JAGOSATU.COM - Perlombaan global untuk mengembangkan teknologi Fusi Nuklir semakin intens dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi yang sering dijuluki sebagai “matahari buatan” ini diyakini banyak ilmuwan sebagai kandidat utama sumber energi bersih jangka panjang bagi peradaban manusia.
Namun di balik optimisme tersebut, sejumlah pakar menilai jalan menuju penerapan komersial teknologi ini masih panjang dan penuh tantangan ilmiah.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan perusahaan teknologi di berbagai negara meningkatkan investasi dalam riset fusi nuklir. Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Tiongkok berlomba membangun fasilitas eksperimen besar dengan harapan mampu membuka era baru energi rendah karbon yang lebih stabil dibandingkan sumber energi terbarukan konvensional.
Dilansir dari Global Times, pakar industri nuklir Tiongkok Wang Mingdan memberikan penilaian realistis mengenai garis waktu teknologi tersebut.
“Berdasarkan pengetahuan dan kemampuan teknologi saat ini, mencapai kontrol fusi nuklir akan memerlukan setidaknya 20 hingga 30 tahun lagi,” ujar Wang.
Wang merupakan anggota Komite Nasional ke-14 Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok sekaligus presiden Shanghai Nuclear Engineering Research and Design Institute yang berada di bawah perusahaan energi milik negara State Power Investment Corporation.
Menurutnya, teknologi fusi nuklir memang dianggap sangat menjanjikan sebagai sumber energi masa depan. Namun ekspektasi publik sering kali terlalu tinggi terhadap kecepatan perkembangan teknologi tersebut.
Saat ini, bidang fusi nuklir masih berada pada tahap peralihan dari penelitian dasar menuju pengembangan fasilitas ilmiah berskala besar. Artinya, para ilmuwan masih berupaya menyempurnakan teknologi inti sebelum sistem tersebut dapat beroperasi secara stabil dalam skala pembangkit listrik.
Wang menambahkan bahwa terobosan awal mungkin muncul dalam bentuk kemajuan teknologi tertentu atau penerapan terbatas. Namun jika tujuannya adalah pembangkit listrik komersial, prosesnya masih akan memakan waktu cukup lama.
Di sisi lain, kompetisi riset tetap berlangsung sengit. Dalam lima tahun terakhir, Tiongkok mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur ilmiah berskala besar yang berkaitan dengan teknologi energi dan material canggih.
Salah satu proyek penting di bidang ini adalah Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak atau BEST yang tengah dibangun di Provinsi Anhui. Fasilitas eksperimen yang sering dijuluki sebagai “matahari buatan” ini dijadwalkan selesai pada akhir 2027 dan dirancang untuk menguji kemungkinan demonstrasi pertama pembangkitan listrik berbasis energi fusi.
Meski proyek-proyek ambisius terus dikembangkan, sejumlah pakar internasional tetap menilai jalan menuju reaktor fusi komersial masih panjang.
Ilmuwan energi dari Australia, Mark Diesendorf, menyatakan bahwa bahkan setelah eksperimen awal berhasil, transisi menuju reaktor fusi nuklir komersial tetap memerlukan waktu puluhan tahun.
“Untuk bergerak dari eksperimen itu ke reaktor fusi nuklir komersial dapat memakan waktu setidaknya 25 tahun,” ujarnya.
Pada akhirnya, pengembangan fusi nuklir bukan hanya persoalan sains, tetapi juga strategi energi global jangka panjang. Jika suatu negara berhasil memimpin teknologi ini, dampaknya berpotensi mengubah peta kekuatan energi dunia.
Namun hingga teknologi tersebut benar-benar siap digunakan secara luas, para ilmuwan menilai bahwa kesabaran, investasi besar, serta riset jangka panjang tetap menjadi kunci utama keberhasilan energi masa depan ini.
Editor : Toar Rotulung