Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Iran-AS Lanjutkan Negosiasi soal Nuklir

Pratama Karamoy • 2026-02-19 14:49:19
Menuju kesepakatan: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berpidato dalam Konferensi PBB di Jenewa (17/2). Salah satu yang disampaikan adalah perundingan Iran dan AS soal program nuklir.
Menuju kesepakatan: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berpidato dalam Konferensi PBB di Jenewa (17/2). Salah satu yang disampaikan adalah perundingan Iran dan AS soal program nuklir.

JENEWA – Pembicaraan tidak langsung soal nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menunjukkan kemajuan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut perundingan terbaru di Jenewa pada Selasa (17/2) menghasilkan kemajuan. Meski demikian, Washington menegaskan opsi militer tetap terbuka jika diplomasi gagal.

Perundingan itu dimediasi Oman. Araghchi mengatakan kedua pihak telah mencapai kesepakatan luas mengenai seperangkat prinsip panduan sebagai dasar penyusunan teks perjanjian potensial. "Kami kini memiliki jalur yang jelas ke depan, dan saya pikir ini positif," ujarnya seperti dilansir Al Jazeera.

 

Menurut dia, putaran kali ini lebih maju dibandingkan pertemuan sebelumnya di Oman awal bulan ini. Meski demikian, Araghchi mengaku masih diperlukan waktu untuk mempersempit perbedaan. Setelah masing-masing pihak menyusun draf, teks akan dipertukarkan dan jadwal putaran ketiga ditetapkan.

Di Washington DC, Wakil Presiden AS JD Vance memberi sinyal bahwa negaranya masih mengedepankan jalur diplomasi, namun dengan nada lebih berhati-hati. "Dalam beberapa hal berjalan baik. Mereka sepakat untuk bertemu lagi," ujarnya. Namun, dia menegaskan Presiden Amerika Donald Trump memiliki "garis merah" yang belum sepenuhnya diakui pihak Iran. Menurutnya, diplomasi akan selesai setelah mendapatkan pernyataan dari Trump.

 

Selama bertahun-tahun, Iran menuntut pencabutan sanksi luas yang dijatuhkan Amerika Serikat. Termasuk larangan pembelian minyak Iran oleh negara lain. Teheran ingin fokus pembicaraan pada program pengayaan uranium dan menegaskan setiap kesepakatan harus memberikan manfaat ekonomi nyata tanpa mengorbankan kedaulatan dan keamanan nasional.

 

Baca Juga: Wakil Presiden Sara Duterte Siap Maju Pilpres Filipina 2028

 

Sebaliknya, Washington menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri serta memperluas cakupan perundingan ke isu non-nuklir, seperti persenjataan rudal. Iran menolak tuntutan tersebut.

Direktur Proyek Iran Crisis Group, Ali Vaez, menilai ruang kompromi di isu nuklir masih terbuka. Menurut dia, program nuklir Iran telah melemah di lapangan sehingga sebagian biaya kompromi sudah terjadi. Namun, untuk isu non-nuklir seperti aktivitas regional dan program rudal, dia memperkirakan Iran hanya bersedia memberi konsesi terbatas. (lyn/len/jawa pos)

 

Editor : Pratama Karamoy
#global