Pertama-tama, pihak pelapor dituduh melakukan pembohongan publik terkait produk skincare yang mereka klaim berasal dari Negeri Sakura. Padahal, kenyataannya produk tersebut diproduksi di dalam negeri, tepatnya di daerah Cibinong, Bogor, Jawa Barat.
"Di sana mereka memberikan link yang menyebutkan 100 persen produk impor dari Jepang, juga ada pemberitaan media pada tanggal 30 Oktober ketika produk diluncurkan. Mereka mengatakan produk ini berasal dari Negeri Sakura," kata Linna Susanto dalam jumpa pers di Raden Saleh, Jakarta Pusat, Sabtu (22/7).
Awalnya, pihak Mario Teguh percaya bahwa produk skincare tersebut memang berasal dari Jepang. Namun, setelah mengetahui fakta sebenarnya, mereka merasa kecewa.
Alasan kedua, pihak Mario Teguh menemukan bahwa produk skincare yang dilaporkan oleh pihak pelapor ternyata berjamur dan mengeluarkan busa. Linna Susanto terkejut mendengar hal itu, lalu menghubungi pihak pelapor untuk menanyakan kebenarannya. Pihak pelapor mengakui adanya jamur.
"Betul Bu, produk tersebut di tempat kami juga berjamur," cerita Linna menirukan perkataan pihak pelapor.
Linna Susanto juga menceritakan bahwa pihak pelapor mengungkapkan fakta yang lebih mengejutkan. Menurut mereka, ada krim harian yang keluar belatung dan telah dilaporkan ke produsen. Namun, pihak produsen berdalih bahwa belatung tersebut muncul karena kardusnya rusak.
"Padahal rusaknya di cairan, bagaimana mungkin kuman dari kardus bisa masuk ke dalam cairan," ceritanya lebih lanjut.
Setelah mendengar cerita ini, tim Mario Teguh panik dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama.
Baca Juga: Baku Hantam di Lapangan, Bentrokan Antara Pendukung Arsenal dan Manchester United Saat Uji Coba
"Kita tidak ingin melanjutkan karena situasinya sudah terlalu parah. Tapi kami sangat menegur mereka mengapa tidak memberitahu kami sebelum kesepakatan kerja sama terjadi. Ini patut diduga sebagai pembohongan publik," ujar Linna Susanto.
Alasan lainnya, pihak Mario Teguh tidak ingin melanjutkan kerja sama karena tak ingin merugikan orang dengan produk skincare dari pihak pelapor. Mereka lebih mengutamakan kepentingan publik daripada mengejar keuntungan materi dengan melanjutkan kerja sama.
Namun, yang membuat tim Mario Teguh heran adalah bahwa produk tersebut masih tetap dijual secara online.
"Sampai detik ini produknya masih dijual di Shopee dan masih ditulis 'asli Jepang'," ujar Linna. (JPG)
Editor : Tesalonika Pontororing