Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Anjlok! Kuartal II-2025 Hanya Tumbuh 4,8%, Apa Penyebabnya?

ALengkong • 2025-08-04 20:31:21

Ilustrasi konsep penurunan ekonomi
Ilustrasi konsep penurunan ekonomi

Jagosatu.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua tahun 2025 hanya mampu tumbuh sebesar 4,8 persen.

Pertumbuhan ini lebih rendah dibanding kuartal pertama yang mencatatkan angka 4,87 persen.

Menurut Reuters Poll yang melibatkan 26 ekonom, melambatnya pertumbuhan ini disebabkan oleh lemahnya konsumsi rumah tangga.

Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia karena menyumbang lebih dari 50 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca Juga: Geger! Kontrak Raksasa: Samsung Dapat Proyek Chip Rp267 Triliun dari Tesla, Siap Saingi TSMC!

Produk Domestik Bruto atau PDB adalah nilai total semua barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri dalam periode tertentu.

Ketika konsumsi rumah tangga menurun, perputaran uang di masyarakat ikut berkurang.

Dilansir dari Reuters, permintaan barang-barang kebutuhan masyarakat cenderung lesu pada periode April hingga Juni 2025.

Banyak keluarga yang memilih menahan pengeluaran untuk keperluan sekunder dan tersier.

Selain itu, adanya kenaikan beberapa harga kebutuhan pokok membuat daya beli masyarakat semakin tertekan.

Menurut Bank Mandiri, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 diprediksi hanya sebesar 4,79 persen secara tahunan.

Namun, secara kuartalan atau dari kuartal sebelumnya, ekonomi diperkirakan tumbuh positif 3,7 persen.

Hal ini terjadi setelah ekonomi Indonesia sempat minus 0,98 persen pada kuartal pertama 2025 dibanding kuartal akhir 2024.

Pertumbuhan kuartalan positif ini menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan meski belum cukup untuk mendongkrak pertumbuhan tahunan.

Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman, menjelaskan tekanan ekonomi pada kuartal pertama membuat pemulihan di kuartal kedua tidak maksimal.

Beberapa sektor seperti perdagangan, transportasi, dan akomodasi masih tumbuh lambat akibat menurunnya mobilitas masyarakat.

Sektor konstruksi juga belum pulih sepenuhnya karena adanya penundaan proyek pemerintah dan swasta.

Selain itu, aktivitas manufaktur belum stabil meski ada peningkatan permintaan ekspor ke beberapa negara mitra dagang.

Dilansir dari Brief.id, pemerintah sedang mengupayakan stimulus tambahan untuk menjaga konsumsi masyarakat.

Stimulus ini termasuk bantuan sosial dan percepatan program padat karya di daerah.

Pemerintah berharap daya beli masyarakat bisa kembali meningkat di kuartal ketiga 2025.

Jika konsumsi masyarakat naik, maka roda perekonomian akan kembali bergerak lebih cepat.

Meski demikian, beberapa analis memperingatkan risiko inflasi yang masih mengintai.

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang bisa mengurangi daya beli masyarakat.

Tantangan lainnya adalah ketidakpastian global yang masih berlanjut, seperti konflik geopolitik dan tren suku bunga tinggi di negara maju.

(J)

Editor : ALengkong
#EkonomiIndonesia #PDB2025 #BeritaEkonomi #PertumbuhanEkonomi #Inflasi