang digagas oleh Presiden Joko Widodo ini, karena memiliki dampak positif dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan nasional.
Program ini dirancang untuk memberikan efek berantai, khususnya dalam pengendalian inflasi nasional.
Arief juga menyoroti pentingnya pemeriksaan data penerima bantuan pangan beras untuk meminimalkan kesalahan dan memastikan bahwa bantuan tersebut tepat sasaran.
Dia juga menekankan pentingnya efisiensi dalam pengiriman, terutama untuk daerah Tertinggal, Terluar, Terdepan, dan Perbatasan (3TP), dengan tujuan untuk mempercepat pengiriman bantuan agar sampai ke penerima dengan cepat.
"Dengan adanya bantuan pangan beras yang diberikan kepada masyarakat, diharapkan dapat menekan harga di pasar, terutama karena program ini berlangsung selama tiga bulan dan setara dengan sekitar 7 hingga 8 persen dari kebutuhan beras.
Kami akan terus berupaya untuk menjaga harga beras di pasar sehingga masyarakat tidak perlu khawatir melakukan pembelian panik," tambah Arief.(jpg)
Editor : Via Ponamon