BEIRUT – Militer Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah selatan dan timur Lebanon pada Sabtu (14/6). Serangan itu di tengah sinyal kemajuan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mengenai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Serangan tersebut terjadi ketika Teheran dan Washington disebut semakin dekat mencapai kesepakatan damai yang juga mencakup Lebanon. Seorang pejabat senior Amerika Serikat sebelumnya menyatakan draf perjanjian yang tengah dibahas memasukkan Lebanon sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan regional.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan gempuran Israel menghantam sejumlah wilayah di sekitar Nabatieh dan kawasan selatan lainnya. Serangan terbaru itu menewaskan seorang pejabat lokal di wilayah Rihan, Jezzine. Selain itu, seorang prajurit Lebanon dilaporkan mengalami luka kritis akibat serangan pesawat nirawak Israel di dekat Nabatieh.
Baca Juga: Pengadilan AS Batalkan Tarif Global Trump
Serangan Balik Hizbullah
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap konvoi militer Israel di perbatasan selatan. Kelompok tersebut juga mengaku menggagalkan upaya infiltrasi pasukan Israel di Kfar Tebnit dan terlibat baku tembak di kawasan Majdal Zoun.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran menegaskan Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang kawasan. Namun, sejumlah politikus Lebanon menuding Teheran menjadikan negara itu sebagai alat tawar dalam negosiasi geopolitik.
Negara Dilarang Tunduk
Anggota parlemen Hizbullah Ali Fayyad menegaskan Lebanon tetap harus menerima perjanjian damai yang tengah dirundingkan. "Kami ingin negara Lebanon bernegosiasi untuk dirinya sendiri, tetapi negara tidak boleh tunduk kepada Israel," ujarnya.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyerukan persatuan nasional di tengah situasi yang disebutnya sebagai ujian menentukan bagi masa depan negara tersebut. Ia menekankan pentingnya negara memonopoli penggunaan senjata dan menegakkan supremasi hukum agar Lebanon tidak terus menjadi sandera kelompok bersenjata. (ida/gas)
Editor : Pratama Karamoy