Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Harga Plastik Melonjak Akibat Gangguan Rantai Pasok Global

ALengkong • Rabu, 8 April 2026 - 06:02 WIB

 

STOK MELIMPAH: Kapal tanker minyak berlabuh di Pelabuhan Yantai, Provinsi Shandong, Tiongkok.
STOK MELIMPAH: Kapal tanker minyak berlabuh di Pelabuhan Yantai, Provinsi Shandong, Tiongkok.

Jagosatu.com - Sebagian pedagang kecil di berbagai wilayah di Indonesia kini terpaksa memangkas margin keuntungan akibat kenaikan drastis harga produk plastik. Gangguan rantai pasok global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah telah menghambat distribusi bahan baku petrokimia yang menjadi komponen utama pembuatan plastik. 

Harga bahan baku plastik, yaitu nafta atau senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi, dilaporkan mengalami kenaikan hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini secara langsung berdampak pada harga jual produk jadi di pasar, mulai dari kantong kresek, gelas plastik, hingga berbagai wadah makanan sekali pakai.

Di dunia industri, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) melaporkan harga kemasan plastik telah naik hingga 50 persen. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa sektor ritel dan pusat perbelanjaan sudah mulai melakukan penyesuaian harga produk sebagai dampak dari kenaikan biaya kemasan tersebut. Kenaikan harga ini telah dirasakan oleh para pedagang di berbagai daerah sejak periode Lebaran 2026. Meliatrisinta, seorang pedagang minuman keliling di Kota Padang, menuturkan bahwa gelas plastik ukuran 16 oz yang biasanya dijual Rp24.000 per 50 gelas kini naik menjadi Rp29.000. Sementara itu, gelas ukuran 400 mililiter naik dari Rp14.000 menjadi Rp21.000 per 50 gelas.

Situasi serupa terjadi di Jakarta, di mana pedagang seblak di Jakarta Timur, Sismiati, terpaksa menahan harga jual makanan demi menjaga pelanggan meskipun biaya kemasan plastik dan stirofoam yang digunakannya melonjak signifikan. Harga satu pak plastik yang sebelumnya Rp20.000 kini dilaporkan mencapai Rp40.000 di beberapa tempat. Di Makassar, Sulawesi Selatan, pedagang kebutuhan plastik di Pasar Pabaeng-Baeng, Hastina, mengaku baru kali ini mendapati kenaikan harga yang sangat tinggi selama 10 tahun berjualan.

Kenaikan modal yang mencapai ribuan rupiah per pak memaksa para pedagang untuk mengambil margin keuntungan yang jauh lebih tipis demi mempertahankan daya beli masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang sempat meninjau harga di Pasar Minggu, Jakarta, menyatakan bahwa lonjakan harga ini terjadi hampir di seluruh daerah. Menurutnya, pemerintah akan segera memanggil pihak-pihak terkait untuk membahas khusus kenaikan harga bahan baku bijih plastik yang dianggap tidak wajar.

Pemerintah saat ini tengah berupaya mencari alternatif sumber pasokan bahan baku nafta dari negara-negara di luar Timur Tengah, seperti Afrika, India, dan Amerika. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi dominasi produk plastik impor dari China yang diperkirakan akan mengisi pasar ASEAN jika pasokan dari Timur Tengah terus terhambat. Di sisi lain, Greenpeace Indonesia menyoroti ketergantungan industri terhadap plastik berbasis bahan bakar fosil yang semakin rentan terhadap krisis global.

Mereka mendorong pemerintah dan pelaku industri untuk mulai berinvestasi pada sistem guna ulang atau reuse dan sistem isi ulang atau refill sebagai solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus menanggung beban krisis rantai pasok plastik. Para ekonom memperingatkan bahwa jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan tanpa diikuti kebijakan mitigasi yang tepat, Indonesia terancam menghadapi risiko inflasi yang lebih tinggi. Kenaikan harga kemasan plastik yang digunakan dalam pengemasan kebutuhan pokok dapat memicu efek domino yang mengerek harga barang konsumsi lainnya di tingkat pasar domestik.

Sumber: BBC News Indonesia

Editor : ALengkong
#harga plastik #pedagang kecil #rantai pasok #timur tengah #Inflasi