TEHERAN – Amerika Serikat (AS) mulai menambah kekuatan militer di Timur Tengah setelah Iran menolak proposal gencatan senjata, Rabu (25/3). Langkah ini membuka opsi baru untuk kemungkinan operasi militer langsung di wilayah Iran.
Dilansir dari Fox News, Pentagon dalam beberapa hari terakhir mengerahkan pasukan darat tambahan. Termasuk sekitar 1.000 pasukan terjun payung dari 82nd Airborne Division. Unit elite ini dikenal sebagai bagian dari pasukan respons cepat yang dapat dikerahkan ke titik krisis dalam waktu singkat.
Selain itu, ribuan marinir dan pelaut juga dikirim melalui unit ekspedisi laut yang dipimpin kapal serbu amfibi USS Tripoli. Meski demikian, Gedung Putih berdalih bahwa pengerahan pasukan itu bukan untuk invasi besar-besaran seperti perang Irak pada 2003. "Presiden ingin menjaga semua opsi tetap terbuka," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Salah satu titik krusial yang kini diincar AS dan Israel adalah Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Amerika disebut akan mencoba mengamankan area ini dengan menguasai pesisir tertentu di pesisir Iran. Namun, operasi semacam itu tetap berisiko tinggi. Sebab, Iran telah menempatkan ranjau, drone, dan aset laut di kawasan tersebut. "Ini bukan operasi mudah. Ancaman bisa datang dari mana saja, seperti ranjau laut, rudal jelajah, hingga drone," ujar mantan komandan Armada Kelima AS, Laksamana Kevin Donegan.
Di sisi lain, Iran juga terus meningkatkan kesiapan militer di berbagai titik strategis, termasuk Pulau Kharg. Pulau ini merupakan pusat ekspor minyak sekaligus basis militer penting. Dilansir dari CNN, pakar militer Amerika menyebut Iran telah memindahkan sistem rudal MANPADS (Man-Portable Air-Defense Systems). Ini adalah sistem rudal pertahanan udara jarak pendek yang ringan, berpemandu, dan dapat dibawa serta ditembakkan oleh satu atau dua prajurit dari bahu. Senjata ini dirancang untuk menghancurkan pesawat terbang rendah, helikopter, dan drone.
Iran juga memasang jebakan, termasuk ranjau anti personel dan anti lapis baja di sekitar pulau Kharg. Sebab, ada kemungkinan Amerika melakukan pendaratan amfibi dan melakukan perang darat.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Rabu (25/3) memperingatkan musuh-musuh agar tidak mencoba menduduki pulau-pulau Iran mana pun. "Berdasarkan beberapa data, musuh musuh Iran, dengan dukungan salah satu negara regional, sedang bersiap untuk menduduki salah satu pulau Iran," tulisnya di X. Dia juga menyebut seluruh pergerakan musuh berada di bawah pengawasan angkatan bersenjata Iran. "Jika mereka melanggar aturan, semua infrastruktur vital negara regional tersebut akan, tanpa batasan, menjadi sasaran serangan," imbuhnya.
Baca Juga: Russia Luncurkan Rassvet Satelit Internet Yang Diproyeksikan Menyaingi Starlink
Desakan Gencatan Senjata
Ditengah perang yang masih berlangsung, upaya diplomasi yang diinisiasi sejumlah negara terus berjalan. Dilansir dari Xinhua, Malaysia kembali menyerukan solusi diplomatik untuk konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada Selasa (24/3) menelepon Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. Keduanya membahas pentingnya menjaga jalur maritim utama. Khususnya Selat Hormuz, serta stabilitas ekonomi dan energi global.
"Saya menyampaikan harapan Malaysia untuk segera gencatan senjata yang komprehensif, dan abadi. Pentingnya dialog dan diplomasi dalam meredakan ketegangan dan mengakhiri perang sangat penting saat ini," katanya.
Dia juga telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi. Dalam pertemuan itu, dia menyampaikan keprihatinan Malaysia pada konflik Timur Tengah dan dukungannya terhadap upaya mediasi negara-negara Arab. Ia juga berharap negosiasi diplomatik akan terus berlanjut untuk memastikan berakhirnya perang secepatnya," katanya.
Thailand juga komunikasi dengan Iran. Dilansir dari The National Thailand, Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow pada Selasa (24/3) memberikan informasi terkini mengenai perkembangan terbaru di Timur Tengah. Dia mengatakan bahwa Amerika Serikat mengklaim telah mengadakan pembicaraan dengan Iran, tetapi Iran membantah bahwa negosiasi apa pun telah terjadi.
Menurutnya yang terjadi sekarang adalah titik kritis. Sihasak berharap laporan tentang pembicaraan diplomatik itu benar, atau setidaknya akan mendorong semua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Dia juga menyebut kapal tanker milik Thailand telah berhasil keluar dari Selat Hormuz pascanegosiasi dengan Iran. Ini tentu membawa angin segar bagi ketersediaan energi di Thailand.
Perusahaan energi Bangchak Corporation Plc mengonfirmasi bahwa sebuah kapal tankerminyak mentah yang telah berlabuh di Teluk Persia sejak 11 Maret telah melewati selat tersebut dengan selamat. (lyn/oni)
Editor : Pratama Karamoy