Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Lonjakan Harga Rica Mendorong Warga untuk Menghemat Takaran Bumbu Masak

Nur Fadilah • 2023-12-27 12:51:00

Ilustrasi: Pedagang di pasar bersehati
Ilustrasi: Pedagang di pasar bersehati

JAGOSATU.COM
-Harga cabai rawit, atau lebih dikenal orang Sulaesi Utara (Sulut) dengan sebutan rica, masih fluktuatif. Tidak cenderung turun, malah naik. Akibatnya, muncul anekdot yang mengatakan Natalan tahun ini tak sepedis biasanya.

Aneh muncul diantara warga karena harus mengurangi porsi rica di bumbu masakannya.

Pantauan sejak Senin (25/12), harga rica di pasaran Manado, menyentuh level Rp140 ribu/kg. Padahal sebelum Natal, harga rica terpantau bermain di kisaran Rp130 ribu/kg.

Para pedadang mengaku kenaikan harga rica akibat stok terbatas. ‘’Masih mahal. Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membeli dengan harga yang tinggi dari pemasok. Sehingga harga jual di tingkat pengecer seperti kami juga naik.

Baca Juga: Semangat Anak Muda Terpancar dalam Diskusi Ekonomi Bersama Gibran di Tiga Jam di Jarod

Hari ini (Senin-Selasa, red) malah sudah jadi Rp140 ribu/kg,’’ tutur sejumlah pedagang, baik di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan, Karombasan.

Mereka tetap berdagang karena tidak merayakan natal. Apalagi pembeli tetap ramai meski hari raya. ‘’Pembeli memang mengeluh. Tapi kami tak bisa menjual di bawah itu jika tak ingin rugi,’’ terang mereka senada.   

Di Kabupaten Minahasa, pasar-pasar tradisional malah menjual rica di atas Rp150 ribu/kg. di Pasar Tomohon, Tondano hingga Langowan, harga bahan pokok ini terus melejit.

"Orang Minahasa itu rajanya makanan pedas. Tak mungkin memasak bumbu tanpa rica. Meski mahal tetap harus beli, apalagi untuk kenbutuhan Hari Raya Natal. Itu berdampak pada masakan.

Biasanya harus sanagt pedis, Natal kali ini agak dikurangi karena mahalnya harga rica,’’ tutur rata-rata warga Minahasa.

Mereka hanya bisa berharap, jelang tahun baru harga rica bisa turun di bawah Rp100 ribuan. ‘’Cuma bisa berharap ada penurunan harga. Mau bagaimana lagi, semua makanan khas Minahasa, tak ada yang tak menggunakan rica. Apalagi bumbu masak untuk daging dan ikan,’’ terang mereka.

Sementara pegiat Pasar Bersehati, Noho Poiyo turut prihatin dengan kenaikan harga rica. Sehrusnya menurut Nopo, panggilannya, harga rica bisa stabil di kisaran Rp100an ribu per kilogram.

Pun stok yang ada mencukupi kebutuhan warga Sulut. Akan tetapi stok rica yang biasanya masuk Manado, kini juga turut ‘diekspor’ ke luar daerah. ‘’Kalimantan, Maluku Utara banyak peminat.

Pedagang yang memasok dari Gorontalo juga menjual kepada para Pedagang dari luar daerah. Apalagi mereka berani membayar dengan harga tinggi. Akibatnya, harga rica di Manado ikut terkerek,’’ tuturnya. Dia memrediksi, harga rica masih akan tetap bertahan di angka Rp140-150 ribu/kg hingga awal Januari 2024. ‘’Pemprov sudah berbuat dengan menggelar Pasar Murah.

Tapi, para pemasok rica di Sulut juga tak bisa menolak Permintaan dari Kalimantan dan Maluku Utara yang berani menawar dengan ahrga tinggi. Yang susah ya kita di Sulut. Harga rica sulit turun,’’ urai Nopo.

Meski harga rica terus melejit, Pemprov Sulut tidak mau menyerah. Asisten I Setprov Sulut Denny Mangala mengatakan bahwa hasil investigasi tim pemrrov ditemukan adanya permainan harga dari para penimbun Sembako. ‘’Sejatinya tak ada kekurangan stok rica.

Pasokan dari luar maupun produksi dari petani Sulut lebih dari cukup. Hanya memang beberapa orang memanfaatkan dengan menimbun rica dan lantas menjulanya dengan harga tinggi. Atau menjual ke pembeli dari luar daerah yang berani menawar dengan harga tinggi,’’ ungkapnya.   

Pemprov sendiri sejak awal Desember sudah melakuykan ansitipasi dengan menggelar pasar murah. Caranya, Pemprov melalui instansi teknis membeli langsung rica ke petani dengan ahrga Rp50 ribu per kilogram dan kembali menjual di bazaar dengan harga yang sama.

Yang jadi petugas lapangan adalah para camat se Sulut. Sekira 171 kecamatan bergerak simultan mengecek rica di tangan petani dan langsung dibeli Pemprov.

"Belajar dari kasus kenaikan rica yang lumayan  tinggi ini, kita akan berdayakan para camat untuk mendata kapan panen dan berapa luas lahan. Agar kita bisa antisipasi jika terjadi kenaikan harga secara tiba-tiba,’’ tukasnya.

"Kita mencoba memutus mata rantai para penimbun dengan cara seperti itu. Nah, untuk pemenuhan kebutuhan Natal dan Tahun Baru, kita lakukan operasi pasar,’’ kata Mangala.

Ayam dan Babi Juga Naik

Tak hanya harga rica yang merangkak naik saat Natal dan jelang Tahun Baru. Harga daging ayam dan daging babi pun ikutan naik. Harga daging ayam misalnya, kini sudah Rp35 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp32 ribu/kg.

Sementara daging babi, biasanya di kisaran Rp80-an ribu/kg, kini sudah di atas Rp90-an ribu/kg.

Stoknya sebenarnya mencukupi. Tapi permintaan meningkat mengingat banyak digunakan untuk kebutuhan hari raya Natal. ‘’Ini harga daging ayam dan daging babi tidak seperti rica.

Masih terkontrol, tapi memang juga turut naik. Penyebabnya cuma karena Permintaan naik dan beberapa pedagang memainkan harga. Hanya ini tidak akan berlangsung lama. Setelah Natal dipastikan kembali normal,’’ urai sejumlah pedagang di Pasar Karombasan.

Sedangkan harga daging sapi stabil."Daging sapi Rp 125 ribu per kilogram, tidak naik dan juga tidak turun," beber mereka.(mpd)

Editor : Nur Fadilah
#Manado #Pasar Bersehati