JAKARTA – Seorang prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur. Tiga prajurit lainnya mengalami luka akibat insiden di wilayah penugasan di Lebanon Selatan. Insiden tersebut dipicu serangan Israel ke Lebanon.
"Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis," ujar Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan Brigjenv TNI Rico Ricardo Sirait di Jakarta, kemarin (30/3).
Ia menambahkan, proses klarifikasi masih dilakukan oleh pihak UNIFIL. Karena itu, rincian lebih lanjut terkait insiden tersebut belum dapat disampaikan. Termasuk siapa yang menembakkan senjata ke arah pasukan TNI. Namun, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan adanya serangan militer Israel ke area sekitar markas kontingen Indonesia di Adchit Al Qusayr.
Sementara itu, Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah memaparkan identitas korban. Prajurit yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon. Sementara itu, Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan.
Keempat prajurit tersebut bergabung dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Batalyon Mekanis (Yonmek) XXIII-S/UNIFIL. Aulia menjelaskan, jenazah prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di Markas East Sector Headquarters (HQ). Proses pemulangan ke Indonesia dilakukan dengan bantuan KBRI Beirut.
Dua prajurit yang luka ringan dirawat di Hospital Level I UNIFIL. Sementara itu, prajurit yang mengalami luka berat telah dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St George di Beirut. "TNI meningkatkan kewaspadaan sesuai SOP UNIFIL dan terus memonitor perkembangan situasi di lapangan," ujarnya.
Baca Juga: Krisis Bahan Bakar, Australia Gratiskan Transportasi Umum
Terkait kemungkinan dampak insiden ini terhadap rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza, Rico menyatakan masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke wilayah tersebut.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Praka Farizal. Dalam pernyataan resminya, Kemenlu menyebut korban meninggal akibat tembakan artileri tidak langsung di sekitar posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026.
"Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas dedikasi dan pengabdian almarhum dalam menjaga perdamaian dunia," tulis Kemenlu. Kemenlu menegaskan, keselamatan personel penjaga perdamaian PBB harus dihormati sesuai hukum internasional. Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan mendesak dilakukan investigasi menyeluruh serta transparan.
Selain itu, Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati kedaulatan Lebanon serta menghentikan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur.
Sekjen PBB Ikut Mengecam
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut menyampaikan belasungkawa. Ia mengutuk keras insiden yang menewaskan personel TNI tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah. "Keselamatan dan keamanan personel PBB harus dijamin," tegasnya.
UNIFIL sendiri menyatakan, prajurit Indonesia tersebut tewas akibat ledakan proyektil di pos mereka. Namun, asal proyektil masih belum diketahui dan saat ini tengah diselidiki.
Soroti Posisi RI di BoP
Pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana menilai, Indonesia perlu mengevaluasi keterlibatan dalam skema Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden AS Donald Trump. "Risikonya sangat tinggi, apalagi jika tidak berada di bawah mandat PBB," ujarnya.
Ia mengingatkan, rencana pengiriman pasukan ke Gaza dalam skema tersebut berpotensi menempatkan prajurit Indonesia dalam situasi yang lebih berbahaya. (raf/mia/oni)
Editor : Pratama Karamoy