JAGOSATU,COM - Mantan Raja Spanyol, Juan Carlos, pada Selasa (18/7), mengajukan permohonan kepada pengadilan di London untuk membatalkan gugatan mantan kekasihnya sebesar 165 juta dolar AS (sekitar Rp2,47 triliun rupiah) yang menuduhnya melakukan serangkaian pelecehan.
Corinna zu Sayn-Wittgenstein, mantan kekasih Juan Carlos, telah menggugatnya, menuduh bahwa sejak tahun 2012, Juan Carlos terlibat dalam ancaman, pengawasan, dan intimidasi karena Corinna menolak mengembalikan uang dalam jumlah jutaan Euro.
Sayn-Wittgenstein menyatakan bahwa Juan Carlos memberikannya uang sebesar 65 juta Euro (sekitar Rp1,095 triliun) sebagai hadiah dan memintanya untuk menyembunyikan uang tersebut dari otoritas pajak Spanyol.
Namun, ketika ia menolak untuk mengembalikan uang tersebut, Juan Carlos atau orang suruhannya dilaporkan melecehkannya.
Pengacara Sayn-Wittgenstein menguraikan bentuk pelecehan yang dialaminya, termasuk buku yang menuduh bahwa Putri Diana dibunuh oleh Intelijen Inggris yang ditempatkan di apartemennya di Swiss saat ia keluar dari rumah, perekaman kamera CCTV di luar rumahnya, dan penyadapan telepon genggamnya.
Baca Juga: Raja Charles Merayakan 400 Tahun Karya Pertama William Shakespeare.
Namun, pengacara Juan Carlos, Adam Wolanski, menegaskan bahwa mantan raja tersebut dengan tegas menolak tudingan pelecehan tersebut. Wolanski menyampaikan argumen bahwa gugatan hukum Sayn-Wittgenstein harus dibatalkan karena tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung tuduhannya.
Juan Carlos sebelumnya dihargai atas perannya dalam transisi Spanyol menuju demokrasi, namun ia dipaksa turun takhta pada tahun 2014 karena berbagai skandal, termasuk hubungannya dengan Sayn-Wittgenstein. Saat ini, ia dipandang sebagai beban bagi anaknya, Raja Felipe.
Sayn-Wittgenstein menuduh Juan Carlos melakukan dugaan penyalahgunaan kekuasaan yang sangat tidak sejalan dengan peran pentingnya dalam transisi Spanyol menuju demokrasi parlemen yang sukses, seperti yang dijelaskan oleh pengacara mantan raja dalam dokumen pengadilan.
Meskipun demikian, pengacara Sayn-Wittgenstein juga berpendapat bahwa Juan Carlos hanya berusaha mencegah pengadilan untuk memutuskan gugatan hukumnya, yang pertama kali diajukan pada tahun 2020 dan sejak itu terjerat dalam perselisihan mengenai apakah Juan Carlos berhak mendapatkan kekebalan hukum.(antara)
Editor : Alfianne Lumantow