Pembacaan Alkitab: 1 Petrus 2:1–8
Tema: BATU HIDUP, BUKAN BATU SANDUNGAN
"Jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan." (1 Petrus 2:3)
Shalom, Sobat Muda yang dikasihi Tuhan. Masa muda sering disebut sebagai masa yang penuh semangat, mimpi, dan kesempatan. Namun, di sisi lain, masa muda juga dipenuhi dengan berbagai pergumulan. Kita ingin diterima, dihargai, dan diakui.
Tetapi kenyataannya, tidak semua orang akan menerima kita. Ada kalanya kita mengalami penolakan, diremehkan, dihina, bahkan menjadi bahan ejekan karena iman, prinsip hidup, atau karena kita memilih melakukan apa yang benar.
Ketika mengalami perlakuan seperti itu, respons yang paling mudah muncul adalah marah. Kita ingin membalas perkataan yang menyakitkan dengan kata-kata yang lebih tajam. Kita ingin membuktikan bahwa kita lebih baik daripada mereka yang merendahkan kita. Bahkan terkadang muncul keinginan untuk membalas dendam atau menjauh dari Tuhan karena merasa hidup ini tidak adil.
Perasaan seperti ini sangat manusiawi. Terlebih lagi, di usia muda emosi sering kali masih berkembang. Kita mudah tersulut oleh komentar di media sosial, perkataan teman, atau perlakuan yang tidak adil di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan di lingkungan keluarga. Namun, firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Surat 1 Petrus ditujukan kepada orang-orang percaya yang sedang mengalami penderitaan. Mereka bukan sedang menikmati hidup yang nyaman, melainkan menghadapi tekanan, penghinaan, dan pelecehan dari orang-orang yang menolak iman mereka kepada Kristus. Bayangkan betapa beratnya keadaan mereka. Mereka bisa saja memilih membalas perlakuan itu dengan kebencian atau kekerasan.
Karena itu Petrus memulai nasihatnya dengan sebuah perintah yang tegas: "Buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat, segala kemunafikan, segala kedengkian dan segala fitnah." (ayat 1)
Perhatikan bahwa Petrus tidak langsung berbicara tentang musuh di luar. Ia justru mengajak jemaat memeriksa hati mereka sendiri. Mengapa? Karena sering kali masalah terbesar bukanlah tekanan dari luar, tetapi respons yang muncul dari dalam hati.
Saat kita terluka, hati bisa dipenuhi kebencian. Saat kita iri melihat keberhasilan orang lain, kita mulai membandingkan diri. Saat merasa diperlakukan tidak adil, kita tergoda memfitnah atau menjatuhkan orang lain. Sedikit demi sedikit, hati yang seharusnya dipenuhi kasih berubah menjadi tempat berkembangnya dosa.
Inilah yang disebut Petrus sebagai "batu sandungan". Batu sandungan bukan hanya sesuatu yang membuat orang lain jatuh, tetapi juga sesuatu yang menghalangi kita sendiri untuk menikmati kasih karunia Tuhan. Kebencian, iri hati, kepalsuan, dan fitnah akan membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi semakin jauh.
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam semua itu? Jawabannya ada pada ayat 3: "Jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan."
Ungkapan "mengecap" berarti mengalami secara pribadi. Sama seperti seseorang tidak bisa menjelaskan rasa manis madu sebelum mencicipinya, demikian juga kasih Tuhan bukan hanya teori, tetapi pengalaman hidup.
Petrus sedang mengingatkan jemaat, "Ingatlah apa yang sudah Tuhan lakukan bagimu. Ingatlah kasih-Nya. Ingatlah pengampunan-Nya. Ingatlah bahwa hidupmu sudah diselamatkan oleh Kristus."
Orang yang benar-benar sadar bahwa dirinya telah menerima kasih karunia Tuhan akan lebih mudah mengampuni. Orang yang mengingat betapa besar pengampunan Tuhan akan belajar melepaskan dendam. Orang yang hidup dalam rasa syukur tidak mudah dikendalikan oleh kebencian.
Inilah dasar kehidupan orang percaya. Bukan keadaan yang baik, bukan pujian manusia, bukan jumlah teman, bukan popularitas di media sosial, tetapi Kristus sendiri.
Karena itu Petrus melanjutkan dengan mengatakan bahwa Yesus adalah Batu Hidup.
Batu biasanya identik dengan benda mati. Tetapi Yesus disebut Batu Hidup karena sekalipun Ia ditolak, disalibkan, dan mati, Ia bangkit pada hari yang ketiga. Ia hidup untuk selama-lamanya.
Dunia memang pernah menolak Yesus. Para pemimpin agama menganggap-Nya tidak layak. Banyak orang meninggalkan-Nya. Namun justru Batu yang dibuang itulah yang dipilih Allah menjadi batu penjuru.
Batu penjuru adalah bagian terpenting dalam sebuah bangunan. Seluruh bangunan bergantung pada posisi batu tersebut. Jika batu penjurunya kuat, bangunan akan kokoh.
Demikian juga hidup kita. Jika dasar hidup kita adalah penerimaan manusia, kita akan mudah kecewa ketika ditolak. Jika dasar hidup kita adalah prestasi, kita akan hancur ketika gagal. Jika dasar hidup kita adalah kekayaan, kita akan takut kehilangan. Jika dasar hidup kita adalah popularitas, kita akan terus hidup mencari pengakuan.
Tetapi jika Kristus menjadi Batu Penjuru kehidupan kita, kita akan tetap berdiri sekalipun badai datang. Sebaliknya, Petrus juga mengatakan bahwa bagi orang yang menolak Kristus, Ia menjadi batu sandungan. Artinya, sikap seseorang terhadap Yesus menentukan arah hidupnya.
Ketika seseorang menerima Kristus sebagai dasar hidupnya, ia dibangun menjadi rumah rohani yang memuliakan Allah. Namun ketika seseorang menolak Kristus, ia justru tersandung oleh pilihannya sendiri.
Sobat Muda, pertanyaannya sekarang adalah: Kristus menjadi Batu Hidup atau batu sandungan dalam hidup kita? Kadang-kadang tanpa sadar kita datang ke gereja, mengikuti ibadah, bahkan melayani, tetapi keputusan-keputusan hidup kita tetap tidak didasarkan pada firman Tuhan.
Kita masih membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita masih menyimpan dendam bertahun-tahun. Kita masih menikmati menyebarkan gosip. Kita masih iri melihat keberhasilan teman. Kita masih mencari validasi manusia lebih daripada mencari kehendak Tuhan.
Jika demikian, mungkin Kristus belum benar-benar menjadi dasar hidup kita.
Sebaliknya, ketika Kristus menjadi Batu Hidup, karakter kita perlahan berubah. Kita belajar mengampuni ketika disakiti. Kita tetap berkata jujur walaupun harus rugi. Kita memilih rendah hati ketika dipuji. Kita tetap mengasihi ketika dibenci. Bukan karena kita kuat, tetapi karena Kristus yang hidup di dalam kita memberikan kekuatan.
Di zaman media sosial sekarang, menjadi batu hidup juga berarti menghadirkan damai di tengah dunia yang penuh kebencian. Jangan sampai akun media sosial kita justru menjadi tempat menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, atau komentar yang melukai orang lain. Sebaliknya, jadilah pribadi yang membangun, menguatkan, dan menghadirkan kasih Kristus melalui setiap perkataan dan tindakan.
Ingatlah, orang lain mungkin tidak langsung membaca Alkitab, tetapi mereka membaca kehidupan kita setiap hari. Mereka melihat bagaimana kita bereaksi ketika dihina, bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat, dan bagaimana kita menghadapi kegagalan. Melalui sikap itulah Kristus dapat dikenal.
Akhirnya, firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk membangun hidup di atas dasar yang kokoh. Tidak ada dasar hidup yang lebih kuat daripada kasih karunia Tuhan yang telah kita alami di dalam Kristus. Dunia dapat berubah. Teman dapat meninggalkan kita. Keadaan dapat menjadi sulit. Namun Kristus tetap sama, dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.
Karena itu, marilah kita memilih menjadi batu hidup, yaitu pribadi yang dibangun di atas Kristus dan menjadi berkat bagi sesama, bukan menjadi batu sandungan yang melukai orang lain atau menghalangi pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.
Kiranya setiap kita terus mengingat bahwa kita telah mengecap kebaikan Tuhan. Pengalaman akan kasih-Nya itulah yang memberi kita kekuatan untuk tetap berdiri teguh, hidup dalam kekudusan, dan melangkah dengan penuh pengharapan menuju masa depan yang Tuhan sediakan. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Tolong kami menjadikan Kristus sebagai Batu Hidup dan dasar kehidupan kami. Jauhkan kami dari kebencian, iri hati, dan segala yang menjadi batu sandungan. Mampukan kami hidup sebagai saksi kasih-Mu di mana pun kami berada. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow