Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Rabu, 13 Mei 2026, Wahyu 3:1-6  Membentuk Sensitifitas Iman

Alfianne Lumantow • Senin, 11 Mei 2026 | 08:59 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Wahyu 3:1-6

TEMA : MEMBENTUK SENSITIFITAS IMAN

Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tersis yang sudah hamper mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu, Aku dapati sempurna dihadapan Allah-Ku (ay.2).

 

Kota Sardis secara geografis, memiliki pertahanan yang sangat kuat, karena kota ini dibangun di atas bukit yang terjal.

Dalam catatan sejarah, kota ini juga merupakan kota yang sangat kaya raya, karena jalur perdagangan yang aktif.

Namun sejarah juga mencatat, bahwa kota ini pernah digempur oleh raja Koresy, raja Persia pada tahun 549 BC dan oleh Antiokhus III tahun 216 BC (Leon Morris).

Dua peristiwa penaklukan atas kota Sardis, terjadi akibat kelalaian pasukan Sardis yang tidak menempatkan penjaga, karena menganggap kota mereka sulit dihancurkan musuh.

Catatan kedua atas kota ini, karena masyarakat di Sardis secara finansial adalah orang-orang yang kaya raya, sehingga muncul mentalitas pemalas dan lebih mengandalkan kekayaan yang dimiliki.

 

Jemaat Tuhan di Sardis, memiliki karakter yang hampir sama dengan masyarakat di kota ini. Mereka bermalas-malasan dan kedapatan lalai dalam hal beriman.

Di ayat 2, dikatakan bahwa jemaat ini telihat hidup, tetapi pada hakikatnya mereka telah mati, karena tidak ada satu pun pekerjaan yang mereka lakukan, yang berkenan di hadapan Tuhan Allah.

Jemaat Sardis hidup di dalam kemunafikan dan berkamuflase di hadapan orang lain. Hanya sebagian saja yang kedapatan tidak mencemarkan pakaiannya atau hidup di dalam kebenaran (ayat 4).

 

Catatan bagi kita selaku Gereja hari ini, agar menjadi Gereja yang tidak “besandiwara”di hadapan orang lain dalam kehidupan bersama.

Tetapi mampu menampakkan jati diri yang benar di dalam karakter iman, yang sesuai dengan panggilan dan pengutusan Tuhan bagi kita. 

Mari menjadi Gereja yang selalu waspada terhadap serangan iblis, yang berusaha merusak iman kita kepada Allah. Berjaga-jagalah dan giatlah dalam perbuatan baik.

 

Doa : Tuhan, ajar kami untuk peka menjaga iman kami. Terpujilah Engkau yang mengetahui isi hati kami, Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN PAGI #GPIB #SABDA BINA UMAT