PEMBACAAN ALKITAB: Kejadian 41:37–41
TEMA: IMAN, HIKMAT, DAN TINDAKAN NYATA
Ayat Utama: "Lalu Firaun berkata kepada para pegawainya: 'Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?'" (Kejadian 41:38)
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Sering kali kita mendengar ungkapan, "Iman itu penting." Memang benar. Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan di dalam hati atau perkataan di bibir. Iman yang sejati akan melahirkan hikmat, dan hikmat akan menghasilkan tindakan nyata yang membawa berkat bagi banyak orang.
Kisah Yusuf dalam Kejadian 41 merupakan salah satu contoh yang sangat jelas tentang bagaimana Tuhan bekerja melalui seseorang yang hidup dalam iman dan ketaatan. Setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan, Yusuf akhirnya dipanggil menghadap Firaun. Ia bukan dipanggil karena memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi, melainkan karena Allah memberikan kepadanya kemampuan untuk menafsirkan mimpi.
Sebelumnya Yusuf mengalami perjalanan hidup yang tidak mudah. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah oleh istri Potifar, dipenjarakan tanpa kesalahan, bahkan dilupakan oleh orang yang pernah ia tolong. Dari sudut pandang manusia, hidup Yusuf penuh dengan ketidakadilan. Namun di balik semua itu, Tuhan sedang mempersiapkan Yusuf untuk sebuah tugas yang jauh lebih besar.
Ketika Firaun bermimpi dan tidak ada seorang pun yang mampu menjelaskan artinya, Yusuf dipanggil keluar dari penjara. Dengan rendah hati Yusuf berkata bahwa bukan dirinya yang mampu memberikan jawaban, melainkan Allah yang akan menyatakan artinya kepada Firaun. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yusuf tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Ia sadar bahwa segala kemampuan yang dimilikinya berasal dari Tuhan.
Setelah menjelaskan arti mimpi Firaun, Yusuf tidak berhenti sampai di situ. Ia juga memberikan solusi yang bijaksana. Yusuf mengusulkan agar Mesir mengumpulkan hasil panen selama tujuh tahun kelimpahan sebagai persiapan menghadapi tujuh tahun kelaparan yang akan datang. Usulan ini bukan sekadar teori, tetapi sebuah langkah nyata yang dapat menyelamatkan bangsa Mesir dan banyak bangsa lainnya.
Inilah yang membuat Firaun kagum. Ia tidak hanya melihat kecerdasan Yusuf, tetapi juga melihat bahwa Roh Allah bekerja di dalam dirinya. Karena itulah Firaun berkata, "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?"
Sungguh luar biasa bahwa pengakuan itu datang dari seorang raja yang tidak menyembah Allah Israel. Melalui kehidupan Yusuf, bahkan seorang penguasa kafir dapat melihat kemuliaan Allah.
Dari peristiwa ini kita belajar bahwa Allah dapat memakai siapa saja dan situasi apa saja untuk menggenapi rencana-Nya. Bahkan Firaun dipakai Tuhan untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir.
Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan hanya bekerja melalui orang-orang percaya. Memang Tuhan memakai umat-Nya, tetapi Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan juga dapat memakai siapa pun untuk melaksanakan kehendak-Nya. Tidak ada seorang pun yang berada di luar kedaulatan Allah.
Pertanyaannya bagi kita adalah, apakah kehidupan kita juga memancarkan kehadiran Allah sehingga orang lain dapat melihat karya-Nya melalui diri kita?
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada tiga pelajaran penting yang dapat kita renungkan melalui pengalaman Yusuf.
Pertama, iman membawa kita hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Selama bertahun-tahun Yusuf tidak mengetahui bagaimana akhir dari penderitaannya. Namun ia tetap setia kepada Tuhan. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tidak kehilangan kejujuran sekalipun hidupnya dipenuhi ketidakadilan.
Iman bukan berarti kita tidak pernah mengalami kesulitan. Justru sering kali iman diuji melalui berbagai persoalan hidup. Ketika doa belum dijawab, ketika usaha belum berhasil, ketika kesehatan menurun, atau ketika keluarga menghadapi pergumulan, pada saat itulah iman kita sedang dibentuk.
Orang yang beriman tidak hanya percaya ketika keadaan baik, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika jalan hidup tampak gelap. Iman seperti itulah yang dimiliki Yusuf.
Kedua, hikmat Allah memampukan kita mengambil keputusan yang benar.
Banyak orang memiliki pengetahuan, tetapi tidak semua memiliki hikmat. Pengetahuan menjawab pertanyaan "apa yang harus dilakukan." Hikmat menjawab pertanyaan "bagaimana melakukan yang benar pada waktu yang tepat."
Yusuf bukan hanya memahami arti mimpi Firaun, tetapi ia juga mengetahui langkah-langkah praktis untuk menghadapi krisis yang akan datang. Hikmat Allah membuat Yusuf mampu melihat jauh ke depan dan mengambil keputusan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Dalam kehidupan kita sekarang, hikmat sangat dibutuhkan. Ketika orang tua mendidik anak. Ketika pemimpin mengambil keputusan. Ketika pelayan Tuhan melayani jemaat. Ketika pekerja menjalankan tanggung jawabnya. Ketika anak-anak muda menentukan masa depan mereka.
Semua membutuhkan hikmat dari Tuhan. Hikmat itu diperoleh melalui kehidupan yang dekat dengan Allah, rajin membaca firman-Nya, serta memiliki hati yang mau diajar.
Ketiga, iman dan hikmat harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Yusuf tidak hanya berbicara tentang penyelamatan Mesir. Ia memberikan rencana yang jelas dan kemudian melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Inilah yang sering kali menjadi tantangan bagi orang percaya.
Kita mudah berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni. Kita mudah berbicara tentang kepedulian, tetapi enggan menolong. Kita mudah berbicara tentang kejujuran, tetapi masih tergoda untuk berbuat curang. Firman Tuhan mengajarkan bahwa iman yang hidup akan menghasilkan tindakan nyata.
Tindakan nyata itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Memberikan pertolongan kepada tetangga yang membutuhkan. Menghibur orang yang sedang berduka. Menyelesaikan pekerjaan dengan jujur. Menjadi pendamai di tengah konflik keluarga. Memberikan waktu untuk mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan. Melayani di gereja dengan tulus.
Semua tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih akan menjadi kesaksian tentang kehadiran Allah di tengah dunia.
Saudara-saudari, Dunia saat ini sedang menghadapi berbagai krisis. Krisis ekonomi, krisis moral, krisis kepedulian, bahkan krisis pengharapan. Di tengah keadaan seperti ini, Tuhan memanggil umat-Nya untuk menjadi seperti Yusuf.
Orang yang tetap beriman ketika menghadapi kesulitan. Orang yang meminta hikmat Tuhan dalam setiap keputusan. Orang yang menghadirkan solusi, bukan menambah persoalan. Orang yang menjadi pembawa damai, bukan penyebar kebencian. Orang yang bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab.
Melalui kehidupan seperti itulah orang lain dapat melihat bahwa Allah benar-benar hidup dan bekerja. Pengakuan Firaun terhadap Yusuf mengingatkan kita bahwa kesaksian hidup sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata.
Ketika orang melihat kejujuran kita, mereka melihat karakter Kristus. Ketika orang melihat kasih kita, mereka merasakan kasih Allah. Ketika orang melihat kesetiaan kita, mereka belajar tentang kesetiaan Tuhan. Kiranya kehidupan kita menjadi surat Kristus yang terbuka, sehingga siapa pun yang berjumpa dengan kita dapat melihat karya Tuhan melalui perkataan, sikap, dan tindakan kita.
Saudara-saudari yang terkasih, kisah Yusuf mengajarkan bahwa iman kepada Allah tidak pernah sia-sia. Tuhan sanggup mengubah penderitaan menjadi berkat, mengubah penjara menjadi istana, dan mengubah seorang budak menjadi pemimpin bangsa.
Namun keberhasilan Yusuf bukan hanya karena ia memiliki iman. Ia juga hidup dalam hikmat Allah dan mewujudkan imannya melalui tindakan nyata yang membawa keselamatan bagi banyak orang.
Kiranya firman Tuhan hari ini mendorong kita untuk terus bertumbuh dalam iman, mencari hikmat Tuhan dalam setiap keputusan, dan mewujudkan kasih Kristus melalui tindakan nyata dalam keluarga, tempat kerja, gereja, dan masyarakat. Dengan demikian, melalui kehidupan kita, nama Tuhan dipermuliakan dan banyak orang mengalami berkat serta kasih-Nya. Amin.
Doa : Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan kami. Anugerahkanlah iman yang teguh, hikmat dalam setiap keputusan, dan hati yang rela mewujudkan kasih melalui tindakan nyata. Pakailah hidup kami menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow