JAGOSATU.COM -Waw, harga cabe rawit alias rica di Sulewesi Utara terus menggila.
Laporan yang dirangkum koran ini di berbagai linimasa sosial dan pemberitaan media-media online, termasuk pendataan langsung ke sejumlah pasar, harga rica sudah menembus di atas level psikologis: Rp210 ribu per kilogram!
Harga ini ditemukan di Pasar 23 Maret Kota Kotamobagu, pada Rabu (27/12).
‘’Sebelum Natal harga rica masih Rp170 ribu/kg. Setelah natal malah naik gila-gilaan, jadi Rp210 ribu/kg,’’ tutur sejumlah pedagang.
Para pedagang tidak bisa menghindari kenaikan harga rica yang terus melangit itu. Sebab, pasokan rica di Kotamobagu memang sangat seret. ‘’Stok sangat kurang. Pembeli rebutan. Sementara pemasok menjual ke kami pedaghang eceran dengan harga mencekik leher.
Baca Juga: Kerusuhan di Jayapura, Keluarga Lukas Enembe Minta Maaf Atas Aksi Brutal Massa yang Lakukan Pembakaran
Tidak diambil, kami butuh dagangan, dan pembeli butuh rica sebagai bumbu masak. Ya beginilah akibatnya, harga melonjak tak terkontrol,’’ ujar Renty, warga Genggulang, Kotamobau Utara.
Stok kurang kata Nasbi, salah satu pedagang, karena tidak ada panen rica jelang tahun baru. Jika pun ada itu stok dari luar daerah, terutama dari Gorontalo. ‘’Pas jelang natal, masuk pasokan dari Gorontalo. Harganya masih Rp170 ribu/kg. itu pun ludes hanya sampai sore hari sehari jelang Natal.
Pas setelah natalan, eh malah naik tak terkendali. Makin susah ini,’’ terang pria yang menjadi pedangang keliling dengan sepeda motor itu.
Sebetulnya kawasan Bolmong Raya (BMR) yang di dalamnya termasuk Kotamobagu merupakan salah satu sentra penghasil rica di Sulut.
Akan tetapi saart el nino melanda beberapa bulan silam, tanaman rica banyak yang mati akibat cuaca panas.
Hampir semua petani menanam rica, mengingat gelagat kelangkaan salah satu bahan pokok (bapok) ini sudah terasa sejak paruh 2023.
Akan tetapi tidak bisa dipanen akibat mati diterjang gelombang panas. Kendati juga tetap mengandalkan pasokan rica dari luar, sejatinya untuk lahan di BMR mampu menyuplai kebutuan warga Totabuan. Namun, sekali lagi el nino merusak segalanya.
"Banyak yang menanam tapi banyak mati akibat cuaca panas. Itu salah satu penyebab kelangkaan," kata Rusmin, warga Imandi, Dumoga.
Kendati begitu para pedagang tak menampik bahwa kenaikan harga rica selalu terjadi menjelang hari-hgari besar keagamaan, Baik Idul Fitri, Natalan maupun Tahun Baru. Akan tetapi kenaikannya tidak terlalu tinggi.
Misalnya, harga normal Rp50 ribu, naik di kisaran Rp70-80 ribu. Tapi, pada penghujung 2023 ini, kenaiukan rica dan bapok lainnya sudah sulit terkendali.
Kendati semalah apapun, rica tetap laris dibeli. Sebab, sudah jadi kebutuhan pokok buat warga Sulut.
Kembali ke Manado, Wali Kota Andrei Angouw menegaskan Pemkot akan menggelar operasi pasar khusus cabai rawit (rica) jelang tahun baru. "Ini sudah mepet.
Biar orang bilang terlambat, lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita operasi pasar, ambil rica dari luar. Kirim pakai pesawat," kata Andrei usai penyerahan bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) di Masjid Firdaus Manado, Rabu (27/12).
Dia sudah Memerintahkan Dirut PD Pasar Manado, Lucky Senduk untuk mengupayakan pembelian rica dari luar.
Naik ke Pasar Beriman Tomohon, harga rica menyentuh level Rp190 Ribu Per Kilogram. Padahal sebelum Natal, harganya masih di kisaran Rp130 ribu/kg.
Dari Tomohon ke Bolaang Mongondow Timur, harga rica sudah mencapai Rp Rp200 ribu per kilogram. Kasus gagal panen juga melanda Boltim yang dikenal pula sebagai sentra rica di BMR.
Banyak petani mengeluh, selain mati akibat el nino, saat musim penghujan tiba di awal Desember, penyakit busuk antranoksa menyerang tanaman rica, yang menyebabkan percepatan pembusukan.
Busuk antranoksa merupakan penyakit yang paling sulit untuk ditangani. Penularannya cepat sekali apalagi bila musim hujan. Mirip covid-19 pada manusia.
Rica Surabaya dari Pemprov Sulut
Pemprov Sulut juga melakukan berbagai upaya menstabilkan harga rica. Kadis Pangan Sulut Jemmy Lampus mengatakan sudah mendatangkan rica dari Surabaya dan Makassar. "Kami angkut dengan pesawat hercules dan beberapa lewat penerbangan komersial," katanya Rabu (27/12).
Bila belum juga mencukupi, Pemprov akan terus mendatangkan rica dari berbagai daerah penghasil. Apalagi Permintaan saat ini sangat tinggi sementara stok minim.
"Boleh jadi kebutuhan rica di Sulut tertinggi di Indonesia saat Natal dan Tahun Baru ini,’’ katanya. Pasar murah juga terus digelar. "Kami jual Rp50 ribu per Kg di pasar murah di Tikala Manado saat 23 Desember lalu. Ludes," katanya.
Di TKB Pemprov Jual Rica Rp67 Ribu/Kg
Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemprov Sulut di area Taman Kesatuan Bangsa (TKB) Kelurahaan Pinaesaan, Kota Manado, Jumat (29/12). Kegiatan ini langsung diserbu warga dan rica menjadi buruan utama.
Antrian panjang dan berdesakkan, tapi masyarakat antusias mendapatkan rica dengan harga murah tersebut.
Selain itu, beras premium ukuran 5 kilogram juga menjadi incaran warga dijual Rp50 ribu per karung. GPM juga menjual sejumlah bahan pokok seperti minyak goreng, gula pasir, telur dan sebagainya.
Jokowi Ungkap Biang Kerok Tinggi Harga Rica Presiden Jokowi juga memelototi kenaikan ahrga rica. di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, fluktuasi harga cabai telah terjadi di berbagai daerah, umumnya memang mengalami kenaikan.
Dia menjelaskan biang kerok mahalnya harga cabai karena kurangnya stok cabai di pasar. Hal ini diyakini Jokowi disebabkan oleh fenomena musiman saat curah hujan tinggi membuat banyak produksi cabai yang gagal.
"Memang selalu fluktuasi seperti itu. Pada musim ujan biasanya cabai yang ditanam itu membusuk maka orang produksinya saat musim tertentu, tapi tidak sepanjang tahun," beber Jokowi usai melakukan pembagian BLT El Nino di Manado, Kamis (28/12).
Jokowi mengklaim sudah banyak daerah yang mengalami penurunan harga cabai. Ada daerah yang harga cabainya sudah turun ke Rp 75 ribu per kilogram, namun diakuinya masih banyak juga daerah yang harga cabainya menyentuh Rp 100 ribu per kilogram bahkan lebih.
'Saya cek di Jawa sudah turun sampai ke Rp 75 ribu per kg, tapi di beberapa tempat ada yang harganya di atas Rp 100 ribu. Fluktuasi di beberapa daerah lah," kata Jokowi.(mpd)
Editor : Nur Fadilah