Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Upus Ni Mama GMIM 10-16 September 2023, Kejadian 50 : 15-21 Allah Mereka-rekakan Kebaikan

Aprilia Sahari • 2023-09-11 10:04:26
LOGO WKI GMIM.
LOGO WKI GMIM.

Bacaan Alkitab: Kejadian 50 : 15-21

Tema: "Allah Mereka-rekakan Kebaikan"

Shalom damai di hati
Ibu—ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan.
Kita tentu bersyukur memiliki Kristus dalam kehidupan kita, bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan, Tuhan Yesus sangat baik bagi hidup kita. Jika kita boleh ada sebagaimana kita sekarang ini, semua hanya karena anugerah Tuhan. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya sendiri dan dalam perjalanan hidup
seseorang tidak selalu menemui hal-hal yang baik saja, melainkan juga hal-hal yang jahat. Lalu bagaimanakah seseorang menilai tentang apa yang terjadi dalam hidup? Masing-masing orang pasti tidak akan sama cara pandangnya tentang hidup. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, pandangan kita tentang hidup tentu akan sangat dipengaruhi oleh iman kita.

Pembacaan Alkitab kita disepanjang minggu yang berjalan ini adalah Kejadian 50 : 15 — 21. Bagian Alkitab ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang memikirkan nasib keluarganya setelah kematian orang tua dalam hal ini ayah. Kematian Yakub ternyata membawa keresahan bagi saudara-saudara Yusuf yang pada waktu itu tinggal di tanah Gosyen, Mesir. Bayang-bayang masa lalu atas sikap yang tidak baik pada adik mereka Yusuf sangat menghantui pikiran mereka. Padahal sebenarnya sejak mereka datang di Mesir karena kelaparan yang terjadi di Israel. Yusuf memperlakukan mereka dengan sangat baik. Bahkan seluruh keluarga termasuk ayah mereka Yakub diboyong ke Mesir, namun rupanya kakak-kakak Yusuf belum berdamai dengan masa lalu. Rasa bersalah pada Yusuf melahirkan kecurigaan tentang ketulusan hati Yusuf dalam mengasihi mereka. Mereka berpikir sikap Yusuf yang sangat baik oleh karena ayah mereka Yakub berada di tengah-tengah mereka. Sehingga setelah kematian Yakub, kakak-kakak Yusuf dilanda keresahan. Dalam ayat 15 disebutkan: “Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati berkatalah mereka: Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang kita lakukan kepadanya". Namun adalah sangat bijaksana ketika saudara-saudara Yusuf menyelesaikan apa yang meresahkan pikiran mereka dengan keterbukaan. Bahkan dalam penyesalan akan kesalahan, mereka datang meminta ampun, bersujud dan bersedia menjadi budak Yusuf. Ketika dahulu mereka menjual Yusuf dan menjadi budak Potifar, sekarang mereka ingin menebus kesalahan mereka dengan bersedia menjadi budak Yusuf artinya bukan orang merdeka lagi. Respons Yusuf sangatlah patut diteladani, sikap seorang yang penuh kerendahan hati dan seorang yang takut akan Tuhan. Yusuf sempat menangis dan Yusuf pun menghibur serta menguatkan saudara-saudaranya untuk tidak takut, karena Yusuf bukan pengganti Tuhan. Bagi kehidupan orang percaya proses hidup adalah bagian dari pembentukan Tuhan untuk menjadikan umat-Nya lebih dewasa dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Yusuf menjadi orang kepercayaan Firaun dengan tanggung jawab yang tidak mudah yaitu memikirkan dan mewujudkan kesejahteraan orang Mesir apalagi di musim kelaparan yang melanda sampai di Israel. Menjadi orang yang mampu seperti Yusuf bukanlah proses yang instan, melainkan melalui perjalanan yang panjang dan berliku. Namun dibalik hidup yang berliku-liku itu di mana manusia mereka-rekakan yang jahat bagi Yusuf seperti di jual, dimasukan ke penjara namun bagi Yusuf Tuhan mereka-rekakan yang baik baginya, yaitu memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Lebih lanjut Yusuf terus menghibur saudara-saudaranya. Yusuf berkata: jangan takut aku akan menanggung makanmu dan anak-anakmu. Perkataan yang sungguh menghibur dan menenangkan. Yusuf sama sekali tidak ada maksud untuk balas dendam.

Ibu — ibu yang diberkati Tuhan,
Setiap kita mempunyai cerita tersendiri dalam perjalanan kehidupan. Sebagai ibu-ibu Tuhan, sebagai keluarga Kristen bisa saja ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan persekutuan keluarga ketika ada anggota keluarga yang dipanggil Tuhan, mungkin ayah atau ibu atau anak. Mungkin ada persoalan-persoalan yang belum diselesaikan dalam persekutuan keluarga dansudah sepatutnya setiap masalah harus segera diselesaikan, jangandibiarkan berlarut-larut. Firman Tuhan mengingatkan untuk perlu adanya keterbukaan, saling mengasihi, saling mengampuni, jangan ada dendam dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika kita dikaruniakan Tuhan menerima berkat lebih dari saudara-saudara kita yang lain, kita dipanggil untuk membantu yang perlu dibantu. Mungkin dalam hidup kita pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik, orang berbuat jahat, mereka hendak mencelakakan kita, tetapi yakinlah sebagai umat Tuhan sekalipun orang mereka-rekakan yang jahat pada kita, namun anak Tuhan tidak akan mendapatkan celaka. Tuhan mereka-rekakan yang baik bagi orang yang setia, yang takut akan Tuhan dan selalu melakukan kehendak Tuhan. Sebagai ibu, istri, mama, oma, dan sebagai pelayan Tuhan apapun persoalan yang kita hadapi tetaplah tenang, melaksanakan tugas kita di rumah, di kantor, dalam usaha kerja dan dalam pelayanan dengan setia. Jadilah pribadi yang menenangkan, yang menghibur kepada keluarga kita, kepada sesama kita yang dalam ketakutan dan dalam pergumulan. Yakinlah bahwa rancangan jahat pada kita tidak akan mematahkan rencana Tuhan yang indah dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati Firman-Nya bagi kita. Terpujilah Kristus. Amin 

Pertanyaan untuk diskusi:
1 Apa yang saudara pahami tentang Tuhan mereka-rekakan yang baik dalam kehidupan orang percaya, menurut Kejadian 50 : 15-21?
2. Hal apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai orang yang percaya pada Kristus, ketika ada orang yang terbukti merancangkan hal yang jahat pada kita?

Editor : Aprilia Sahari
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #Renungan GMIM