TEL AVIV – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali meluncurkan serangan ke sejumlah lokasi baru yang diklaim sebagai tempat persembunyian tentara Israel. Serangan tersebut merupakan gelombang ke-75 dalam Operasi True Promise 4 yang menyasar target di Negeri Yahudi itu dan aset-aset milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk Persia.
Salah satu target utama adalah Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Al Kharj, Arab Saudi. Pangkalan ini disebut sebagai pusat operasi udara AS terhadap Iran. Juru Bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya (matra darat IRGC, red) menyatakan serangan juga diarahkan ke Armada Kelima AS di Bahrain.
"Serangan dilakukan menggunakan rudal dan drone," ujar sang juru bicara seperti dikutip Al Jazeera.
IRGC juga mengklaim pesawat pengintai AS yang ditempatkan di pangkalan tersebut turut menjadi sasaran rudal balistik. Hingga berita ini selesai ditulis pukul 17.00 kemarin (23/3), belum ada tanggapan resmi dari pihak AS maupun Israel. Yang jelas, Iran semakin percaya diri pascaserangan tersebut. IRGC bahkan menyatakan seluruh aktivitas militer Israel dan Amerika berada dalam pengawasan intelijen mereka.
Baca Juga: WFH dan Sekolah Daring Bisa Hemat BBM 20 Persen
Di lapangan, situasi di Israel dilaporkan masih mencekam. Jurnalis Al Jazeera Nida Ibrahim melaporkan sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah Israel pada Minggu (23/3) dini hari waktu setempat. Serangan itu diduga merupakan kombinasi aksi Iran dan kelompok Hizbullah.
Para pejabat Israel menegaskan operasi militer akan terus dilanjutkan dalam beberapa pekan ke depan. Mereka juga mengisyaratkan akan meningkatkan tekanan terhadap Iran, sementara konflik dengan Hizbullah disebut baru memasuki tahap awal.
Melalui saluran Telegram resminya, Hizbullah mengklaim telah meluncurkan 63 operasi militer pada Minggu (22/3). Serangan tersebut melibatkan roket, drone, hingga artileri.
Tak Ada Tanda Melemah
Sementara itu, peneliti senior Pusat Studi Timur Tengah Abas Aslani menilai Iran tidak menunjukkan tanda-tanda melemah meski mendapat ultimatum dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz dalam 48 jam. "Teheran menanggapi ancaman Trump dengan serius," ujarnya.
Menurut dia, Iran tidak sekadar bertahan, tetapi berupaya mengubah tekanan tersebut menjadi peluang strategis jangka panjang. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara-negara yang dianggap bersahabat dengan Iran.
Namun, ketegangan yang meningkat membuat perusahaan asuransi ragu terhadap stabilitas kawasan. Konflik yang terus memanas ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi global, terutama di kawasan Teluk. (lyn/ttg/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy