PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 2:28–3:3
TEMA: CEO PERUSAHAAN KASIH
"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah." (1 Yohanes 3:1)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Di tengah maraknya tontonan digital, drama China atau dracin menjadi salah satu hiburan yang digemari berbagai kalangan, termasuk orang dewasa. Salah satu alur cerita yang sering muncul adalah tentang seorang tokoh yang menyembunyikan identitasnya. I
a bekerja sebagai pegawai biasa, diperlakukan rendah oleh rekan-rekannya, bahkan sering dimanfaatkan. Namun, pada suatu saat identitasnya terbongkar. Ternyata ia adalah anak pemilik perusahaan atau anak direktur utama (CEO).
Seketika, perlakuan orang-orang berubah. Mereka yang dahulu meremehkannya menjadi sangat hormat, bahkan takut. Statusnya ternyata jauh lebih tinggi daripada yang mereka bayangkan.
Ilustrasi ini membantu kita memahami pesan Firman Tuhan hari ini. Rasul Yohanes mengingatkan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus memiliki identitas yang sangat istimewa. Kita bukan sekadar pengikut agama, bukan hanya anggota gereja, melainkan anak-anak Allah.
Perhatikan bagaimana Yohanes memulai ayat pertama dengan seruan, "Lihatlah!" Kata ini bukan sekadar ajakan untuk melihat dengan mata, tetapi untuk merenungkan dengan sungguh-sungguh.
Yohanes ingin jemaat berhenti sejenak dan mengagumi kasih Allah yang luar biasa. "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah."
Yang luar biasa bukan hanya karena kita disebut anak-anak Allah, tetapi Yohanes langsung menegaskan, "dan memang kita adalah anak-anak Allah." Ini bukan sekadar gelar kehormatan. Ini adalah identitas yang sungguh-sungguh diberikan oleh kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus.
Di dunia ini, identitas sering ditentukan oleh banyak hal: jabatan, kekayaan, pendidikan, pekerjaan, keluarga, atau pencapaian. Ada orang yang merasa dirinya berharga karena memiliki posisi tinggi. Ada yang minder karena merasa tidak memiliki apa-apa. Tetapi Firman Tuhan mengingatkan bahwa identitas orang percaya tidak ditentukan oleh dunia. Nilai diri kita ditentukan oleh kasih Allah yang menerima kita sebagai anak-anak-Nya.
Namun Yohanes juga mengatakan sesuatu yang menarik. "Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia."
Artinya, jangan heran jika kehidupan orang percaya sering kali berbeda dengan cara dunia berpikir. Dunia mungkin tidak memahami mengapa kita memilih jujur ketika orang lain berbuat curang.
Dunia mungkin tidak mengerti mengapa kita mengampuni ketika disakiti. Dunia mungkin menganggap aneh ketika kita lebih mengutamakan pelayanan daripada keuntungan pribadi.
Mengapa? Karena dunia tidak mengenal Allah. Ketika seseorang tidak mengenal Sang Bapa, ia juga tidak akan memahami kehidupan anak-anak-Nya.
Saudara-saudari, Bagian Firman ini juga memperlihatkan apa yang sering disebut para teolog sebagai ketegangan already but not yet—"sudah, tetapi belum."
Kita sudah menjadi anak-anak Allah hari ini. Status itu tidak perlu ditunggu sampai nanti di surga. Namun, kemuliaan penuh sebagai anak-anak Allah belum sepenuhnya dinyatakan. Yohanes berkata bahwa ketika Kristus datang kembali, kita akan menjadi serupa dengan Dia, karena kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
Artinya, hidup orang percaya berada di antara dua kenyataan. Kita telah menerima keselamatan, tetapi masih hidup di dunia yang penuh dosa. Kita telah menjadi milik Allah, tetapi masih menghadapi pencobaan. Kita telah menerima hidup baru, tetapi masih terus bertumbuh menuju kesempurnaan.
Karena itulah Yohanes melanjutkan dengan berkata, "Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci." (ayat 3)
Kata "menyucikan" berasal dari kata Yunani hagnizei, yang menunjukkan tindakan yang terus-menerus dilakukan. Kekudusan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan proses sepanjang hidup.
Inilah yang perlu kita pahami. Kita tidak hidup benar supaya Allah mau mengangkat kita menjadi anak-Nya. Sebaliknya, karena kita sudah menjadi anak-anak Allah, maka kita terdorong untuk hidup benar.
Perbedaannya sangat besar. Seorang anak tidak perlu bekerja keras agar diakui sebagai anak dalam keluarganya. Ia sudah menjadi anak sejak awal. Tetapi sebagai anak yang mengasihi orang tuanya, ia akan belajar hidup sesuai nilai-nilai keluarga tersebut.
Demikian pula kehidupan rohani kita. Kasih Allah mendahului segala usaha kita. Allah menerima kita terlebih dahulu. Dari penerimaan itulah lahir ketaatan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Jika memakai ilustrasi di awal, kita dapat mengatakan bahwa Allah adalah "CEO" dari "Perusahaan Kasih". Kita adalah anak-anak-Nya sekaligus pewaris Kerajaan Allah. Namun ada perbedaan besar antara kerajaan Allah dan cara dunia memahami hak istimewa.
Di dunia, status sering dipakai untuk memperoleh keuntungan. Orang yang memiliki jabatan merasa boleh diperlakukan istimewa. Orang yang memiliki kekuasaan kadang memanfaatkan kedudukannya demi kepentingan pribadi.
Namun di dalam Kerajaan Allah, hak istimewa justru menjadi panggilan untuk melayani. Teolog Miroslav Volf dalam bukunya Exclusion and Embrace mengingatkan bahwa dunia cenderung membangun tembok-tembok pemisah. Manusia ingin menjadi "tuan" yang menentukan siapa yang layak diterima dan siapa yang harus disingkirkan. Akibatnya lahirlah diskriminasi, kebencian, permusuhan, dan ketidakadilan.
Kristus menunjukkan jalan yang berbeda. Sebagai Anak Allah, Yesus justru datang merendahkan diri. Ia mendekati orang berdosa, menyentuh orang sakit, menerima mereka yang ditolak masyarakat, bahkan menyerahkan hidup-Nya bagi musuh-musuh-Nya.
Jika kita benar-benar adalah anak-anak Allah, maka karakter Bapa harus semakin terlihat dalam hidup kita.
Artinya, kita tidak memakai identitas sebagai orang percaya untuk merasa lebih suci daripada orang lain. Sebaliknya, kita dipanggil merangkul mereka yang terluka, menghibur yang berduka, memperhatikan yang miskin, menerima yang tersisih, dan menjadi pembawa damai di tengah dunia yang penuh perpecahan.
Kasih Allah tidak membuat kita hidup eksklusif. Kasih Allah mengutus kita untuk menjadi berkat.
Saudara-saudari, Bagaimana kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah?
Pertama, hiduplah dalam kesadaran akan identitas kita. Jangan biarkan dunia menentukan nilai diri kita. Kita berharga karena dikasihi Allah.
Kedua, hiduplah dalam proses penyucian yang terus-menerus. Setiap hari kita belajar meninggalkan dosa, memperbaiki karakter, mengampuni sesama, dan semakin menyerupai Kristus. Kekudusan bukanlah kesempurnaan instan, melainkan perjalanan seumur hidup bersama Tuhan.
Ketiga, hiduplah dalam kasih yang nyata. Kasih tidak cukup hanya diucapkan. Kasih harus terlihat melalui kepedulian, kejujuran, pengampunan, kerendahan hati, dan pelayanan kepada sesama.
Keempat, hiduplah dalam pengharapan. Dunia mungkin tidak mengenal atau menghargai kita, tetapi Allah mengenal kita. Mungkin kita mengalami penolakan karena memilih hidup benar, tetapi kemuliaan yang Allah sediakan jauh lebih besar daripada penderitaan yang kita alami saat ini.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Marilah kita terus mengingat siapa diri kita. Kita bukan sekadar orang yang datang beribadah setiap minggu. Kita adalah anak-anak Allah. Kita adalah bagian dari keluarga besar Allah. Kita adalah pewaris Kerajaan-Nya.
Karena itu, jangan gunakan identitas ini untuk meninggikan diri, melainkan untuk semakin merendahkan hati. Jangan mencari hak istimewa, tetapi carilah kesempatan melayani. Jangan mengecualikan orang lain, tetapi bukalah tangan untuk merangkul mereka dengan kasih Kristus.
Kiranya setiap hari hidup kita semakin memancarkan karakter Sang Bapa, sehingga dunia dapat melihat kasih Allah melalui perkataan, sikap, dan tindakan kita. Dan sambil menantikan kedatangan Kristus kembali, marilah kita terus menyucikan diri, hidup dalam kasih, dan setia berjalan sebagai anak-anak Allah. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur karena Engkau telah menjadikan kami anak-anak-Mu melalui Yesus Kristus. Tolong kami hidup sesuai identitas kami, bertumbuh dalam kekudusan, serta memancarkan kasih kepada sesama. Pimpin kami dengan Roh Kudus agar tetap setia sampai akhir. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow