Jagosatu.com - Bursa saham Amerika atau Wall Street tetap tenang meski ada ancaman shutdown pemerintahan.
Shutdown adalah kondisi ketika pemerintah Amerika berhenti beroperasi sebagian karena anggaran tidak disetujui.
Menurut MarketWatch, indeks saham Nasdaq dan S&P 500 justru naik meski ada ancaman ini.
Investor terlihat tetap optimis dengan prospek ekonomi Amerika ke depan.
Dilansir dari Reuters, jika shutdown terjadi maka data penting ekonomi seperti laporan pekerjaan bisa tertunda.
Data ekonomi ini sangat penting bagi investor untuk menentukan keputusan di pasar saham.
Meski begitu, banyak pelaku pasar memilih untuk "menutup mata" dan tetap percaya diri.
Optimisme ini muncul karena ada harapan bahwa ekonomi Amerika masih cukup kuat.
Baca Juga: WTO Ungkap AI Bisa Dongkrak Perdagangan Global Hingga 37 Persen, Dunia Siap?
Selain itu, sektor teknologi yang terus berkembang juga membuat investor tidak terlalu panik.
Nasdaq, yang banyak berisi saham teknologi, menjadi salah satu yang paling naik.
Analis bilang sikap optimis investor disebut "stubbornly optimistic" atau terlalu keras kepala percaya diri.
Padahal, shutdown bisa berdampak pada pelayanan publik dan ekonomi dalam negeri.
Contohnya, layanan paspor, visa, dan beberapa pelayanan pajak bisa berhenti.
Meskipun demikian, pasar saham tampaknya lebih peduli dengan prospek jangka panjang daripada masalah jangka pendek.
Beberapa investor bahkan melihat potensi membeli saham saat harga turun karena berita buruk.
Strategi ini disebut "buy the dip", yaitu membeli saham ketika turun agar untung saat naik lagi.
Namun, ada juga analis yang memperingatkan bahwa terlalu percaya diri bisa jadi bumerang.
Jika shutdown berlangsung lama, efek ke ekonomi bisa jauh lebih parah dari yang diperkirakan.
Investor tetap berharap Kongres Amerika bisa segera mencapai kesepakatan anggaran.
Sementara itu, Wall Street akan tetap jadi pusat perhatian dunia di tengah ketidakpastian ini. (J)
Editor : ALengkong