Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS Jadi Beban

ALengkong • Rabu, 8 April 2026 - 22:24 WIB
Nilai tukar rupiah tertekan oleh sentimen global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi AS.
Nilai tukar rupiah tertekan oleh sentimen global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi AS.

Jagosatu.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan secara signifikan, menembus level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 8 April 2026. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah di Asia, dipicu oleh sentimen negatif dari eskalasi konflik di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap data inflasi AS.

Menurut laporan Kontan.co.id pada Rabu (8/4/2026), level Rp17.105 per dolar AS ini menandai rekor terburuk bagi rupiah dalam periode tersebut. Kondisi ini juga diperkuat oleh data Bloomberg pada Selasa (7/4/2026) pukul 15.30 WIB yang menunjukkan rupiah sempat berada di level Rp17.100 per dolar AS setelah sebelumnya dibuka melemah.

Pelemahan kurs rupiah ini menempatkannya di posisi kedua terburuk di antara mata uang utama Asia lainnya terhadap dolar AS, hanya sedikit lebih baik dari peso Filipina yang melemah 0,46 persen. Sementara itu, dolar Taiwan dan ringgit Malaysia juga mengalami pelemahan tipis, seperti dilansir dari Katadata pada 7 April 2026.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip dari Antara, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah utamanya dipicu oleh potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar global.

Ibrahim menambahkan, investor kini bersiap menghadapi potensi gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang telah memperketat ekspektasi pasokan minyak dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar. Situasi ini secara langsung berdampak pada harga minyak global yang cenderung melonjak.

Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik geopolitik berpotensi semakin membebani anggaran pemerintah Indonesia, terutama jika pemerintah belum menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan kekhawatiran ini, sebagaimana diberitakan Kumparan.com pada Selasa (7/4/2026).

Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan rilis data inflasi penting dari AS yang dijadwalkan pada Jumat, 10 April 2026. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed), yang sangat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang lainnya.

Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir memang menunjukkan tren pelemahan. Pada Senin, 30 Maret 2026, rupiah dibuka melemah di level Rp16.981 per dolar AS dan ditutup lebih lemah lagi di Rp17.002 per dolar AS, menurut data Bisnis.com.

Sehari sebelumnya, pada Jumat, 27 Maret 2026, rupiah dibuka melemah di Rp16.924 per dolar AS dan ditutup pada level Rp16.979 per dolar AS. Meskipun sempat menguat tipis pada Selasa, 31 Maret 2026, dengan pembukaan di Rp16.995 per dolar AS, tren pelemahan kembali dominan.

Bahkan, pada Rabu, 1 April 2026, rupiah sempat menguat tipis menyentuh Rp16.983 per dolar AS yang ditopang oleh surplus neraca dagang. Namun, sentimen global yang memburuk kembali menyeret nilai tukar rupiah ke level yang lebih rendah dalam beberapa hari berikutnya.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencerminkan pelemahan ini, bergerak ke level Rp17.092 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.037 per dolar AS. Ini menunjukkan tekanan yang konsisten terhadap mata uang domestik.

Analis sebelumnya telah memproyeksikan bahwa rupiah masih berpotensi melemah dan bisa menyentuh level Rp17.100 pada pekan berikutnya, sebuah prediksi yang kini terbukti. Pelemahan rupiah ini juga menjadi pemberat bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), seperti diulas Kontan.co.id pada Rabu (8/4/2026).

Dengan sentimen global yang masih dibayangi konflik dan ketidakpastian kebijakan moneter AS, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus berlanjut. Investor dan pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik serta data ekonomi makro global untuk mencari petunjuk arah pergerakan rupiah ke depan.

Sumber: Bisnis.com, Kontan.co.id, Instagram Katadata, Instagram Kumparan.com, KursDollar.org

Editor : ALengkong
#kur #Ekonomi #nilai tukar #Rupiah #dolar as