Pembacaan Alkitab: Amsal 17:16-17
Tema: Sahabat Sejati Dan Saudara Yang Baik
Selamat pagi, sahabat pembaca Sabda GPIB yang dikasihi Tuhan. Dalam kehidupan, kita dapat memiliki banyak kenalan, tetapi belum tentu semuanya menjadi sahabat.
Kita bisa memiliki banyak orang yang hadir ketika keadaan menyenangkan, tetapi ketika masalah datang, barulah kita mengetahui siapa yang sungguh-sungguh peduli kepada kita.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “teman sejati terlihat ketika kita berada dalam kesulitan.” Dalam keadaan senang, mungkin banyak orang bersedia berjalan bersama kita. Tetapi ketika kita mengalami kegagalan, kesedihan, kehilangan, atau persoalan hidup, tidak semua orang bersedia tetap tinggal.
Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan seorang saudara dilahirkan untuk waktu kesesakan.” Ayat ini menggambarkan kepada kita seperti apa kualitas hubungan yang sejati. Sahabat sejati bukan hanya hadir ketika semuanya baik-baik saja. Ia juga hadir ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Namun, sebelum berbicara tentang sahabat, Amsal 17:16 memberikan sebuah pertanyaan yang menarik: “Apakah gunanya uang di tangan orang bodoh untuk membeli hikmat, sedangkan ia tidak berakal budi?”
Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa hikmat tidak dapat dibeli dengan uang. Seseorang dapat memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan hikmat, dapat mendengar nasihat, membaca firman Tuhan, mengikuti persekutuan, bahkan berada di tengah-tengah orang-orang yang bijaksana. Tetapi semua itu tidak akan banyak berarti jika hatinya tidak mau dibentuk.
Pertama, hikmat harus diterima dengan hati yang mau belajar.
Masalah orang bodoh bukan karena ia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi bijaksana. Masalahnya adalah ia tidak memiliki hati untuk menerima hikmat tersebut. Ia mungkin mendengar teguran, tetapi menolaknya.
Ia mungkin mendapatkan nasihat, tetapi menganggap dirinya lebih tahu. Ia ingin menjadi lebih baik, tetapi tidak mau melewati proses yang membutuhkan kerendahan hati.
Dalam kehidupan kita pun demikian. Kadang-kadang Tuhan menghadirkan orang-orang yang menasihati kita. Mungkin pasangan, orang tua, anak, sahabat, rekan pelayanan, atau bahkan seseorang yang lebih muda daripada kita. Tidak semua nasihat terasa menyenangkan. Ada nasihat yang mungkin menyentuh kelemahan dan kesalahan kita.
Tetapi orang yang mau bertumbuh dalam hikmat belajar berkata, “Mungkin Tuhan sedang berbicara kepada saya melalui orang ini.”
Hikmat bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi tentang kesediaan untuk membiarkan Tuhan mengubah hati dan kehidupan kita.
Kedua, hikmat terlihat dalam kesetiaan kepada sesama.
Amsal kemudian membawa kita kepada gambaran tentang seorang sahabat: “Seorang sahabat mengasihi setiap waktu.” Ini adalah gambaran kasih yang tidak bergantung pada keadaan.
Sahabat sejati tidak hanya hadir ketika kita berhasil. Ia tidak hanya datang ketika kita memiliki sesuatu untuk diberikan. Ia tidak meninggalkan kita ketika kita sedang berada dalam kesulitan.
Ketika kita gagal, ia menguatkan. Ketika kita sedih, ia menemani. Ketika kita tersesat, ia mengingatkan. Bahkan ketika kita melakukan kesalahan, sahabat sejati tidak membiarkan kita terus berjalan menuju kehancuran. Ia berani menegur karena ia mengasihi.
Karena itu, persahabatan yang sejati bukan hanya tentang bersenang-senang bersama, tetapi juga tentang kesediaan untuk saling menopang dan membawa satu sama lain semakin dekat kepada Tuhan.
Ketiga, kita dipanggil bukan hanya mencari sahabat yang baik, tetapi menjadi sahabat yang baik.
Sering kali kita bertanya, “Siapa yang akan menolong saya ketika saya mengalami kesulitan?” Tetapi firman Tuhan juga mengajak kita bertanya, “Apakah saya sudah menjadi orang yang hadir ketika sahabat saya membutuhkan pertolongan?”
Jangan hanya berharap memiliki sahabat yang setia. Jadilah sahabat yang setia. Mungkin ada seseorang di sekitar kita yang sedang mengalami pergumulan, tetapi tidak mampu mengungkapkannya.
Ada yang tersenyum di depan kita, tetapi sebenarnya sedang menyimpan kesedihan. Ada yang terlihat kuat, tetapi sebenarnya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Terkadang kita tidak perlu memberikan jawaban yang panjang. Kehadiran kita saja sudah cukup. Sebuah pesan singkat, sebuah telepon, doa bersama, atau sekadar mengatakan, “Saya ada untukmu,” dapat memberikan kekuatan yang besar.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Amsal 17:16-17 mengajarkan bahwa hikmat sejati tidak hanya diketahui, tetapi dihidupi. Orang yang memiliki hikmat akan belajar rendah hati, menerima nasihat, dan menunjukkan kasih melalui tindakan nyata.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah hati kita sungguh-sungguh terbuka untuk menerima hikmat Tuhan? Dan apakah kita sudah menjadi sahabat yang mengasihi setiap waktu?
Kiranya Tuhan menolong kita menjadi pribadi yang tidak hanya mencari sahabat yang baik, tetapi juga menjadi sahabat yang baik. Jadilah orang yang hadir ketika orang lain membutuhkan. Jadilah saudara yang tidak meninggalkan ketika kesesakan datang.
Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar, tetapi juga orang-orang yang memiliki hati yang penuh kasih dan setia.
Kiranya melalui kehidupan kita, Tuhan menghadirkan penghiburan bagi yang sedih, kekuatan bagi yang lemah, dan harapan bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Jadilah sahabat yang sejati dan saudara yang baik. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu. Ajarlah kami memiliki hati yang bijaksana, rendah hati menerima nasihat, dan setia mengasihi sesama. Mampukan kami menjadi sahabat sejati dan saudara yang baik, terutama ketika orang lain menghadapi kesulitan. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow