Pembacaan Alkitab: Amsal 17:12-13
Tema: Berbuat Baiklah Senantiasa
Selamat pagi, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Ada pepatah yang sering kita dengar: “Air susu dibalas air tuba.” Pepatah ini menggambarkan sebuah kenyataan yang tidak selalu mudah kita terima: kebaikan yang kita berikan justru dibalas dengan keburukan.
Pernahkah kita mengalaminya? Kita sudah berusaha membantu seseorang dengan tulus, tetapi yang kita terima justru perkataan yang menyakitkan, sikap yang mengecewakan, atau bahkan perlakuan yang tidak baik.
Dalam situasi seperti itu, sangat mudah bagi kita untuk marah, kecewa, bahkan menyimpan dendam. Kita mungkin berpikir, “Kalau dia berbuat jahat kepada saya, mengapa saya harus tetap berbuat baik kepadanya?” Namun, firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda.
Amsal 17:13 berkata: “Siapa membalas kebaikan dengan kejahatan, kejahatan tidak akan menjauh dari rumahnya.” Ayat ini memberikan peringatan yang tegas. Tuhan tidak menghendaki kita membalas kebaikan dengan kejahatan.
Sebab setiap tindakan memiliki konsekuensi. Apa yang kita lakukan bukan hanya berdampak kepada orang lain, tetapi juga dapat kembali memengaruhi kehidupan kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita.
Ada dua hal penting yang dapat kita renungkan dari firman Tuhan ini.
Pertama, cara kita merespons mencerminkan hati kita.
Ketika seseorang berbuat baik kepada kita, sudah sewajarnya kita menghargai dan membalasnya dengan kebaikan. Ketika kita menerima pertolongan, perhatian, kasih, atau pengampunan dari orang lain, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Belajarlah bersyukur dan meneruskan kebaikan itu.
Namun, tantangan yang lebih besar muncul ketika kita diperlakukan tidak baik. Pada saat itulah hati kita diuji. Apakah kita akan membalas dengan kemarahan? Apakah kita akan menyimpan kebencian? Ataukah kita memilih untuk tetap melakukan apa yang baik?
Memang, berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita adalah hal yang mudah. Tetapi tetap berbuat baik ketika kita diperlakukan buruk membutuhkan kekuatan hati. Di situlah karakter dan iman kita terlihat.
Kedua, setiap tindakan kita memiliki dampak yang lebih luas.
Perbuatan kita tidak pernah berhenti hanya pada diri sendiri. Cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain dapat memengaruhi keluarga, sahabat, lingkungan kerja, bahkan komunitas kita.
Bayangkan jika sebuah kebaikan terus diteruskan. Seseorang menolong kita, kita menolong orang lain, dan orang yang kita tolong kemudian melakukan hal yang sama kepada orang lain. Kebaikan itu dapat menjadi seperti mata air yang terus mengalir dan memberi kehidupan bagi banyak orang.
Sebaliknya, ketika keburukan dibalas dengan keburukan, yang terjadi adalah lingkaran yang tidak pernah selesai. Seseorang menyakiti kita, kita membalasnya, lalu ia membalas kembali. Akhirnya, yang tersisa hanyalah luka, permusuhan, dan hubungan yang rusak.
Karena itu, firman Tuhan hari ini mengajak kita memutus lingkaran tersebut. Jangan membiarkan kejahatan menentukan bagaimana kita bersikap. Pilihan untuk berbuat baik tetap ada di tangan kita.
Coba kita renungkan: Kalau kita dibalas baik ketika berbuat baik, itu wajar. Kalau kita tetap berbuat baik ketika diperlakukan buruk, itu luar biasa. Tetapi kalau kita membalas kebaikan dengan kejahatan, itulah yang perlu kita hindari.
Mungkin hari ini kita akan berhadapan dengan situasi yang menguji kesabaran. Mungkin ada perkataan seseorang yang membuat kita tersinggung. Mungkin ada orang yang pernah mengecewakan kita. Mungkin juga ada kebaikan yang sudah kita lakukan tetapi tidak dihargai.
Pada saat itu, ingatlah firman Tuhan dalam Amsal 17:13. Jangan biarkan kekecewaan mengubah hati kita menjadi penuh kepahitan. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Serahkan penghakiman kepada Tuhan dan tetaplah memilih jalan kebaikan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, berbuat baik bukan berarti membiarkan diri kita terus-menerus diperlakukan tidak adil. Berbuat baik berarti memilih untuk tidak membiarkan kejahatan menguasai hati dan tindakan kita. Kita tetap dapat bersikap tegas, tetapi tanpa kebencian. Kita dapat menjaga batas, tetapi tanpa dendam. Kita dapat menegur, tetapi tetap dengan kasih.
Maka, di awal hari ini, marilah kita menjaga hati dan sikap kita. Syukurilah setiap kebaikan yang kita terima. Jangan berhenti pada rasa syukur, tetapi teruskanlah kebaikan itu kepada orang lain.
Kiranya melalui perkataan, sikap, dan tindakan kita, kebaikan Tuhan dapat dirasakan oleh keluarga, sahabat, dan lingkungan di sekitar kita.
Berbuat baiklah senantiasa. Jangan lelah melakukan kebaikan, sebab melalui hidup kita, Tuhan dapat menghadirkan berkat bagi banyak orang. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu. Mampukan kami senantiasa berbuat baik, bahkan ketika kami menerima perlakuan yang tidak baik. Jagalah hati kami dari dendam dan kebencian, serta jadikan hidup kami saluran kasih dan berkat bagi sesama. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow