Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Bina Remaja GMIM 10-16 September 2023, Kejadian 50 : 15-21 Allah Mereka-rekakan Kebaikan

Aprilia Sahari • 2023-09-11 10:10:55
LOGO REMAJA GMIM.
LOGO REMAJA GMIM.

Bacaan Alkitab: Kejadian 50:15-21

Tema: "Allah Mereka-rekakan Kebaikan"


Adik-adik remaja dan teman-teman pembina remaja yang dikasihi Tuhan, Nelson Mandela Presiden Afrika Selatan di tahun 1994-1999, sebelum menjadi presiden pernah mendekam dalam penjara selama 27 tahun. Di penjara, ia sering disiksa oleh sipir-sipir penjara atau petugas lapas. Hal yang sangat menyedihkan dan tidak dapat dilupakan oleh Mandela adalah ia disiksa dengan cara digantung terbalik dan dikencingi oleh petugas lapas atau sipir penjara. Setelah bebas dan terpilih menjadi presiden, Mandela menyuruh ajudannya untuk mencari sipir yang sering menyiksanya itu dan membawanya ke hadapan Mandela. Sipir itu ketakutan sekali, ia berpikir Mandela telah memiliki kekuasaan sebagai orang nomor satu di negara itu akan membalas dendamnya. Tetapi saat sipir itu berhadapan dengan presiden, sang presiden memeluk sipir itu lalu berkata, “Hal pertama yang aku lakukan ketika menjadi presiden adalah memaafkanmu”.

Kisah yang hampir mirip terjadi dalam diri saudara-saudara Yusuf. Dimana saudara-saudaranya diburu oleh rasa bersalah terhadap Yusuf. Adik mereka yang pernah di-bully oleh mereka kakak-kakaknya, maka sepeninggalnya Yakub ayah mereka, kekuatiran akan terjadi pembalasan oleh Yusuf mulai merasuki kehidupan kakak-kakaknya ini. Perhatikan kata-kata mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya” (Ayat 15b). Mengapa saudara-saudara Yusuf berpikir demikian? Paling kurang ada tiga alasan yaitu: Pertama, ada rasa bersalah yang menghantui mereka. Terlihat
di sini, bila hati nurani merasa bersalah, orang akan merasa ketakutan. Di satu sisi hal ini baik karena bila bersalah dan tidak ada lagi rasa takut maka itu bertanda Roh Allah tidak ada lagi dalam dirinya. Di sisi lain ketakutan akan menggangu ketenangan jiwa. Kedua, saudara-saudara Yusuf nampaknya meragukan ketulusan kasih dan pengampunan yang telah diberikan Yusuf sejak ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya (Kejadian 45:5-8). Kenapa mereka ragu? Bisa jadi selama ini saudara-saudara Yusuf berpikir bahwa Yusuf memperhatikan dan memelihara mereka lantaran ada ayah mereka (Yakub) yang tinggal bersama dengan mereka. Tetapi sekarang ayah mereka telah mati, maka kemungkinan balas dendam akan dilakukan Yusuf bagi mereka dan itulah yang ada di otak mereka sehingga ini diakui dan dibenarkan oleh ayat 15. Alasan ketiga ialah pikiran saudara-saudara Yusuf dipengaruhi oleh pandangan yang ada dalam Kejadian 42:20-22 yakni yang berbuat jahat tidak akan luput dari hukuman.

Adik-adik remaja dan kakak-kakak pembina yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, mengatasi ketakutan ini, apa yang kemudian yang dilakukan saudara-saudara Yusuf? Mari kita lihat jawaban yang diberikan oleh ayat 16 dan 18 yakni: Pertama, mereka menyuruh orang mendatangi Yusuf di ibukota kerajaan dan menyampaikan pesan ayah mereka sewaktu hidup yaitu agar saudara-saudara Yusuf harus merendahkan diri dan memohon pengampunan atas kejahatan yang mereka lakukan terhadap Yusuf (ayat 16). Kedua, mereka mendatangi vusuf dan menyerahkan diri mereka untuk dijadikan budak oleh Yusuf sebagai hukuman atas kesalahan mereka tempo hari (ayat 18). Atas tindakan saudara-saudaranya ini, bagaimana reaksi Yusuf? Reaksi yang pertama menurut ayat 17c yaitu Yusuf menangis. Kenapa menangis? Yusuf sedih melihat keraguan saudara-saudaranya atas kasih dan pengampunan yang tulus darinya untuk mereka dan juga Yusuf terharu atas penyerahan diri saudara-saudaranya yang siap dihukum, siap menjadi budak menebus kesalahan mereka. Reaksi yang kedua menurut ayat 19 dan 21 kepada sauadara-saudaranya, Yusuf berkata “Jangan takut!". Kenapa jangan takut? Karena Yusuf tidak pernah berpikir untuk membalas kejahatan dari saudara-saudaranya sebab ia bukanlah Allah yang memiliki kewenangan untuk menghukum. Meskipun saudara-saudaranya telah mereka-rekakan kejahatan terhadap dirinya, tetapi Allah telah mereka- rekakannya untuk kebaikan (sesuai dengan tema minggu ini). Lalu kebaikan seperti apa yang dirancangkan Allah di dalam kejahatan saudara-saudara Yusuf? Kebaikan yang boleh kita lihat adalah memelihara hidup keluarga Yusuf sebagai suatu bangsa yang besar yaitu bangsa Israel (ayat 20). Dengan kata lain, rancangan jahat dari saudara-saudara Yusuf oleh Allah telah diubah menjadi berkat dan keselamatan bagi bangsa Israel. Jangan takut sebab Yusuf akan terus memelihara dan menanggung makanan saudara-saudaranya dan anak-anak mereka (ayat 21) karena ia mengasihi mereka. Kasih yang abadi yang menunjuk pada Kasih Kristus. Dari semua reaksi-reaksi yang ada, menjadi pertanyaan yang menarik untuk kita ketahui yaitu mengapa Yusuf mau melakukan semuanya ini? Sebab Yusuf sangat yakin bahwa penderitaan yang ia alami adalah kehendak atau seizin Tuhan dalam rangka untuk memelihara dan menyelamatkan keluarganya dan bangsa Israel dari kelaparan. 

Adik-adik remaja dan teman-teman pembina yang disayang dan diselamatkan Kristus, apa yang dapat kita simak dari perikop ini? "Siap salah" adalah panggilan bagi orang yang berbuat salah. Seringkali kita bila salah, torang suka “basambunyi” dalam 1001 alasan atau basambunyi dalam kebohongan bahkan mempersalahkan orang lain! Menyembunyikan dalam kebohongan apalagi mengkambing hitamkan orang lain akan membuat hidup kita, diburu-buru oleh rasa bersalah yang pada akhirnya hidup kita tidak akan pernah tenang. Hari ini mari kita belajar dari saudara-saudara Yusuf yang siap salah. Artinya mengaku salah dan siap menanggung apapun hukuman untuk kesalahan kita dan hendaklah kita ingat kasih Yusuf yang tulus yang tidak menyimpan dendam, kasih yang mengampuni, memelihara dan menyelamatkan orang Iain yang hendak menunjuk pada kasih yang sempurna dari Tuhan Yesus Kristus. Kasih yang siap mengampuni orang yang menyatakan penyesalan yang dalam "siap salah" — siap dihukum dan siap mau berubah. Selanjutnya adalah kejahatan dibalas dengan kebaikan. Inilah yang telah diperbuat Yusuf atas pembulian saudara-saudaranya terhadap dirinya. Ini terjadi karena Yusuf mau melihat kebaikan Allah dalam pembulian terhadap dirinya. Lalu bagaimana dengan kita remaja dan pembina remaja dalam menyingkapi kejahatan dan atau penderitaan yang menimpa diri kita? Seperti Yusuf-kah tindakan kita? Yang mau membuka mata iman untuk melihat pekerjaan-pekerjaan Allah yang mereka-reka kebaikan dalam semua penderitaan yang kita alami? Ataukah kita tetap mempersalahkan dan karenanya mau mambalas dendam?

Firman Tuhan saat ini mengajak kita untuk seperti Yusuf yang dengan iman percaya bahwa Allah merancangkan kebaikan di balik setiap masalah kita. Dalam realita kehidupan kita, tantangan dan pergumulan yang kita hadapi dalam generasi saat ini begitu kompleks, banyak kita temui remaja yang terlibat perkelahian karena alasan balas dendam, ada juga kita temui remaja yang terlibat dalam narkoba, pesta ehabon bahkan minuman keras yang disebabkan oleh tekanan-tekanan penderitaan yang dialami baik di rumah, di sekolah dan di lingkungan tempat tinggal kita. Bahkan bukan cuma remaja, para pembina remaja pun sering terlibat dalam “perang dingin” dalam kerja dan pelayanan akibat tidak mau dan tidak dapat melihat tangan Allah yang berkerja dalam tekanan-tekanan dan persoalan yang datang di hidup dan pelayanan kita. Kisah Yusuf dan sauadara-saudarannya kiranya membangunkan kita untuk menata kembali sikap kita yang selama ini keliru dan bahkan bertentangan dengan kemauan Tuhan. Maukah kita berkomitmen untuk meniru sikap Yusuf yang selalu melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang mereka-rekakan kebaikan dalam segala penderitaan yang dialami? Dan juga maukah kita bersikap “siap salah” seperti yang dilakukan oleh saudara- saudara Yusuf yang menyadari kesalahan? Kalau kita mau berkomitmen menjadi seperti Yusuf dan saudara-saudaranya, Percayalah ada kasih Tuhan dalam setiap rencana-Nya yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan kita. Tuhan Yesus menolong dan memampukan kita mewujudkan komitmen kita. Amin

Editor : Aprilia Sahari
#Remaja GMIM #GMIM #Bina Remaja #Renungan GMIM