Jagosatu.com - Bank Indonesia (BI) mengingatkan bahwa ekonomi global pada tahun 2025 akan tumbuh lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Menurut BI, perlambatan ini salah satunya dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian akibat kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat.
Dilansir dari Antara, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya sekitar 3 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya yang masih berada di kisaran 3,2 persen.
Selain tarif AS, lemahnya ekspor dari Eropa dan Jepang juga menjadi faktor yang menekan pertumbuhan global.
Beberapa negara maju mencatatkan kinerja perdagangan yang turun akibat menurunnya permintaan dari pasar dunia.
Baca Juga: Bank Indonesia Nekat Turunkan Bunga, Rupiah dan Investor Langsung Deg-Degan
BI menilai kondisi ini bisa berdampak langsung pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ekonomi global yang lesu biasanya akan mengurangi permintaan ekspor dari negara seperti Indonesia.
Hal ini terutama berlaku untuk komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit.
Jika permintaan menurun, harga komoditas tersebut berisiko ikut melemah di pasar internasional.
Selain itu, ketidakpastian global juga membuat investor cenderung berhati-hati menanamkan modal.
Menurut BI, aliran modal asing bisa melambat atau bahkan keluar dari pasar negara berkembang.
Kondisi tersebut akan memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski begitu, BI menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
Cadangan devisa yang stabil dan inflasi yang terkendali menjadi modal penting menghadapi gejolak global.
Dilansir dari Antara, BI juga meminta pemerintah memperkuat kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat.
Langkah ini penting agar pertumbuhan ekonomi domestik tidak ikut melemah terlalu dalam.
Selain itu, sektor pariwisata dan industri manufaktur juga diminta lebih agresif mencari pasar baru.
Diversifikasi pasar ekspor dinilai menjadi solusi agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara tertentu.
Dengan berbagai tantangan ini, BI berharap koordinasi antara pemerintah, BI, dan pelaku usaha bisa semakin erat.
(J)
Editor : ALengkong