Pembacaan Alkitab : Imamat 25:1-7
TEMA : MERENGKUH BUMI
Tanah adalah punya Tuhan yang harus di rawat dan di jaga tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. (Ay. 2)
Hari perhentian tidak hanya berlaku pada hari Sabat saja, tetapi juga tanah perlu istirahat dari eksploitasi manusia. Oleh karena itu tanah perlu direngkuh dari eksploitasi.
Merengkuh bumi berarti pandangan iman yang memberikan hak tanah untuk beristirahat, sebagaimana manusia butuh istirahat.
Istirahat bagi tanah berarti memberi kesempatan kepada tanah untuk memulihkan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah.
Tanah dalam pemahaman orang Israel adalah sumber berkat bagi kehidupan. Oleh karena itu dalam perikop bacaan ini, kita diajak melihat berkat itu bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keadilan sosial.
Hasil dari tanah bukan untuk dinikmati sendiri tetapi berbagi pada sesama dan makhluk hidup yang lain agar terjadi keseimbangan.
Tanah sesungguhnya milik Tuhan, bukan milik kita. Oleh karena itu pergunakan tanah itu dalam takut akan Tuhan.
Selama manusia tinggal di bumi yang tidak mengindahkan firman Tuhan. Ada banyak spesies tumbuhan dan binatang yang hilang akibat keserakahan manusia.
Alam mulai marah atas keserakahan manusia dengan adanya banjir bandang, banjir rob, siklus alam yang tidak menentu, serangan hama, kekeringan, dst.
Kita sudah tidak bersahabat lagi dengan alam. Kita sudah menjadi monster yang membumihanguskan apa saja demi memenuhi nafsu duniawi yang tak pernah terpuaskan sehingga kita melupakan citra kita sebagai gambar Allah (imagodei).
Dengan mengistirahatkan tanah, kita diajak untuk berhenti dari keserakahan dan eksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri.
Ketika kita berhenti, kita diajak untuk hidup sepenuhnya hanya bergantung pada pemeliharaan Tuhan. Kita hidup bukan dari kekuatan pribadi, tetapi dari pemeliharaan Tuhan.
Kita diajak untuk berserah pada pemeliharaan Tuhan. Mari kita rengkuh bumi kita, agar alam bersahabat lagi kepada kita. Amin.
Don: Tuhan ajarlah aku selalu menjaga bumi yang Engkau titipkan. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow