JagoSatu.com- Stres kronis atau berkepanjangan dikaitkan dengan enam penyebab kematian utama, yakni penyakit jantung, kanker, gangguan paru-paru, kecelakaan, sirosis hati, dan bunuh diri, menurut tulisan kesehatan yang dipublikasikan Grace Jauwena di situs Lifeandhealth.org yang merujuk pada kajian dari National Center for Biotechnology Information (NCBI).
Jauwena menjelaskan bahwa stres secara sederhana merupakan respons yang muncul ketika seseorang dihadapkan pada masalah yang tidak memiliki cukup sumber daya untuk diselesaikan atau dihadapi, dan kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan secara negatif meski seseorang telah menjalani pola makan yang sehat.
Menurutnya, stres merupakan bagian normal dan sehari-hari dari kehidupan, namun ketika berlangsung terus-menerus dan berubah menjadi kronis, kondisi tersebut disebut sebagai distress yang berisiko lebih besar terhadap kesehatan tubuh.
Dampak Stres Kronis terhadap Kesehatan Tubuh
Ia memaparkan bahwa stres kronis dapat memengaruhi hampir seluruh sistem dalam tubuh, karena tubuh terus-menerus berada dalam kondisi respons lawan-atau-lari yang seharusnya hanya berlangsung sementara saat menghadapi ancaman, namun pada kondisi kronis periode tersebut berlangsung berkepanjangan.
Kondisi ini disebut memicu respons imun yang melemahkan efektivitas sistem kekebalan tubuh serta memicu reaksi peradangan, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak diinginkan, gejala pradiabetes, dan gangguan pencernaan, menurut penjelasan dalam tulisan tersebut.
Stres kronis turut dikaitkan dengan reaksi alergi, penyakit asam lambung atau GERD, penyakit radang usus, penyakit jantung koroner, hipertensi, kanker, hingga ketidakseimbangan hormon yang berhubungan dengan kecemasan, depresi, gangguan kesuburan, gangguan menstruasi, dan proses penuaan.
Jauwena menegaskan bahwa kesehatan mental penting untuk diperhatikan karena memengaruhi kualitas hidup, kemampuan menikmati kehidupan, serta kemampuan seseorang untuk berfungsi dan berkontribusi dalam lingkungan sosialnya.
Faktor Pemicu dan Cara Mengelola Stres
Beberapa faktor yang dapat memicu stres menurut tulisan tersebut antara lain pola makan buruk, paparan racun dari lingkungan dan produk rumah tangga, masalah emosional seperti depresi dan kecemasan, tekanan terkait pekerjaan, perubahan besar dalam hidup seperti kehilangan anggota keluarga atau perceraian, serta rasa khawatir berlebihan.
Dalam tulisannya, Jauwena turut membagikan pengalaman pribadinya menghadapi periode stres berat yang membuatnya mengalami vertigo selama dua bulan disertai kecemasan, hingga akhirnya didiagnosis dokter mengalami vertigo yang dipicu kecemasan akibat stres.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membaik seiring situasi yang memicunya mereda, dan sejak itu ia belajar mengelola stres secara lebih efektif meski hasil pemeriksaan darahnya selama ini selalu menunjukkan kondisi normal.
Sejumlah metode yang disebutkan dapat membantu mengelola stres antara lain menumbuhkan rasa syukur untuk mencegah kebiasaan mengeluh, membantu orang lain untuk mengalihkan fokus dari diri sendiri, serta menjalani gaya hidup seimbang yang mencakup olahraga, nutrisi yang tepat, paparan sinar matahari,
istirahat cukup, dan asupan air yang memadai.
Jauwena juga menyebutkan doa dan bacaan rohani sebagai bagian dari rutinitas pribadinya dalam mengelola stres, yang menurutnya memberikan ketenangan di awal hari serta membantunya menjalani aktivitas dengan lebih ringan.
Ia menutup tulisannya dengan menekankan bahwa stres dalam kadar moderat dapat meningkatkan performa seseorang, namun stres kronis yang dibiarkan tanpa penanganan tetap berisiko besar terhadap kesehatan jangka panjang.
Editor : ALengkong