Markus 8: 18-21
MELIHAT DAN MENDENGAR KARYA TUHAN DALAM KELUARGA
"Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?" (ay.18)
Kata 'memahami berasal dari kata 'paham' yang berarti mengerti atau mengetahui dengan benar.
Secara umum dapat dikatakan bahwa 'memahami' berarti mengerti dan mengetahui tentang apa yang menjadi suatu maksud.
Untuk memahami, yang diperlukan bukan hanya mata dan telinga tetapi hati yang sungguh mau melihat dan mendengar.
Yesus menegur para murid yang sedang berdebat tentang arti ragi dalam ungkapan Yesus.
Para murid juga melihat kondisi mereka bahwa mereka hanya memiliki satu roti, jadi para murid mengira bahwa apa yang disampaikan Yesus tentang roti yang diperlukan.
Ketika Yesus mendengar perdebatan ini, Yesus menegur para murid- Nya bahwa perihal roti ada atau tidak, sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.
Yesus menyampaikan bahwa murid-murid sudah menyaksikan sendiri ketika Yesus memberi makan empat ribu dan lima ribu orang, bahkan masih ada tersisa (ayat 19-20).
Artinya Yesus mau menekankan, jika tidak ada roti yang akan dimakan, Yesus bisa melakukan mukjizat.
Yesus mampu mencukupkan bahkan berlebih dari yang dibutuhkan, sehingga persoalan ada roti atau tiak ada roti tidak perlu diperdebatkan.
Namun, bagi Yesus jauh lebih penting agar murid-murid sungguh-sungguh memahami yang diajarkan-Nya, bahwa ajaran dan pengaruh orang lain lebih berbahaya oleh karena itu perlu berhati-hati.
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita hanya melihat dan mendengar secara tersurat sehingga memunculkan kesalahpahaman dalam relasi dengan sesama.
Begitu juga dalam memahami kehendak Tuhan, terkadang dalam pemahaman diri kita sendiri, sekalipun kita telah melihat dan mendengar secara langsung pengalaman bersama dengan Tuhan, tetapi masih belum bisa memahami karya Tuhan.
Oleh karena itu, kita kembali diingatkan oleh Yesus untuk sungguh melihat dan mendengar sehingga dapat memahami kehendak dan maksud Tuhan dalam kehidupan. Amin.
Doa: Ajarlah kami melihat dan mendengar karya-Mu, Ya Tuhan. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow