JagoSatu.com - Penyakit autoimun diketahui memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan data medis, sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan, sementara sisanya sekitar 20 persen dialami laki-laki. Fakta ini menunjukkan adanya perbedaan biologis yang signifikan dalam respons tubuh terhadap penyakit tersebut.
Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menjelaskan bahwa risiko autoimun paling banyak ditemukan pada perempuan usia muda atau masa reproduktif. Pada fase ini, sistem kekebalan tubuh berada dalam kondisi sangat aktif, sehingga lebih rentan mengalami gangguan.
Faktor hormonal menjadi salah satu penyebab utama. Hormon estrogen pada perempuan berperan dalam mengatur sistem imun. Ketika terjadi perubahan atau ketidakseimbangan hormon, risiko munculnya penyakit autoimun dapat meningkat. Kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama bagi perempuan yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan, karena autoimun berat dapat membahayakan ibu dan janin.
Secara medis, autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel sehat sebagai ancaman. Sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan parasit justru menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri.
Di Indonesia, jumlah penderita autoimun diperkirakan cukup besar. Jika sekitar dua persen populasi dewasa mengalami kondisi ini, maka jumlahnya bisa mencapai sekitar empat juta orang. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ, seperti kulit, ginjal, paru-paru, hati, pankreas, hingga kelenjar tiroid.
Secara umum, autoimun dibagi menjadi dua jenis, yaitu organ spesifik dan sistemik. Autoimun organ spesifik hanya menyerang satu organ, seperti penyakit Hashimoto pada tiroid. Sementara itu, autoimun sistemik dapat menyerang beberapa organ sekaligus, seperti lupus dan rheumatoid arthritis.
Selain faktor genetik dan hormonal, lingkungan dan stres juga berperan dalam memicu penyakit ini. Polusi udara, pola makan tidak sehat, serta kelelahan fisik dapat memperburuk kondisi. Tekanan psikologis juga menjadi pemicu kambuhnya gejala.
Karena itu, penderita disarankan menjaga pola hidup sehat, cukup istirahat, serta mengelola stres dengan baik. Upaya ini penting untuk membantu mengendalikan gejala dan mencegah penyakit berkembang menjadi lebih parah.
Editor : ALengkong