Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

TRAGEDI BEKASI: Guru SD Asal Cikarang Ikut Jadi Korban

Pratama Karamoy • Rabu, 29 April 2026 | 14:30 WIB
DUKA MENDALAM: Keluarga Nurlaela, korban tabrakan kereta api, berdoa di tempat pemakaman keluarga di Cikarang Timur kemarin (28/4). (Foto: Antara)
DUKA MENDALAM: Keluarga Nurlaela, korban tabrakan kereta api, berdoa di tempat pemakaman keluarga di Cikarang Timur kemarin (28/4). (Foto: Antara)

 DUKA menyelimuti rumah sederhana di Kampung Ceger, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, kemarin (28/4). Pelayat berdatangan sejak pagi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Nurlaela, 40, guru yang dikenal pendiam dan berdedikasi. Nurlaela menjadi salah satu korban meninggal dalam tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam.

Isak tangis keluarga mengiringi prosesi pemakaman yang digelar tak jauh dari rumah duka. Sehari-hari, almarhumah merupakan guru pegawai negeri sipil (PNS) di SDN Pejagan 11, Pulogebang, Jakarta Timur. Rutinitasnya tak pernah berubah: berangkat dan pulang mengajar menggunakan KRL. "Setiap hari naik kereta, pagi berangkat, sore pulang. Memang begitu kesehariannya," ujar Mulyadi, paman korban, dikutip dari Radar Bekasi.

Kekhawatiran keluarga mulai muncul saat Nurlaela tak kunjung pulang seperti biasanya. Upaya menghubungi ponselnya justru membawa kabar yang tak diharapkan. Telepon tersebut diangkat oleh petugas yang menemukan perangkat itu di lokasi kejadian. Kepastian nasib Nurlaela baru diketahui sekitar pukul 01.00 dini hari. Keluarga kemudian berkoordinasi untuk menjemput jenazah. "Jam satu kami baru ketemu, lalu langsung diurus. Sampai rumah sekitar jam tiga pagi," tutur Mulyadi. Ia menambahkan, kondisi fisik korban relatif utuh. Tidak ditemukan luka luar yang parah, meski diduga mengalami cedera serius di bagian dalam tubuh. "Alhamdulillah tubuhnya utuh. Hanya kakinya patah, kemungkinan ada luka dalam," imbuhnya. Di mata keluarga dan tetangga, Nurlaela dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tidak banyak bicara. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan juga terlihat dari pencapaian yang baru saja diraih.

Tiga bulan sebelum musibah itu terjadi, ia menuntaskan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta. "Dia orangnya ulet, tidak banyak bicara. Fokus bekerja. Baru lulus S2 tiga bulan lalu," kenang Mulyadi. Kini, perjalanan hidup Nurlaela telah berakhir. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga yang berada tak jauh dari rumah duka, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan para muridnya.

Baca Juga: TRAGEDI BEKASI: Kecepatan Argo Bromo Anggrek 110 Km/Jam saat Menabrak KRL 5568

Menteri PPPA Usul Gerbong Wanita KRL Dipindah ke Tengah

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong khusus wanita pada KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta.

Arifah mengatakan, pihaknya akan mendorong evaluasi tata letak gerbong kepada PT Kereta Api Indonesia. Menurut dia, penempatan gerbong wanita di tengah dinilai lebih aman karena dapat mengurangi risiko fatal saat terjadi benturan, baik dari depan maupun belakang kereta.

"Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung," ujar Arifah usai menjenguk korban di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4).(zak/ris/oni)

Editor : Pratama Karamoy
#Tragedi Bekasi #KRL Commuter Line