Mengenal Fenomena Brain Rot di Era Digital serta Dampaknya bagi Kesehatan Mental

ALengkong • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 12:36 WIB
Ilustrasi seorang pria yang sedang bermain handphone.
Ilustrasi seorang pria yang sedang bermain handphone.

JagoSatu.com - Fenomena digital yang dikenal dengan istilah brain rot kini semakin ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial global. Istilah ini merujuk pada kondisi penurunan fungsi kognitif serta kejenuhan mental akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Kelompok muda, khususnya remaja dan anak-anak, menjadi pihak yang paling rentan terpapar arus informasi instan setiap hari.

Paparan konten berdurasi singkat yang monoton secara terus-menerus terbukti memengaruhi cara kerja otak. Para ahli kesehatan mental mulai menyoroti tren ini karena dinilai dapat mengganggu produktivitas serta konsentrasi jangka panjang. Salah satu pemicu utamanya adalah kebiasaan menggulir linimasa media sosial tanpa henti selama berjam-jam.

Algoritma platform digital dirancang untuk menyajikan konten yang memicu kepuasan instan melalui pelepasan dopamin secara berulang. Akibatnya, otak terbiasa dengan rangsangan cepat dan mengalami kesulitan saat harus fokus pada aktivitas yang membutuhkan ketekunan tinggi.

Dampak yang paling umum dirasakan adalah penurunan rentang perhatian (attention span) secara signifikan. Individu menjadi lebih mudah terdistraksi saat belajar atau mengerjakan tugas yang memerlukan konsentrasi mendalam. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat memicu kejenuhan mental, kelelahan emosional, hingga peningkatan tingkat kecemasan.

Beban informasi yang berlebihan di ruang digital membuat sistem saraf kewalahan dalam memproses data secara optimal. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu kualitas tidur serta kesehatan psikologis secara keseluruhan.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan pentingnya pembatasan waktu layar (screen time) secara bijak setiap hari. Mengambil jeda dari paparan dunia digital menjadi langkah awal yang krusial untuk menjaga kesehatan mental. Selain itu, edukasi literasi digital perlu terus ditingkatkan agar masyarakat lebih selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi.

Dengan pengelolaan waktu yang seimbang, dampak negatif dari fenomena kejenuhan digital ini dapat diminimalkan secara efektif.

Editor : ALengkong
brain rot kesehatan mental media sosial Teknologi