PYONGYANG - Korea Utara menguji coba peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perang angkatan lautnya pekan lalu. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyebut uji coba tersebut sebagai bukti kemajuan dalam upaya memodernisasi kapal perang dengan senjata nuklir. Peluncuran dilakukan dari kapal perusak kelas Choe Hyon berbobot sekitar 5.000 ton, yang disebut sebagai kapal perang terbesar dalam armada Korea Utara.
Menurut para analis, pesan utama dari uji coba itu tidak hanya bersifat militer, tetapi juga politik. Pyongyang ingin menunjukkan bahwa program nuklir tetap menjadi prioritas utama negara tersebut. Profesor Universitas Daejeon sekaligus mantan pejabat Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Song Seong-jong, mengatakan konflik Timur Tengah kemungkinan memperkuat pandangan Korea Utara tentang pentingnya senjata nuklir. "Kim kemungkinan melihat Iran diserang karena tidak memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Korea Utara telah mengumumkan program senjata nuklir selama bertahun-tahun meski menghadapi sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Negara itu melakukan uji coba nuklir pertama pada 2005 dan terakhir pada 2017.
Laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) tahun 2025 memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir. Negara tersebut juga diyakini memiliki cukup bahan untuk membuat hingga 40 hulu ledak tambahan.
Baca Juga: Donald Trump Ancam Invasi Kuba
Korea Utara mengecam serangan udara Amerika dan Israel terhadap Iran. Meski begitu, Kim menyatakan hubungan dengan Amerika Serikat dapat membaik jika Washington menghentikan kebijakan konfrontatif dan mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.
"Jika Amerika Serikat mengubah kebijakan konfrontasinya dengan Korea Utara dengan menghormati status negara kami saat ini, tidak ada alasan mengapa kami dapat bermitra dengan baik dengan Amerika," kata Kim pada kongres partai yang berkuasa bulan lalu. (lyn/gas/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy