Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 13 Agustus 2026, Efesus 5:1-5  Mulut Yang Mengucap Syukur

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:30 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Efesus  5:1-5
TEMA: MULUT YANG MENGUCAP SYUKUR

“Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono—karena hal-hal ini tidak pantas—tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” (Efesus 5:4)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup pada zaman ketika komunikasi menjadi semakin mudah. Dahulu, untuk berbicara dengan seseorang yang jauh, kita membutuhkan surat atau harus menunggu kesempatan bertemu. Sekarang, hanya dengan sebuah telepon genggam, kita dapat mengirim pesan kepada siapa saja dalam hitungan detik.

Teknologi telah membuat komunikasi menjadi cepat dan luas. Namun, ada satu persoalan yang tetap sama: apa yang keluar dari mulut dan tulisan kita menunjukkan siapa diri kita.

Jari kita mungkin yang mengetik, tetapi hati kitalah yang sesungguhnya berbicara. Karena itu, firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk memeriksa kembali perkataan kita. Paulus berkata, “Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono—karena hal-hal ini tidak pantas—tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.”

Nasihat ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Beberapa waktu lalu, publik Indonesia dikejutkan oleh dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui percakapan digital.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengecam kasus tersebut karena percakapan yang beredar memuat pembahasan dan perendahan perempuan secara seksual, termasuk terhadap mahasiswi dan dosen.

Kasus seperti ini mengingatkan kita bahwa perkataan bukanlah sesuatu yang sepele. Perkataan yang dianggap hanya candaan oleh seseorang dapat menjadi penghinaan dan luka yang mendalam bagi orang lain.

Kadang-kadang kita berkata, “Itu kan cuma bercanda.” Tetapi pertanyaannya: Apakah semua yang membuat kita tertawa pantas diucapkan? Apakah karena sebuah percakapan terjadi di ruang privat, maka kita bebas mengatakan apa saja? Apakah karena orang yang menjadi sasaran tidak mendengarnya secara langsung, maka perkataan itu tidak salah?

Firman Tuhan memberikan jawaban yang jelas: ada perkataan yang “tidak pantas”.

Pertama, perkataan mencerminkan isi hati. Paulus dalam bagian ini menghubungkan perkataan dengan kehidupan moral orang percaya. Ia berbicara mengenai percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, perkataan kosong, dan lelucon yang tidak pantas.

Dengan demikian, masalah perkataan sebenarnya bukan hanya masalah bahasa. Masalah perkataan berhubungan dengan hati.

Apa yang sering kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita katakan. Apa yang kita simpan dalam hati pada akhirnya dapat keluar melalui perkataan.

Karena itu, ketika mulut seseorang terus-menerus mengucapkan kebencian, penghinaan, fitnah, kecabulan, atau perkataan yang merendahkan orang lain, kita perlu menyadari bahwa ada persoalan yang lebih dalam daripada sekadar pilihan kata.

Yesus sendiri berkata bahwa apa yang keluar dari mulut berasal dari hati. Maka, kekristenan tidak hanya mengajarkan kita untuk mengganti kata-kata kasar dengan kata-kata yang lebih sopan. Kristus ingin mengubah hati, sehingga perkataan kita pun mengalami perubahan.

Orang yang hatinya dipenuhi kasih akan menghasilkan perkataan yang membawa kasih. Orang yang hatinya dipenuhi syukur akan lebih mudah mengucapkan syukur. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri hati, kebencian, kesombongan, atau hawa nafsu akan mudah menghasilkan perkataan yang melukai.

Karena itu, sebelum kita bertanya, “Bagaimana supaya saya berbicara lebih baik?”, kita perlu bertanya, “Apa yang sedang memenuhi hati saya?”

Kedua, perkataan yang dianggap bercanda dapat melukai martabat sesama. Salah satu persoalan dalam kehidupan kita adalah kecenderungan menormalisasi perkataan yang tidak pantas dengan alasan bercanda.

Candaan memang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kita tertawa bersama keluarga, teman, dan rekan kerja. Humor dapat menjadi sarana untuk mencairkan suasana dan membangun keakraban.

Namun, tidak semua humor adalah humor yang sehat. Ada candaan yang menjadikan tubuh seseorang sebagai objek. Ada candaan yang menghina kondisi fisik. Ada candaan yang merendahkan perempuan atau laki-laki. Ada candaan yang mempermalukan orang miskin, orang tua, penyandang disabilitas, atau kelompok tertentu.

Ketika seseorang terluka, lalu kita menjawab, “Jangan baper, cuma bercanda,” mungkin persoalannya bukan pada orang yang terlalu sensitif. Bisa jadi kitalah yang tidak cukup peka terhadap martabat sesama.

Setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya, ketika kita merendahkan manusia lain, kita sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki martabat yang diberikan oleh Allah.

Karena itu, orang Kristen tidak boleh menjadikan penghinaan sebagai hiburan. Kita tidak boleh membangun keakraban dengan cara merendahkan orang lain. Kita tidak boleh mencari tawa dengan mengorbankan martabat sesama.

Ketiga, orang percaya dipanggil bukan hanya menghindari perkataan buruk, tetapi menggantinya dengan ucapan syukur.Ini bagian yang sangat menarik dari nasihat Paulus. Paulus tidak berhenti dengan mengatakan, “Jangan berkata kotor.” Ia melanjutkan, “Tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.”

Artinya, kehidupan Kristen bukan hanya kehidupan yang penuh larangan. Kekristenan bukan sekadar “jangan melakukan ini” dan “jangan melakukan itu”.

Ada sesuatu yang harus menggantikan perkataan lama. Perkataan kotor digantikan dengan perkataan yang membangun. Perkataan kosong digantikan dengan perkataan yang bermakna. Perkataan sembrono digantikan dengan perkataan yang penuh kasih.

Dan semuanya bermuara pada ucapan syukur. Ucapan syukur mengubah cara kita memandang kehidupan. Orang yang bersyukur tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa dirinya berharga. Orang yang bersyukur tidak perlu menyebarkan gosip untuk mendapatkan perhatian.

Orang yang bersyukur tidak perlu membuat candaan vulgar untuk diterima dalam kelompok. Sebab ia tahu bahwa hidupnya sendiri adalah anugerah Allah. Karena itu, mulut yang mengucap syukur bukan hanya mulut yang berkata, “Terima kasih Tuhan.”

Mulut yang mengucap syukur juga adalah mulut yang mampu berkata: “Maaf.” “Terima kasih.” “Saya menghargai kamu.” “Semangat.” “Saya akan membantu.” “Jangan menyerah.” “Saya mendoakanmu.”

Betapa berbeda dunia ini jika semakin banyak orang menggunakan mulutnya untuk menguatkan daripada menjatuhkan.

Keempat, kita harus bertanggung jawab atas perkataan di era digital.

Saudara-saudara, Dahulu kita mungkin berpikir bahwa perkataan hanya hilang setelah diucapkan. Tetapi di era digital, sebuah perkataan dapat disimpan, disalin, diteruskan, dan disebarkan kepada ribuan orang.

Karena itu, kita perlu memiliki etika Kristen dalam menggunakan media sosial dan ruang percakapan digital. Sebelum mengirim sebuah pesan, tanyakan: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini membangun? Apakah saya akan tetap berani mengatakan hal yang sama jika orang yang dibicarakan ada di depan saya?

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat menyelamatkan kita dari banyak persoalan. Jangan pernah menganggap bahwa ruang digital adalah ruang tanpa Tuhan. Apa yang kita tulis di grup WhatsApp, komentar media sosial, pesan pribadi, atau forum daring tetap berada di bawah tanggung jawab moral kita sebagai pengikut Kristus.

Karena itu, jangan menggunakan teknologi untuk memperluas kebencian, penghinaan, fitnah, atau pelecehan. Gunakanlah teknologi untuk menyebarkan kebaikan.

Kelima, menjaga perkataan adalah bagian dari kesaksian iman.

Orang mungkin tidak membaca Alkitab yang kita bawa. Mereka mungkin tidak pernah datang ke gereja bersama kita. Tetapi mereka akan melihat bagaimana kita berbicara.

Mereka akan mendengar cara kita berbicara kepada pasangan. Mereka akan mendengar bagaimana kita berbicara kepada anak.

Mereka akan melihat bagaimana kita memperlakukan bawahan, rekan kerja, orang yang berbeda pendapat, dan orang yang tidak memiliki kuasa. Di sanalah iman kita diuji.

Sebab kesaksian Kristen bukan hanya tentang apa yang kita katakan mengenai Kristus, tetapi juga tentang bagaimana Kristus terlihat melalui perkataan kita.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Mulut kita dapat menjadi alat untuk melukai, tetapi juga dapat menjadi alat untuk menyembuhkan. Mulut kita dapat menyebarkan kebencian, tetapi juga dapat menyebarkan kasih.

Mulut kita dapat mempermalukan, tetapi juga dapat mengembalikan martabat seseorang. Mulut kita dapat mengeluh, tetapi juga dapat mengucap syukur. Hari ini Tuhan mengundang kita untuk memilih.

Ketika ada kesempatan untuk menghina, pilihlah menghormati. Ketika ada kesempatan untuk bergosip, pilihlah diam. Ketika ada kesempatan untuk menyebarkan kebencian, pilihlah kasih. Ketika ada kesempatan untuk membuat candaan yang merendahkan, pilihlah humor yang sehat.

Dan ketika kita menerima begitu banyak alasan untuk mengeluh, belajarlah mengucap syukur. Mari kita ingat bahwa manusia yang ada di hadapan kita adalah ciptaan Allah. Karena itu, jangan jadikan sesama sebagai objek hiburan, objek seksual, objek penghinaan, atau objek pelampiasan emosi.

Marilah kita menjaga mulut kita karena mulut adalah bagian dari kesaksian iman kita. Kiranya hati kita dipenuhi Kristus, sehingga perkataan kita pun memancarkan kasih Kristus.

Kiranya setiap kata yang keluar dari mulut kita tidak menjadi sumber luka, melainkan menjadi sumber penghiburan. Tidak menjadi sumber kebencian, melainkan sumber kasih.

Tidak menjadi sumber penghinaan, melainkan sumber penghargaan. Dan tidak menjadi perkataan yang kotor, kosong, atau sembrono, melainkan menjadi ucapan syukur kepada Allah.

Sebab orang yang menyadari betapa besar kasih karunia Allah dalam hidupnya akan belajar menggunakan mulutnya bukan untuk merendahkan ciptaan Allah, melainkan untuk memuliakan Sang Pencipta.

Maka, marilah kita menjaga mulut kita. Bukan hanya supaya kita tidak berkata buruk, tetapi supaya melalui perkataan kita, orang lain dapat merasakan kebaikan Kristus.

“Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong, atau yang sembrono—karena hal-hal ini tidak pantas—tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.”

Kiranya itulah yang menjadi ciri kehidupan kita sebagai umat Tuhan. Mulut yang mengucap syukur, hati yang penuh kasih, dan kehidupan yang memuliakan Allah. Amin.

 

Doa : Ya Tuhan, kuduskanlah hati dan perkataan kami. Ajarlah kami menggunakan mulut untuk mengucapkan syukur, membangun, menguatkan, dan menghormati sesama. Jauhkan kami dari perkataan kotor, sia-sia, dan sembrono. Berikan hikmat agar setiap perkataan kami mencerminkan kasih Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT