SAMPAI sekarang Omar Abdulkadir Artan tak tahu apa sebenarnya penyebab dia dilarang masuk ke Amerika Serikat (AS). Padahal, semua dokumen yang diperlukan telah dia tunjukkan kepada petugas di Bandara Internasional Miami. "Saya membawa dokumen yang benar. Saya punya visa yang benar," kata wasit asal Somalia itu kepada The New York Times (9/6).
Wasit asal Somalia tersebut menunjukkan pula dokumentasi dari FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) yang memperlihatkan bahwa dia termasuk dalam 52 wasit yang akan bertugas di Piala Dunia 2026. Juga, foto-foto kepemimpinannya sebagai wasit profesional, termasuk ketika dia dinobatkan sebagai Wasit Terbaik 2025 oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika. Namun, para petugas tak menggubris semuanya. Artan yang mendarat di Miami pada Jumat (5/6) pekan lalu itu dibawa ke sebuah ruangan kecil, tempat dia diinterogasi selama 11 jam. Setelah itu dia dipindahkan ke ruangan lain selama beberapa jam. Sebelum akhirnya dinaikkan ke pesawat yang membawanya kembali ke Istanbul, Turki, kota tempat dia mengambil penerbangan menuju Miami.
Somalia memang masuk dalam daftar negara yang warganya dilarang masuk ke AS. Namun, di sisi lain, dia sudah mendapatkan visa, jadi mestinya telah direstui untuk masuk Negeri Paman Sam. Tapi, Imigrasi AS hanya menyebut bahwa Artan ditolak "didasarkan atas pertimbangan hasil penyelidikan mendalam."
Impian Hancur
Bagi Artan, penolakan tersebut berarti gagalnya impian menjadi wasit Somalia pertama yang bertugas di Piala Dunia. "Saya sangat kecewa. Saya hanyalah wasit yang berusaha mewujudkan mimpi terbesar, memimpin pertandingan Piala Dunia," katanya. Parahnya lagi, FIFA seperti berusaha cuci tangan. "FIFA tak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah. Kami juga telah mendapat informasi dari pihak berwenang bahwa status Tuan Artan tak akan diubah untuk saat ini," kata seorang juru bicara FIFA, seperti dikutip dari USA Today. Sebagaimana ajang FIFA lainnya, lanjut sang juru bicara, negara tuan rumah yang menentukan siapa yang berhak mendapatkan visa. "Juga, siapa yang berhak masuk ke negara mereka," katanya.
Baca Juga: Koalisi MBG Watch Geruduk BGN, Desak Pemerintah Moratorium MBG
Perlakuan Tak Sama
Bahkan, yang sudah masuk ke AS pun tetap ada yang merasa diperlakukan tidak adil. Fabio Cannavaro dan skuad asuhannya, Uzbekistan, misalnya. Mereka harus menghadapi pengecekan menggunakan anjing pengendus narkoba dan pendeteksi logam ketika baru tiba dengan bus di Icahn Stadium, New York City, Senin (8/6) lalu. Salah satu tim wakil Asia di Piala Dunia 2026 itu hendak menjalani uji coba melawan Belanda. "Para petugas bilang itu prosedur. Tapi, saya kemudian tahu bahwa hanya kami yang menjalani pemeriksaan seperti itu," kata Cannavaro, pemenang Ballon d'Or 2006 atas keberhasilannya memimpin Italia sebagai kapten menjuarai Piala Dunia 2006, kepada CGTN Sports Scene.(ren/ttg)
Editor : Pratama Karamoy