WASHINGTON DC – Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) menilai adopsi artificial intelligence (AI) bisa mendorong lonjakan produktivitas justru berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam jangka menengah. Pandangan tersebut berseberangan dengan keyakinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk kandidat pengganti Gubernur The Fed Jerome Powell, Kevin Warsh.
Anggota Dewan Gubernur The Fed Michael Barr menjadi salah satu pejabat yang menegaskan bahwa ledakan pemanfaatan AI tidak serta-merta menjadi alasan untuk menurunkan suku bunga acuan.
“Saya memperkirakan AI boom tidak akan menjadi alasan untuk menurunkan suku bunga kebijakan,” ujar Barr seperti dikutip Reuters kemarin (18/2). Pernyataan itu menyusul pidato Wakil Gubernur The Fed Philip Jefferson pada 6 Februari 2026. Jefferson menyebut, dengan asumsi faktor lain tetap, peningkatan produktivitas yang berkelanjutan akibat pemanfaatan AI secara masif berpeluang mendorong kenaikan suku bunga, setidaknya untuk sementara waktu.
Investasi Meningkat dan Tabungan Turun
Dalam paparannya, Barr menjelaskan beberapa faktor yang berpotensi mendorong suku bunga lebih tinggi. Salah satunya meningkatnya permintaan modal seiring besarnya investasi yang didorong adopsi teknologi AI. Selain itu, tingkat tabungan rumah tangga AS berisiko menurun akibat ekspektasi kenaikan upah riil dan pendapatan seumur hidup, yang pada akhirnya mendorong tekanan kenaikan pada suku bunga.
Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly menambahkan, dalam model ekonomi standar, percepatan produktivitas akibat AI akan mendorong suku bunga acuan lebih tinggi karena lonjakan permintaan investasi yang melampaui pasokan tabungan. “Mungkin saja menaikkan suku bunga netral sedikit, tetapi kita perlu bersikap rendah hati dalam memperkirakannya,” ujarnya.
Baca Juga: Konsumsi Ritel Ditarget Tembus Rp 50 T Selama Momen Lebaran
Versi Kevin Warsh
Kandidat Gubernur The Fed pilihan Trump, Kevin Warsh, memiliki pandangan sejalan dengan pemerintahan AS. Dia menilai AI berpotensi memicu lonjakan produktivitas yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi tanpa inflasi, sehingga membuka ruang bagi suku bunga yang lebih rendah.
Pelonggaran Moneter Diperlambat
Dalam satu setengah tahun terakhir, The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 1,75 persen, menetapkan levelnya di kisaran 4,25–4,5 persen. Saat ini bank sentral berada pada fase peninjauan kembali kebijakan moneter. Penilaian itu sejalan dengan komentar Presiden AS Donald Trump. “Level suku bunga sekarang pada dasarnya sudah berada di kisaran netral,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat bank sentral cenderung berhati-hati dalam mengurangi suku bunga dalam waktu dekat. (bil/dio/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy