PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 3:19-24
TEMA: HAK UNTUK BERDOA
"Saudara-saudara yang terkasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, kita mempunyai keberanian untuk mendekati Allah."
(1 Yohanes 3:21)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita memahami bahwa akses kepada seseorang yang memiliki kedudukan tinggi biasanya tidak mudah. Semakin besar tanggung jawab dan jabatan seseorang, semakin banyak pula orang yang ingin bertemu dengannya. Sering kali diperlukan prosedur tertentu, izin khusus, atau orang yang menjadi penghubung agar seseorang dapat menyampaikan maksudnya.
Dalam perjalanan pelayanan, ada sebuah pengalaman menarik ketika penulis mendampingi proses pemilihan hingga pelantikan ketua Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (P3UW). Ketua terpilih saat itu merupakan warga jemaat GPIB Makedonia Dipasena Lampung.
Sejak kepemimpinan beliau, salah satu perubahan yang dirasakan masyarakat adalah keterbukaan akses. Siapa pun dapat datang, menyampaikan persoalan, dan bertemu langsung dengan pimpinan.
Seorang petambak pernah berkata, "Kami merasa lebih tenang dan nyaman, Pak Pendeta, karena sekarang lebih terbuka. Kami bisa meminta bantuan langsung kepada ketua."
Perubahan tersebut memberikan gambaran sederhana tentang arti sebuah akses. Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk datang dan berbicara langsung kepada pemimpin, ada rasa aman dan kepercayaan yang muncul.
Firman Tuhan hari ini berbicara tentang sebuah akses yang jauh lebih besar, yaitu kesempatan manusia untuk datang mendekat kepada Allah. Melalui kasih dan anugerah-Nya, kita memiliki hak untuk berdoa.
Namun, menariknya, Yohanes memulai pembahasannya bukan dengan langsung berbicara tentang doa, tetapi tentang kondisi hati manusia. "Jikalau hati kita tidak menuduh kita, kita mempunyai keberanian untuk mendekati Allah."
Mengapa hati menjadi bagian yang penting? Dalam pemahaman Alkitab, hati (kardia) bukan hanya berbicara tentang perasaan atau emosi. Hati adalah pusat kehidupan manusia: tempat pikiran, kehendak, keputusan, dan kesadaran berada. Hati dapat menjadi tempat manusia mendengar suara kebenaran, tetapi hati juga dapat menjadi tempat munculnya tuduhan yang sangat berat.
Ada saat ketika hati menjadi penasihat yang baik, mengingatkan kita ketika melakukan kesalahan. Tetapi ada juga saat ketika hati menjadi seperti seorang penuduh yang terus-menerus menghakimi dan membuat seseorang merasa tidak layak datang kepada Tuhan.
Banyak orang hidup dengan beban tuduhan dalam dirinya. Mereka mengingat kesalahan masa lalu. Mereka merasa tidak cukup baik di hadapan Tuhan. Mereka merasa terlalu berdosa untuk berdoa. Mereka berkata dalam hati, "Apakah Tuhan masih mau mendengar saya? Apakah Tuhan masih menerima saya?"
Perasaan seperti ini dapat membuat seseorang menjauh dari Allah. Namun Yohanes memberikan kabar baik. Dasar keberanian kita untuk datang kepada Allah bukan karena kita sudah sempurna. Keberanian kita bukan berasal dari prestasi rohani kita, melainkan dari kasih karunia Allah.
Sebelumnya, Yohanes telah mengingatkan bahwa kita telah berpindah dari maut kepada hidup melalui kasih Allah. Artinya, identitas kita tidak lagi ditentukan oleh dosa masa lalu, tetapi oleh karya Kristus yang telah menebus dan memperbarui kita.
Ketika Kristus mengampuni kita, tuduhan terbesar terhadap hidup kita telah diselesaikan. Kita tidak lagi datang kepada Allah sebagai orang asing atau musuh, tetapi sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya.
Karena itu Yohanes berkata bahwa kita memiliki keberanian untuk mendekati Allah. Kata yang digunakan Yohanes adalah parrhesia. Dalam konteks dunia kuno, kata ini memiliki makna kebebasan berbicara secara terbuka di hadapan seseorang yang memiliki kuasa. Seorang warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya di hadapan pemimpin.
Yohanes menggunakan gambaran ini untuk menjelaskan hubungan orang percaya dengan Allah. Melalui Kristus, kita memiliki kebebasan untuk datang kepada Allah. Kita tidak perlu bersembunyi. Kita tidak perlu takut ditolak. Kita dapat mencurahkan isi hati kita melalui doa.
Saudara-saudari, Doa adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. Melalui doa, kita dapat berbicara kepada Sang Pencipta alam semesta. Kita dapat membawa pergumulan, ketakutan, harapan, dan ucapan syukur kita kepada-Nya.
Namun, memiliki hak untuk berdoa bukan berarti kita memiliki kuasa untuk memerintah Tuhan.
Kadang-kadang manusia salah memahami doa. Kita menganggap doa sebagai cara untuk membuat Tuhan mengikuti keinginan kita. Kita datang kepada Tuhan hanya untuk meminta apa yang kita inginkan, lalu kecewa ketika jawaban Tuhan tidak sesuai dengan harapan.
Padahal doa bukanlah alat untuk mengubah kehendak Tuhan agar sesuai dengan kehendak kita. Doa adalah sarana agar hati kita dibentuk sehingga semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.
Seorang anak kecil yang dekat dengan orang tuanya akan berbicara dengan bebas. Ia dapat meminta sesuatu, menceritakan masalahnya, bahkan menyampaikan keinginannya. Tetapi hubungan yang dekat tidak berarti orang tua harus memberikan semua yang diminta. Orang tua yang mengasihi anaknya akan memberikan yang terbaik, bukan selalu memberikan apa yang anaknya inginkan.
Demikian pula hubungan kita dengan Allah. Tuhan mendengar doa kita, tetapi dalam kasih-Nya Ia juga membentuk kita. Ketika kita hidup dalam ketaatan kepada Firman-Nya, perlahan-lahan keinginan kita akan diselaraskan dengan kehendak-Nya.
Inilah yang Yohanes tekankan dalam ayat 22: "Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya."
Ayat ini bukan berarti Tuhan hanya menjawab doa orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Sebaliknya, Yohanes berbicara tentang hubungan yang dekat dengan Allah. Ketika seseorang hidup dalam kasih dan ketaatan, ia semakin mengenal hati Tuhan.
Semakin kita mengenal Tuhan, semakin doa kita berubah. Kita tidak lagi hanya berkata, "Tuhan, berikan apa yang saya mau," tetapi juga belajar berkata, "Tuhan, bentuklah saya agar menginginkan apa yang Engkau kehendaki."
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kehidupan doa adalah tanda hubungan yang dekat dengan Allah. Orang yang mengenal Tuhan akan memiliki kerinduan untuk datang kepada-Nya.
Karena itu, jangan biarkan rasa bersalah yang tidak diselesaikan menjauhkan kita dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya. Akuilah kesalahan kita. Terimalah pengampunan-Nya.
Jangan pula menjadikan doa hanya sebagai tempat meminta pertolongan ketika menghadapi masalah. Jadikan doa sebagai ruang persekutuan, tempat kita mengenal hati Allah dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya.
Betapa indahnya hidup ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Kita dapat datang kepada-Nya bukan karena kita layak, tetapi karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita.
Hari ini kita diingatkan bahwa melalui Yesus Kristus, pintu kepada Allah telah terbuka. Kita memiliki hak untuk berdoa. Kita memiliki keberanian untuk mendekat. Kita memiliki Bapa yang selalu mendengar.
Kiranya hidup kita semakin dipenuhi dengan doa yang bukan hanya mencari jawaban Tuhan, tetapi juga mencari kehendak Tuhan. Sebab di dalam kedekatan dengan-Nya, kita menemukan damai, kekuatan, dan kehidupan yang sejati. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur karena melalui Kristus Engkau membuka jalan bagi kami untuk datang kepada-Mu dalam doa. Tenangkan hati kami dari segala tuduhan dan ketakutan. Ajarlah kami hidup dalam ketaatan, kasih, dan kehendak-Mu, sehingga setiap doa kami semakin selaras dengan hati-Mu. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow