Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 14 Agustus 2026, Efesus 5:11-14  Tidak Mengambil Bagian Dalam Perbuatan Kegelapan

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:49 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Efesus 5:11-14
TEMA: TIDAK MENGAMBIL BAGIAN DALAM PERBUATAN KEGELAPAN

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Efesus 5:11)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan pilihan antara melakukan apa yang benar atau mengikuti sesuatu yang sebenarnya kita tahu salah. Tidak selalu mudah untuk berkata “tidak”. Apalagi ketika ajakan tersebut datang dari orang-orang yang dekat dengan kita, teman sepergaulan, rekan kerja, bahkan orang-orang yang kita hormati.

Ada orang yang awalnya hanya diajak untuk mencoba. Mungkin hanya sebuah candaan, sebuah kebohongan kecil, sebuah tindakan yang dianggap sepele, atau sekadar ikut-ikutan. Namun, karena tidak mampu berkata “tidak”, ia akhirnya terlibat semakin jauh. Yang awalnya hanya mengikuti teman, akhirnya menjadi kebiasaan. Yang awalnya hanya sebuah kesalahan kecil, berkembang menjadi perbuatan yang lebih besar.

Tidak sedikit orang kemudian merasa terjebak. Ia tahu bahwa yang dilakukannya salah, tetapi merasa sulit untuk keluar. Kesenangan, keuntungan, penerimaan kelompok, atau kenyamanan duniawi membuat seseorang terus bertahan dalam keadaan tersebut.

Dalam situasi seperti inilah firman Tuhan mengingatkan kita: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan.”

Paulus tidak mengatakan bahwa orang percaya harus hidup tanpa berhadapan dengan kegelapan. Kita tetap hidup di dunia yang penuh dengan berbagai godaan. Tetapi kita dipanggil untuk tidak mengambil bagian di dalamnya.

Ada perbedaan besar antara berada di tengah kegelapan dan menjadi bagian dari kegelapan.

Kita mungkin bekerja bersama orang yang tidak seiman. Kita mungkin bertetangga dengan orang yang memiliki nilai hidup berbeda. Kita hidup dalam masyarakat yang tidak selalu mengikuti kehendak Allah. Kita bahkan menggunakan teknologi dan media sosial yang di dalamnya terdapat banyak hal yang baik sekaligus buruk.

Namun, kehadiran kita di tengah dunia tidak berarti kita harus mengikuti semua pola kehidupan dunia.

Pertama, jangan mengambil bagian dalam kegelapan karena kegelapan menjauhkan kita dari Allah.

Paulus menggunakan istilah “kegelapan” untuk menggambarkan kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kegelapan bukan hanya berbicara tentang kejahatan yang tampak besar. Kegelapan juga dapat hadir melalui hal-hal yang perlahan-lahan kita anggap biasa.

Kebohongan yang terus diulang dapat menjadi karakter.
Kebencian yang dipelihara dapat menjadi kepahitan.
Keserakahan yang dibiarkan dapat menjadi gaya hidup.
Perkataan kasar yang terus digunakan dapat menjadi kebiasaan.
Kompromi kecil terhadap dosa dapat membuka pintu kepada dosa yang lebih besar.

Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap dosa yang mulai kita normalisasi.

Sering kali manusia tidak jatuh ke dalam dosa besar dalam satu langkah. Ada proses yang panjang. Ada kompromi demi kompromi. Ada keputusan-keputusan kecil yang akhirnya membawa seseorang semakin jauh dari Tuhan.

Itulah sebabnya kita perlu belajar berkata “tidak”.

Tidak kepada ajakan yang membawa kita kepada dosa.
Tidak kepada tekanan kelompok.
Tidak kepada kebiasaan yang merusak diri sendiri dan orang lain.
Tidak kepada keuntungan yang diperoleh melalui ketidakjujuran.
Tidak kepada segala bentuk kompromi yang membuat hati kita semakin jauh dari Tuhan.

Terkadang berkata “tidak” memang membuat kita kehilangan teman. Terkadang kita dianggap aneh. Bahkan mungkin kita dicap terlalu fanatik atau tidak bisa mengikuti zaman.

Tetapi lebih baik kita kehilangan penerimaan manusia daripada kehilangan persekutuan dengan Allah.

Kedua, tidak mengambil bagian dalam kegelapan berarti berani menyatakan bahwa sesuatu itu salah.

Paulus berkata bahwa perbuatan-perbuatan kegelapan bukan hanya harus dihindari, tetapi juga “telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.”

Artinya, orang percaya tidak dipanggil untuk diam ketika melihat ketidakbenaran. Kita dipanggil untuk menghadirkan terang.

Namun, menelanjangi kegelapan tidak berarti mempermalukan orang lain atau merasa diri kita lebih suci. Kita harus melakukannya dengan kasih, kerendahan hati, dan kebenaran.

Ada perbedaan antara menegur karena kasih dan menghakimi karena kesombongan.

Ketika seorang sahabat mulai berjalan ke arah yang salah, kasih membuat kita berani mengingatkannya. Ketika terjadi ketidakadilan, iman membuat kita berani bersuara. Ketika kebohongan menjadi budaya, integritas mendorong kita untuk tetap mengatakan kebenaran.

Tetapi sebelum menegur orang lain, kita juga harus berani memeriksa diri sendiri. Apakah masih ada kegelapan yang kita sembunyikan? Apakah ada kebiasaan yang kita tahu salah tetapi terus kita pertahankan?

Apakah ada dosa yang kita sembunyikan dari keluarga, dari gereja, bahkan dari orang-orang terdekat kita? Di hadapan manusia mungkin kita dapat menyembunyikannya. Tetapi tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah.

Karena itu, firman Tuhan bukan hanya meminta kita untuk melihat kegelapan di luar diri kita, tetapi juga membiarkan terang Kristus menyinari bagian terdalam dari hati kita.

Ketiga, kekudusan bukan sekadar menjauhi dosa, tetapi hidup dalam terang Kristus.

Kadang-kadang kita memahami kekudusan hanya sebagai daftar larangan: jangan melakukan ini, jangan melakukan itu. Padahal kekudusan jauh lebih dalam daripada sekadar menghindari sejumlah perilaku.

Kekudusan menyangkut seluruh kehidupan kita: cara berpikir, berbicara, menggunakan waktu, memperlakukan orang lain, menggunakan uang, menjalankan pekerjaan, membangun relasi, bahkan menggunakan teknologi dan media sosial.

Kekudusan berarti seluruh kehidupan kita semakin diarahkan kepada kehendak Allah.

Karena itu, orang yang hidup dalam terang bukan hanya bertanya, “Apa yang salah?” tetapi juga bertanya, “Apa yang berkenan kepada Tuhan?”

Ini merupakan perubahan yang sangat penting. Kita tidak hidup kudus semata-mata karena takut dihukum. Kita hidup kudus karena kita mengasihi Allah yang terlebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita.

Kekudusan adalah respons terhadap anugerah. Ketika kita menyadari bahwa Kristus telah mengampuni dosa-dosa kita, kita tidak ingin terus hidup dalam dosa yang sama. Ketika kita menyadari bahwa Kristus telah membebaskan kita, kita tidak ingin kembali menjadi hamba kegelapan.

Namun, kita juga harus menyadari bahwa tidak semua orang mampu keluar dari kegelapan hanya dengan kekuatan dirinya sendiri.

Ada orang yang ingin berubah, tetapi merasa terlalu terikat. Ada yang ingin meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi berkali-kali jatuh kembali. Ada yang menyesal, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Dalam keadaan seperti itu, jangan menyerah. Datanglah kepada Tuhan. Mohonlah pengampunan-Nya. Mintalah pertolongan-Nya. Bukalah hati kepada Tuhan dan izinkan terang Kristus masuk ke dalam kehidupan kita.

Sebab keselamatan bukanlah hasil kekuatan manusia semata. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah.

Karena itu, jangan pernah berpikir bahwa masa lalu kita terlalu gelap sehingga Allah tidak mampu meneranginya. Tidak ada kegelapan yang terlalu pekat bagi Kristus.

Keempat, Kristus memanggil kita untuk bangun dari tidur rohani.

Paulus menutup bagian ini dengan perkataan yang sangat kuat: “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Perkataan ini merupakan sebuah panggilan untuk bangun.

Ada orang yang secara fisik hidup, tetapi secara rohani sedang tertidur. Ia masih datang beribadah, tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Ia masih mendengar firman, tetapi tidak lagi membiarkan firman mengubah hidupnya.

Tidur rohani terjadi ketika kita mulai terbiasa dengan dosa. Kita melihat ketidakbenaran tetapi tidak lagi merasa terganggu. Kita mendengar perkataan yang tidak pantas tetapi menganggapnya biasa. Kita melihat ketidakadilan tetapi memilih diam karena tidak mau repot.

Hari ini Kristus memanggil kita: Bangunlah! Bangun dari ketidakpedulian. Bangun dari kompromi dengan dosa. Bangun dari kebiasaan yang merusak. Bangun dari kehidupan yang jauh dari Tuhan.

Dan ketika kita bangun, Paulus berkata, “Kristus akan bercahaya atas kamu.” Betapa indahnya janji ini. Kita tidak diminta menghasilkan terang dari diri kita sendiri. Kristuslah sumber terang itu. Tugas kita adalah membuka diri kepada-Nya dan membiarkan terang-Nya memenuhi kehidupan kita.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang bergumul dengan kegelapan tertentu. Mungkin ada dosa yang belum dapat dilepaskan. Mungkin ada lingkungan yang terus menarik kita kembali. Mungkin ada kebiasaan yang sudah terlalu lama kita pertahankan.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan: jangan mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan. Beranilah berkata “tidak”. Beranilah meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Beranilah mencari pertolongan. Dan yang terutama, datanglah kepada Kristus.

Jangan biarkan rasa bersalah membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan pertobatan. Sebab Kristus tidak hanya menunjukkan kegelapan kita; Ia juga menawarkan terang dan kehidupan baru.

Kiranya kita menjadi umat yang tidak berkompromi dengan kegelapan, tetapi hidup dalam terang Kristus. Bukan hanya untuk keselamatan diri kita sendiri, melainkan agar melalui kehidupan kita, orang lain juga dapat melihat terang Allah.

Sebab ketika kita meninggalkan kegelapan dan hidup dalam terang, hidup kita menjadi kesaksian bahwa Kristus benar-benar sanggup mengubah dan membebaskan manusia.

Maka hari ini, dengarkanlah panggilan Tuhan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Kiranya terang Kristus senantiasa bercahaya dalam hati, keluarga, pekerjaan, pelayanan, pergaulan, dan seluruh kehidupan kita.

Jangan mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan. Hiduplah dalam terang Kristus. Amin.

 

Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur atas terang Kristus yang menerangi kehidupan kami. Berikanlah kekuatan untuk menolak setiap godaan dan tidak berkompromi dengan dosa. Bangunkan kami dari tidur rohani, sucikan hati dan pikiran kami, serta mampukan kami hidup dalam kebenaran dan kekudusan, sehingga menjadi kesaksian bagi sesama. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT