Jagosatu.com - BAE Systems melaporkan pertumbuhan penjualan sebesar 11 % tahun ke tahun di semester pertama 2025, mencapai £14,6 miliar.
Laba operasional (EBIT) BAE Systems meningkat 13 % menjadi sekitar £1,55 miliar di periode yang sama.
Perusahaan berhasil meraih kontrak baru senilai £13,2 miliar di paruh pertama 2025, memperkuat backlog menjadi sekitar £75,4 miliar.
Akibat capaian ini, BAE Systems menaikkan proyeksi penjualan tahunan menjadi pertumbuhan 8 %–10 % dari sebelumnya 7 %–9 %.
Prediksi EBIT juga ditingkatkan menjadi naik 9 %–11 % dibanding forecast sebelumnya 8 %–10 %.
Chief Executive Charles Woodburn menyebut bahwa lonjakan permintaan pertahanan global menjadi katalis bisnis utama.
Baca Juga: BRICS dan AI: Indonesia Masuk, Dunia Siap Atur Kecerdasan Buatan?
Portofolio BAE yang beragam—dari satelit pelacak rudal hingga kapal selam nuklir—menjadi daya tarik utama klien global.
Segmen Platforms & Services mencatat kinerja EBIT lebih tinggi hingga 21 % melampaui ekspektasi pasar.
BAE mengantongi kontrak senilai US$1,2 miliar dari U.S. Space Systems Command untuk satelit pelacak rudal bagi U.S. Space Force.
Sebuah kontrak support services senilai US$800 juta dengan Angkatan Udara AS juga turut meningkatkan pendapatan unit militer BAE.
Backlog catatan kontrak yang mencapai £75,4 miliar menjadikan pendapatan BAE terlihat hingga beberapa tahun ke depan.
Divisi sistem elektronik BAE mencatat penjualan dan EBIT unggul berkat upgrades avionik dan sistem peperangan elektronik.
Program GCAP (Global Combat Air Programme) antara Inggris, Italia, dan Jepang menerima tambahan pendanaan UK senilai £1 miliar.
BAE juga terlibat dalam proyek kapal selam kelas Dreadnought untuk Royal Navy yang terus mencapai milestone penting.
Kapal selam SSN‑AUKUS produksi BAE akan memperkuat kemitraan pertahanan trilateral antara Inggris, AS, dan Australia.
Perusahaan menyatakan bahwa peningkatan belanja pertahanan dunia menjadi faktor utama mempercepat akuisisi kontrak baru.
CEO menegaskan bahwa diversifikasi produk dan lokasi geografis memberi keuntungan dalam ketidakpastian geopolitik.
Kinerja segmen Maritime yang mendukung operasional laut dan proyek drone tak berawak juga menjadi sorotan kuat.
BAE mempertahankan target arus kas bebas (free cash flow) di atas £1,1 miliar untuk 2025 meski membeli lebih sedikit saham treasury.
Namun produksi jet Typhoon sempat terhenti karena belum ada kontrak ekspor baru meskipun negosiasi dengan Turki dan Jerman telah berjalan.
(J)
Editor : ALengkong