DOHA – Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa negaranya tengah melakukan "pembicaraan kuat" untuk mengakhiri perang dengan Iran justru ditanggapi dingin oleh negara-negara Teluk. Qatar bahkan secara terbuka menjaga jarak dari isu tersebut.
Dilansir dari The Guardian, juru bicara pemerintah Qatar, Majed al-Ansari, menegaskan negaranya tidak terlibat dalam upaya mediasi apa pun. "Jika pembicaraan itu memang ada," imbuhnya. Sikap ini menjadi perubahan mencolok. Selama ini, Qatar dikenal sebagai mediator utama dalam berbagai konflik kawasan. Contohnya perundingan Israel-Hamas hingga komunikasi antara AS dan Taliban.
Namun dalam konflik terbaru ini, negara-negara Teluk justru berada di garis depan perang. Upaya mereka meredam konflik sebelumnya tidak digubris Washington, sementara serangan militer tetap berlangsung.
AS bahkan tercatat dua kali menyerang Iran saat negosiasi terkait program nuklir masih berjalan. Perundingan yang dimediasi Oman sempat terhenti setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Baca Juga: Perang Darat Makin Dekat, Iran Tebar Ranjau di Pulau Kharg
Analis menilai sikap dingin negara Teluk dipicu pengalaman buruk sebelumnya. "Mereka merasa upaya mediasi sebelumnya sia-sia," kata direktur pelaksana senior Trends US Bilal Saab. Selain itu, negara-negara tersebut kini ikut terdampak langsung serangan Iran.
Pada Rabu malam (25/3), Iran bahkan menolak mentah-mentah proposal damai 15 poin dari Trump yang disampaikan melalui perantara militer Pakistan. Negara-negara Teluk juga khawatir pembicaraan damai hanya menjadi kedok eskalasi militer. Apalagi, di saat bersamaan, ribuan pasukan AS justru dikerahkan ke kawasan.
Profesor Universitas Kuwait Bader al-Saif menilai pengalaman sebelumnya membuat negara Teluk skeptis. "Setiap kali istilah negosiasi digunakan Trump, hasilnya justru perang," ujar peneliti Chatham House itu. (lyn/len)
Editor : Pratama Karamoy