Pembacaan Alkitab : Matius 28:8-9
TEMA : IMAN YANG KAYA RASA
Memiliki iman yang kaya rasa berarti kita seharusnya memiliki empati yang lebih baik
Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan sukacita yang besar, dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (Ay. 8).
Sobat muda, bagaimanakah perasaan Maria Magdalena dan Maria yang diutus untuk memberitakan kabar kebangkitan Yesus?
Satu hal dengan pasti tertulis pada ayat 8: perasaan takut dan sukacita ada dalam diri mereka.
Sobat muda, bahan bacaan kita pada hari ini memperlihatkan bagaimana iman Kristen tidak menolak perasaan manusia.
Perasaan manusia justru dianggap penting dan turut dicatat dalam kisah ini.
Hal ini semakin menarik karena perasaan yang dituliskan bukan hanya satu, tetapi dua (takut dan sukacita), mengakui bahwa perasaan yang campur aduk itu nyata.
Ya, menjadi pengikut Yesus berarti juga merayakan perasaan- perasaan yang timbul di dalam hati. Iman yang kaya rasa, itulah iman Kristen.
Mendengar berita kebangkitan Yesus, Maria Magdalena dan lainnya merasa takut dan sukacita.
Saat menantikan kelahiran Yesus pun, kita merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan, mengingat Yesus yang kita sambut pada akhirnya harus mati di kayu salib.
Sobat muda, memiliki iman yang kaya rasa seharusnya tidak hanya berdampak pada diri sendiri.
Memiliki iman yang kaya rasa berarti kita seharusnya memiliki empati yang lebih baik. Mengapa? Karena kita pun merasa.
Kita tahu rasanya takut, senang, sedih, jijik, marah disb, sehingga seharusnya kita juga mampu memahami bagaimana perasaan orang lain.
Patut disayangkan bahwa akhir-akhir ini yang viral dan sering kali dibanggakan ialah kekerasan dan kekuasaan.
Manusia berbangga ketika terlihat hebat dan kuat, sekalipun sesamanya tertindas dan lemah. Iman pun tak lagi menjadi kaya rasa, tetapi menjadi iman tanpa rasa.
Iman yang memisahkan antara relasi dengan Tuhan dan manusia, seolah keduanya tidak ada kaitannya. Maka, marilah kita menghayati iman, merayakan perasaan, dan mengasihi dengan empati. Amin
Doa: Tuhan, terima kasih atas perasaan-perasaan yang kami alami. Ajarkanlah kami uwuk lebih memahamu perasaan orang lain dan memiliki empati yang labih baik Amin
Editor : Alfianne Lumantow