Jagosatu.com - Fenomena kegemaran orang dewasa terhadap Gundam, robot raksasa fiksi ilmiah asal Jepang, ternyata jauh melampaui sekadar hobi mengoleksi mainan. Daya tarik Gunpla, sebutan untuk model kit Gundam, berakar pada perpaduan kompleks antara kepuasan emosional, nostalgia masa kecil, tantangan perakitan, hingga interaksi sosial dalam komunitas.
Para kolektor rela mengeluarkan uang jutaan rupiah demi figur-figur Gundam, bukan tanpa alasan. Mereka menemukan makna personal dan kepuasan emosional yang mendalam dari setiap model yang dirakit dan dipajang, demikian disampaikan Andhikanandono Hartrianto, seorang kolektor Gundam asal Indonesia, dalam wawancara dengan Seva.id pada tahun 2019.
Proses merakit dan memajang Gunpla disebutnya memberikan rasa tenang dan kebanggaan yang sulit dijelaskan secara rasional. Hal ini sejalan dengan pandangan Reino Barack, kolektor dan produser BIMA Satria Garuda, yang mengungkapkan kepada Liputan6.com pada 2018 bahwa koleksi Kamen Rider-nya adalah sumber inspirasi dan pengingat masa kecilnya, membuatnya merasa kembali ke masa lalu.
Faktor nostalgia ini juga disoroti oleh artikel IDN Times (2025) yang berjudul “Kenapa Banyak Orang Dewasa Suka Koleksi Action Figure?”. Artikel tersebut menyebutkan bahwa action figure menjadi pengingat masa kecil yang sederhana dan menyenangkan, membantu kolektor mempertahankan sisi polos dan kreatif di tengah tuntutan kehidupan dewasa.
Selain ikatan emosional, tingkat kesulitan dan kedetailan dalam merakit Gunpla menjadi daya tarik utama. Universitas Darma Persada mengidentifikasi bahwa penggemar model kit Gunpla mengagumi kerumitan ini, menjadikannya hobi yang melatih ketelitian dan kesabaran, seperti diungkapkan dalam penelitian mereka.
Decky, salah satu pencinta Gundam dari komunitas GunPla Semarang, juga menegaskan hal serupa dalam laporan SINDOnews.com pada Kamis (4/6/2015). Ia menyatakan bahwa Gundam berbeda dari mainan robot lain karena memerlukan proses panjang perakitan, pengecatan, dan kreativitas tinggi untuk mendapatkan hasil maksimal. Semakin rumit perakitan, semakin tertantang para penggemar.
Komunitas juga memainkan peran penting dalam ekosistem hobi Gundam. GunPla Semarang, misalnya, secara rutin mengadakan pertemuan mingguan yang dihadiri ratusan anggotanya. Di sana, mereka tidak hanya menyalurkan hobi tetapi juga bertukar informasi dan pengalaman tentang cara merakit Gundam yang baik, sebagaimana disampaikan Hernu Trisnanda, anggota komunitas tersebut.
Popularitas Gundam sendiri berawal dari serial fiksi ilmiah “Mobile Suit Gundam” yang pertama kali tayang pada 7 April 1979 oleh studio Sunrise. Serial ini menampilkan pertarungan robot raksasa bernama Mobile Suits dalam latar militer, dan kepopulerannya melahirkan waralaba besar termasuk film, manga, novel, video game, serta industri model kit Gunpla.
Pada era 1990-an, popularitas Gundam semakin meningkat ketika seri ini mulai merambah Amerika Utara dan Eropa melalui televisi, video, dan manga. Secara lebih luas, anime dan manga, termasuk Gundam, diterima secara global karena tingkat kreativitas yang tinggi, kualitas yang baik, tema yang beragam, serta penggambaran karakter dan latar belakang yang teliti dan detail, menurut Timothy J. Craig (2000).
Namun, hobi ini juga memerlukan investasi finansial yang tidak sedikit. Decky dari GunPla Semarang mengakui bahwa mengoleksi Gundam tergolong hobi mahal, dengan harga mulai dari Rp60.000 hingga jutaan rupiah per model. Setelah dirakit, Gundam-gundam ini umumnya dipajang sebagai koleksi, bukan dimainkan seperti mainan robot biasa, seperti dilansir SINDOnews.com.
Persoalan biaya ini seringkali menjadi tantangan bagi kolektor, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga, karena kerap dipertanyakan oleh pasangan atau kerabat dekat, sebagaimana diulas Mojok.co pada 14 Mei 2020. Ini menunjukkan bahwa di balik kepuasan, ada pertimbangan ekonomi yang harus dihadapi para penggemar dewasa.
Istilah “Otaku” yang lahir di Jepang untuk menggambarkan orang-orang yang menekuni bidang tertentu, termasuk “Gundam-Otaku”, juga menunjukkan bagaimana kegemaran ini telah menjadi bagian dari identitas. Generasi Otaku kelahiran 1960-an, yang pada masa kecilnya menggemari film fiksi sains, turut membaca Gekiga atau novel grafik yang ditujukan untuk orang dewasa, menandai pergeseran persepsi anime dari konsumsi anak-anak menjadi hiburan yang dinikmati lintas usia.
Dengan demikian, daya tarik Gundam bagi orang dewasa merupakan kombinasi unik antara pelarian nostalgia, stimulasi intelektual melalui tantangan perakitan, dan kepuasan emosional yang mendalam. Ini bukan sekadar mainan, melainkan sebuah bentuk ekspresi diri dan pencarian makna di tengah kompleksitas kehidupan modern.
Sumber: etheses.uin-malang.ac.id, ejurnal.umiba.ac.id, repository.unsada.ac.id, library.binus.ac.id, repository.umy.ac.id, sindonews.com, mojok.co