Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Krisis Energi Timur Tengah Bisa Lebih Parah dari Pandemi

Pratama Karamoy • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:49 WIB
HEMAT: Kenaikan tajam harga solar karena krisis energi membuat para sopir truk di AS mengemudi lebih lambat untuk mengurangi biaya operasional.
HEMAT: Kenaikan tajam harga solar karena krisis energi membuat para sopir truk di AS mengemudi lebih lambat untuk mengurangi biaya operasional.
 
 

LONDON – Krisis energi yang dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak ekonomi global yang lebih berat daripada pandemi Covid-19. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperingatkan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dapat menyeret dunia ke dalam perlambatan ekonomi tajam disertai lonjakan inflasi dan suku bunga.

OECD adalah forum yang negara-negara anggotanya berkomitmen pada demokrasi dan ekonomi pasar. Dalam laporan terbarunya, OECD menyebut skenario terburuk atau dark scenario dapat terjadi apabila ketegangan di kawasan Teluk terus mengganggu arus energi hingga paruh kedua 2027. Kondisi tersebut dinilai berisiko menciptakan krisis ekonomi global yang menyerupai masa pandemi, bahkan dengan tekanan inflasi yang lebih tinggi.

Dilansir Financial Times pada Kamis (4/6), OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia dapat merosot menjadi 2,1 persen pada 2026 dan hanya 1,8 persen pada 2027 jika gangguan pasokan energi berlangsung lama. Angka tersebut jauh di bawah proyeksi dasar OECD yang memperkirakan pertumbuhan global sebesar 2,8 persen pada 2027 apabila situasi geopolitik kembali stabil.

OECD menilai ancaman tersebut tidak hanya berasal dari kenaikan harga energi, tetapi juga dampak berantai terhadap rantai pasok, perdagangan internasional, investasi, dan kepercayaan pasar. Situasi semakin memanas setelah Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait sebagai balasan atas serangan AS di wilayah Iran selatan.

Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, mengakui skenario tersebut merupakan ancaman serius bagi perekonomian dunia. "Saya berharap kita belum memasuki skenario gangguan berkepanjangan ini, karena ini adalah skenario yang sangat gelap," ujarnya.

Baca Juga: BI: Rupiah Anjlok Lagi karena Tensi Timteng dan Permintaan Dolar AS

Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat

Tekanan diperkirakan akan dirasakan hampir di seluruh negara. Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat menjadi 2 persen dengan inflasi mencapai 3,7 persen, jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen. Inggris juga diperkirakan menghadapi inflasi pada level yang sama.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan zona euro diperkirakan turun dari 1,4 persen menjadi 0,8 persen tahun ini sebelum sedikit membaik pada 2027. OECD juga memperingatkan sekitar sepertiga negara anggotanya berisiko mengalami penurunan upah riil, yang berarti daya beli masyarakat terus tergerus akibat inflasi berkepanjangan.

OECD memperkirakan bank-bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, kemungkinan harus menaikkan suku bunga antara 0,5 hingga 0,75 poin persentase untuk menahan inflasi. Langkah tersebut berisiko memperlambat aktivitas ekonomi lebih dalam dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. (din/gas)

Editor : Pratama Karamoy
#global