Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Minggu, 24  Mei 2026, Kisah Para Rasul 2:7-13  Ketika Allah Berbicara Dalam Bahasa Manusia

Alfianne Lumantow • Kamis, 21 Mei 2026 | 11:37 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 2:7-13

TEMA : KETIKA ALLAH BERBICARA DALAM BAHASA MANUSIA

"Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan". (ay. 8)

 

Pentakosta atau hari ke-50, merupakan hari raya yang sangat penting bagi orang Yahudi. Selain mensyukuri hasil panen gandum, mereka juga bersyukur kepada Allah yang berkenan menyatakan kehendak-Nya kepada umat-Nya.

Sebagai perayaan yang sangat penting, maka semua orang datang, termasuk para murid Yesus, berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Hari Pentakosta.

Di Hari Pentakosta, Allah menyatakan kehadiran-Nya melalui lidah api yang bertebaran dan hinggap pada para murid, sehingga mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam berbagai bahasa.

Hal ini terjadi sebagaimana yang telah disampaikan Yesus kepada para murid.

 

Di hari Pentakosta, Allah menyatakan diri-Nya, melalui para murid, tidak hanya melalui satu bahasa atau satu bangsa, melainkan melalui bahasa orang-orang yang hadir.

Antara lain, bahasa Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, bahkan Asia. Karena itu, ayat 8 mencatat bahwa orang banyak terkejut, sebab para murid berbicara dalam bahasa di mana mereka dilahirkan.

Bacaan ini hendak menegaskan bahwa Allah tidak menuntut manusia untuk berbicara dalam bahasa surgawi, melainkan Allah merendahkan diri-Nya untuk berbicara dalam bahasa manusia.

Di sisi lain, Hari Pentakosta juga mengingatkan bahwa Injil tidak disampaikan dengan cara yang sulit dimengerti, melainkan dengan cara yang dapat dimengerti.

Karena itu, bahasa ibu, bahasa identitas, dipakai Allah sebagai sarana mewartakan karya keselamatan.

 

Selain itu, hendak menegaskan bahwa Allah menghargai keberagaman manusia. Ia memakai perbedaan bahasa dan budaya sebagai alat untuk menyatakan karya keselamatan-Nya di dunia ini.

Dengan demikian, tugas gereja adalah menyampaikan kasih dan kebenaran Allah dengan bahasa yang dapat dipahami oleh sesama.

Bahasa kasih, bahasa empati, bahasa penerimaan, dan bahasa yang membangun. Amin.

 

Doa: Ya Tuhan, jadikan aku alat dalam tangan-Mu, untuk bersaksi tentang kasih-Mu. Amin.

 

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN MALAM #GPIB #SABDA BINA UMAT