Jagosatu.com - Makassar kembali jadi sorotan, kali ini karena kasus mencengangkan yang melibatkan dugaan produksi uang palsu di Gedung Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan.
Netizen pun ramai membahas isu ini, terutama setelah berbagai bukti mengejutkan terungkap.
Dari lokasi kejadian, polisi menyita satu unit mesin cetak besar GM-247IIMP-25 offset printing machine, ratusan lembar uang palsu yang siap edar, serta sejumlah mata uang asing seperti won Korea dan dong Vietnam.
Tidak hanya itu, ditemukan pula selembar kertas dengan nilai fantastis, yakni sertifikat deposito Bank Indonesia senilai Rp45 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp700 triliun.
Barang bukti lainnya yang tak kalah mencengangkan meliputi bubuk aluminium, tinta impor dari China, serta berbagai alat pendukung lain seperti plat cetak khusus, timbangan digital, dan sembilan ponsel.
Bahkan, polisi juga menyita dua kendaraan roda empat yang diduga digunakan untuk mendistribusikan uang palsu ini.
Kasus ini menyeret 17 tersangka, termasuk AI, yang ternyata Kepala UPT Perpustakaan UIN Alauddin, dan MN, seorang honorer di Kampus UIN Alauddin II Samata, Gowa.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa tersangka merupakan oknum pegawai Bank BUMN.
Selain itu, tiga nama lain masih buron dan masuk daftar pencarian orang (DPO).
Para tersangka dijerat pasal berat, yaitu Pasal 36 dan 37 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup.
UIN Alauddin Ambil Sikap Tegas
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, tidak tinggal diam.
Ia memastikan AI dan MN telah dipecat dengan tidak hormat.
"Kami mendukung penuh langkah kepolisian untuk mengungkap kasus ini hingga tuntas," tegasnya.
Polda Sulsel juga tengah menelusuri keterlibatan seorang pengusaha besar berinisial ASS, yang diduga turut memfasilitasi produksi uang palsu ini dari rumahnya di Makassar hingga ke dalam kampus UIN Alauddin.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk lebih waspada terhadap kejahatan terorganisir yang melibatkan institusi pendidikan dan perbankan.
Editor : Toar Rotulung