Pembacaan Alkitab : Matius 28: 11-13
TEMA : PASKAH: KEBENARAN DI ATAS REKAYASA
"Sesudah berkumpul dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu Itu" (ay. 12)
Dahulu kala, seorang Kaisar Tiongkok yang telah tua mengumpulkan ketiga anaknya untuk menentukan siapa yang akan menjadi penggantinya. Ia membagikan benih bunga dan berkata, "Siapa yang membawa bunga terindah dari benih ini tahun depan, dialah penggantiku". Ping menanam benihnya dengan tekun, tetapi satu per satu gagal tumbuh hingga benih terakhir. Saat waktu tiba, ketiganya berkumpul di istana. Dua saudara Ping membawa pot berisi bunga yang indah, sedangkan Ping datang dengan pot kosong dengan rasa takut dan wajah tertunduk malu.
Kaisar memeriksa pot-pot itu. Ketika melihat pot Ping, ia bertanya mengapa tidak ada bunga. Ping menjelaskan bahwa semua benih telah ditanam, tetapi tak satu pun tumbuh.
Kaisar tersenyum dan berkata, "Inilah kaisar kalian yang baru." Semua orang terkejut dan memprotes.
Kaisar lalu menjelaskan bahwa benih yang dibagikan telah direbus hingga mati jadi tidak mungkin tumbuh.
Dua anaknya mengganti benih karena takut gagal. Ping berani membawa pot kosong karena jujur pada kenyataan.
Keterpilihan Ping menunjukkan bahwa kebenaran, meski diliputi rasa takut dan malu, tetap lebih kuat dan pasti mengalahkan rekayasa kebohongan.
Kebenaran berita Paskah yang ditugaskan Yesus kepada kaum perempuan, ternyata harus berhadapan dengan rekayasa dusta Mahkamah Agama.
Berita tentang segala yang terjadi oleh beberapa orang dari penjaga, dibungkam dengan rekayasa ceritera kebohongan dan pemberian sejumlah uang.
Sukacita Paskah yang kembali kita rayakan, menjadi bukti bahwa kebenaran kebangkitan Yesus berada di atas rekayasa dusta yang dibangun.
Iman Paskah mendorong kita untuk berani berkata benar walaupun diliputi rasa takut dan malu dari pada membangun rekayasa dusta yang tepat pada waktunya pasti akan tersingkap. Amin.
Doa: Tuhan, mampukan kami untuk teguh pada kebenaran dan jauh dari dusta. Amin
Editor : Alfianne Lumantow